KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena rahmat, karunia, serta taufik
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “pengaruh isi
kurikulum dalam menopang pembelajaran siswa ” ini dengan baik meskipun banyak
kekurangaannya didalmnya. Dan juga kami berterimakasih kepada Bapak Dr. H.
Slamet, M.Ag. selaku dosen mata kuliah Komunikasi Pembelajaran STAI DR. KHEZ
MUTTAQIEN yang telah memberrikan tugas ini kepada kami.
Kami
sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita tentang pengaruh isi kurikulum dalm menopang pembelajaran
siswa. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap ada
kritik dan saran demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan ini yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami mohon kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Purwakarta,
11 Mei 2019
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
Isi
kurikulum hakikatnya terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan berbagai pengalaman
yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya tuntutan
untuk memenuhi hal tersebut, maka para perencana kurikulum sering kali
mengalami berbagai kesulitan dalam menyusun dan merencanakan isi kurikulum yang
relevan dengan tujuan yang hendak dicapai.
Kesulitan
tersebut adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam segala bidang yang semakin
berkembang setiap waktunya, yaitu perubahan dalam bidangsosial, ekonomi,
budaya, politik, dan yang lainnya yang terus berkembang dari tahun ke tahun dan
tidak dapat diimbangi dengan arif dan bijaksana. Oleh karena itu lembaga
sekolah dituntut untuk selalu mengembangkan segala bidang yang ada, termasuk
kurikulum itu sendiri.
Pembentukan
kurikulum yang ideal dan aktual sangat dibutuhkan para siswa dalam
menghadapi tantangan yang telah disebutkan di atas, tidak lain agar mereka
semua bisa mengimbangi kemajuan zaman dengan kemajuan intelektual. Namun tujuan
kurikulum sendiri harus syarat kepentingan umum dan bermanfaat, serta
menampakkan pengaruh positif bagi siswa, guru, serta yang terlibat di dalamnya.
1. Apa
itu kurikulum?
2. Bagaimana
isi kurikulum?
3. Bagaimana
pengaruh isi kurikulum dalam menopang pembelajaran siswa?
1. Mengetahui
isi kurikulum
2. Mengetahui
pengaruh isi kurikulum dalam menopang pembelajaran siswa
Secara
etimologis, istilah kurikulum (curriculum)
berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan currere yang berarti “tempat berpacu”.
Istilah kurikulum ini berasal dari dunia olah raga. Dalam bahasa Prancis,
istilah kurikulum berasal dari kata courier
yang berarti berlari (to run).
Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh seorang pelari dari garis
start sampai dengan garis finish untuk memperoleh medali atau penghargaan.
Jarak yang harus ditempuh tersebut kemudian diubah menjadi program sekolah dan
semua orang yang terlibat didalamnya.
Kurikulum
adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out comes) yang
diharapkan dari suatu pembelajaran (Grayson 1997). Perencanaan tersebut disusun
secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan
instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran. Materi di dalam kurikulum
harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives)
pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Kurikulum
juga dapat diartikan sebagai suatu gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam
praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau
jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang
dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh
program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan. Ditinjau
dari konsep dan pelaksanaannya, maka dikenal tiga macam kurikulum, yaitu
kurikulum ideal, kurikulum aktual, dan kurikulum tersembunyi. Atau biasa
disebut kurikulum tertulis dan kurikulum tidak tertulis tertulis. Kurikulum
tertulis diantaranya kurikulum ideal dan kurikulum yang tidak tertulis ialah
kurikulum tersembunyi (hidden
curriculum).
Kurikulum Ideal,
yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-citakan
sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum.
Kurikulum ideal contohnya seperti Rentjana
Pelajaran 1947, Rentjana
Pelajaran Terurai 1952, Rentjana
Pendidikan 1964, Kurikulum 1968,
Kurikulum 1975,
Kurikulum 1984,
Kurikulum 1994,
Kurikulum 2004 (KBK),Kurikulum 2006 (KTSP),
dan Kurikulum 2013.
Karna dari macam-macam kurikulum ini mereka memiliki tujuan atau memiliki
cit-cita dalam keberhasian belajar siswa. Seperti penjelasan di bawah ini.
a)
Kurikulum 1947
atau Rentjana Pelajaran 1947
Isi kurikulum ini lebih menekankan pada pembentukan
karakter manusia Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa
lain di dunia. Fokusnya tidak menekankan pendidikan pikiran, melainkan hanya pendidikan
watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan
dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan
jasmani.
Rencana
Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut
sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat
dua hal pokok:
1. Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya
2. Garis-garis besar pengajaran (GBP)
Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran dalam
arti kognitif, namun yang diutamakan pendidikan watak atau perilaku (value , attitude) meliputi:
1.
Kesadaran bernegara dan bermasyarakat
2.
Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari
3.
Perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani
b)
Kurikulum 1952
atau Rentjana Pelajaran Terurai 1952
Di dalam kurikulum ini sudah
mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Rencana pelajaran ini memiliki
ciri yaitu setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus
mata pelajaran menunjukkan secara jelas seorang guru mengajar satu mata
pelajaran.
Kurikulum ini lebih
merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952.
“Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata
pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode
1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan
Tanjung Pinang, Riau.
c) Kurikulum 1964 atau Rentjana Pendidikan 1964
Isi kurikulum ini cirinya yaitu pemerintah mempunyai
keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada
jenjang SD sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu
pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keparigelan
(keterampilan), dan jasmani.
Di
penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum
1964. Fokusnya pada pengembangan Pancawardhana yaitu diantaranya Daya cipta, Rasa,
Karsa, Karya, dan Moral.
Mata pelajaran
diklasifikasikan dalam lima kelompok
bidang studi :
a.
Moral
b.
Kecerdasan
c.
Emosional/artistik
d.
Keprigelan
(keterampilan)
e.
Jasmaniah
d)
Kurikulum 1968
Kurikulum
ini bertujuan untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat
jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti,
dan keyakinan beragama.
Cirinya yaitu bermuatan materi pelajaran bersifat
teoritis, tidak berkaitan dengan permasalahan faktual di lapangan, menitik
beratkan pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap
jenjang pendidikan, isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik sehat dan kuat.
Mata
pelajaran pada kurikulum 1968 dapat dilihat berikut ini:
1)
Pengembangan Moral : Pendidikan Kemasyarakatan
dan Pendidikan Agama/budi pekerti
2) Pengembangan
Kecerdasan : Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia, Berhitung, Pemgetahuan
Alamiah
3) Pengembangan
Emosional atau Artistik : Penddidikan Kesenian
4) Pengembangan
Keprigelan : Pendidikan Keprigelan
5) Pengembangan
Jasmani :Penddidikan Nasmani/Kesehatan
e)
Kurikulum 1975
Kurikulum
ini menekankan pendidikan lebih efektif dan efisien. Metode, materi, dan tujuan
pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) yang
dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan
bahasan.
Garis-Garis Besar Program Pengajaran, pada bagian
ini dimuat hal-hal yang berhubungan
dengan program pengajaran, yaitu :
a.
Tujuan Kurikuler, yaitu
tujuan yang harus dicapai setelah mengikuti program pengajaran yang
bersangkutan selama masa pendidikan.
b.
Tujuan Instruksional
Umum, yaitu tujuan yang hendak dicapai dalam setiap satuan pelajaran baik dalam
satu semester maupun satu tahun.
c.
Pokok bahasan yang
harus dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para siswa agar
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
d. Urutan
penyampaian bahan pelajaran dari tahun pelajaran satu ke tahun pelajaran
berikutnya dan dari semester satu ke semester berikutnya.
Mata Pelajaran dalam Kurikulum
tahun 1975 adalah :
1. Pendidikan
agama
6. IPA
2. Pendidikan
Moral Pancasila
7. Olah raga dan kesehatan
3. Bahasa
Indonesia
8. Kesenian
4. IPS
9. Keterampilan khusus
5. Matematika
f) Kurikulum 1984
Di dalam
kurikulum ini posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar yang melakukan
berbagai aktifitas mulai dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan,
hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Mata
pelajaran yang termasuk kelompok inti tersebut adalah :
|
g)
1994 dan
Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum ini menerapkan sistem caturwulan yang
pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi
kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya
sebagai berikut :
·
Pembagian tahapan pelajaran di
sekolah dengan sistem caturwulan
·
Pembelajaran di sekolah lebih
menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi
pelajaran/isi)
·
Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu
yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh
Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus
dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan
kebutuhan masyarakat sekitar.
·
Dalam pelaksanaan kegiatan, guru
hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam
belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru
dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen
(terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.
·
Dalam pengajaran suatu mata
pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan
perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara
pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan
keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
·
Pengajaran dari hal yang konkrit ke
hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang
sederhana ke hal yang komplek.
·
Pengulangan-pengulangan materi yang
dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
Penyempurnaan
kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengahdilaksanakan bertahap, yaitu
tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang. Kurikulum
ini merupakan perpaduan sebelumnya, terutama tahun 1975 dan 1984. Disebabkan
oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat dan super padat, dari muatan
nasional sampai muatan lokal seperti misalnya bahasa daerah, kesenian,
keterampilan daerah, dan lain-lain; perpaduan antara tujuan dan proses ini
dinilai belum berhasil sehingga banyak kritik berdatangan.
h)
Kurikulum 2004
atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
KBK memiliki
ciri-ciri yaitu menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara
individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman,
kegiatan belajar menggunakan pendekatan dan metode bervariasi, sumber belajar
bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
edukatif.
Beberapa keunggulan KBK dibandingkan
kurikulum 1994 adalah :
a.
KBK yang dikedepankan
penguasaan materi hasil dan kompetenasi paradigma
pembelajaran versi UNESCO : learning to know,learning to do,
learning to live together, dan learning to be.
b.
Silabus ditentukan
secara seragam, peran serta guru dan siswa dalam proses pembelajaran, silabus
menjadi kewenagan guru.
c.
Jumlah jam pelajaran 40
jam per minggu 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum bisa
dikurangi.
d.
Metode pembelajaran Keterampilan
proses dengan melahirkan metode pembelajaran PAKEM dan CTL.
e.
Sistem penilaian Lebih
menitik beratkan pada aspek kognitif, penilaian memadukan keseimbangan
kognitif, psikomotorik, dan afektif, dengan penekanan penilaian berbasis kelas
KBK
memiliki empat komponen, yaitu kurikulum dan hasil belajar (KHB), penilaian
berbasis kelas (PBK), kegiatan belajar mengajar (KBM), dan pengelolaan
kurikulum berbasis sekolah (PKBS).
KHB berisi tentang
perencaan pengembangan kompetensi siswa yang perlu dicapai secara keseluruhan
sejak lahir sampai usia 18 tahun. PBK adalah melakukan penilaian secara
seimbang di tiga ranah, dengan menggunakan instrumen tes dan non tes, yang
berupa portofolio, produk, kinerja, dan pencil test. KBM diarahkan pada
kegiatan aktif siswa dala membangun makna atau pemahaman, guru tidak bertindak
sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai motivator yang dapat
menciptakan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar secara penuh dan
optimal.
i)
Kurikulum 2006
atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
Disini pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi
dan kompetensi dasar dan guru dituntut mampu mengembangkan sendiri silabus dan
penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya. Struktur muatan KTSP terdiri atas :
1.
Mata pelajaran
2.
Muatan lokal
3.
Kegiatan pengembangan
diri
4.
Pengaturan beban
belajar
5.
Kenaikan kelas,
penjurusan, dan kelulusan
6.
Pendidikan kecakapan
hidup
7.
Pendidikan berbasis
keunggulan lokal dan global
j)
Kurikulum 2013
Memiliki tiga aspek penilaian, yaitu
aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Memiliki
ciri yaitu dalam materi pembelajarannya terdapat materi yang dirampingkan dan
materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan ada di materi Bahasa
Indonesia, IPS, PPKn, dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah
Matematika. Dalam
kurikulum 2013 memiliki karakteristik diantaranya:
a. Isi atau konten kurikulum yaitu
kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) satuan pendidikan dan
kelas, dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.
b. Kompetensi Inti (KI) merupakan
gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan,
dan keterampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik
untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran.
c. Kompetensi Dasar (KD) merupakan
kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan
untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.
d. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
dijenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada
jenjang pendidikan menengah berimbang antara sikap dan kemampuan intelektual
(kemampuan kognitif tinggi).
e. Kompetensi Inti menjadi unsur
organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses
pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.
f. Kompetensi Dasar yang dikembangkan
didasarkan pada prinsip akumulatif saling memperkuat (reinforced) dan
memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi
horizontal dan vertikal) diikat oleh kompetensi inti.
g. Silabus dikembangkan sebagai
rancangan belajar untuk satu tema (SD). Dalam silabus tercantum seluruh KD
untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut.
h. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut.
Proses Pembelajaran Kurikulum 2013
Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran
intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler;
1. Pembelajaran intra kurikuler
Pembelajaran
intra kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran
dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas, sekolah, dan masyarakat.
Pembelajaran didasarkan pada prinsip berikut :
a. Proses pembelajaran intra-kurikuler
Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS, SMA/MA, dan
SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru.
b. Proses pembelajaran didasarkan atas
prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan
Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted).
Itulah macam- macam kurilukum tertulis atau
bisa disebut denga kurikulum ideal. Karna dari kurikulum ini mereka memiliki
tujuan dan cita-cita. Walupun pada akhirnya dari kurikulu-kurikulum ini selalu
di perbaharui atau diganti sesuai kebutuhan dan mengikuti perkembangan zaman
agar pendidikan di indonesia ini tidak tertinggal oleh zaman.
Lalu Kurikulum Aktual, yaitu
kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan
pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum
aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal.
Kurikulum
dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum
merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam
jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut
secara bertahap dalam belajar mengajar.
Fungsi Kurikulum Ideal
Jadi,
Kurikulum ideal adalah kurikulum yang diharapkan dapat dilaksanakan dan
berfungsi sebagai acuan atau program guru dalam proses belajar mengajar. Karena
kurikulum ini menjadi pedoman bagi guru maka kurikulum ini juga disebut
kurikulum formal atau kurikulum tertulis (written curriculum). Namun
dalam prakteknya pelaksanaan kurikulum ideal mengalami beberapa hambatan dalam
pelaksanaanya. Diantaranya adalah sarana dan prasarana, kemampuan guru serta
kebijaksanaan sekolah/kepala sekolah. Karena hal tersebut maka guru hanya bisa
melakukan kurikulum sesuai dengan keadaan yang ada. Inilah yang disebut
kurikulum Aktual. Semakin jauh jarak antara kurikulum ideal dengan aktual maka
dapat diperkirakan makin buruklah kualitas pendidikan di sekolah tersebut
demikian juga sebaliknya.
Secara
etimologi, hidden curriculum berasal
dari bahasa asing yaitu bahasa inggris yang terdiri dari dua kata yaitu hidden
dan curriculum. Hidden artinya tersembunyi atau terselubung dan curriculum
artinya kurikulum. The hidden curriculum atau
kurikulum tersembunyi atau kurikulum terselubung, secara umum dapat
dideskripsikan sebagai hasil (sampingan) dari pendidikan dalam sekolah atau
luar sekolah, khususnya hasil yang dipelajari tetapi tidak secara tersurat
dicantumkan sebagai tujuan.
a. Hakikat
Kurikulum Tersembunyi
Terdapat dua terminologi mengenai kurikulum, yakni terminologi kurikulum
eksplisit (tertulis) dan implisit (tidak tertulis) atau kurikulum tersembunyi (hidden
curriculum). Untuk pencapaian
tujuan pendidikan terdapat hal-hal yang tidak
terdokumentasikan/direncanakan/diprogramkan atau sifatnya tidak tertulis dan
hal ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Hal-hal inilah yang disebut dengan kurikulum tersembunyi. Hal demikian
sebagaimana yang diungkapkan oleh Dewey (dalam Marsh dan Willis, 1999:9 dalam
Wahidmurni, 2009:2) bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman yang dimiliki
oleh para peserta didik di bawah bimbingan pihak sekolah, baik pengalaman yang
direncanakan maupun yang tidak direncanakan. Sejumlah pengalaman yang kita
kenal dengan hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi
merupakan pengalaman yang tidak direncanakan/diprogramkan seperti mematuhi
peraturan-peraturan sekolah, menjalankan ritual/acara keagamaan, mematuhi
peraturan-peraturan lainnya.
Razali
(Wahidmurni 2009:2) menyebut kurikulum tersembunyi “Karena aktivitas yang
terlibat di dalam kurikulum ini tidak berstruktur, atau dengan kata lain tidak
dirancang. Kebanyakan aktiviti kurikulum jenis ini berlaku di tempat pertemuan
pelajar seperti pusat sukan, asrama, kantin, perpustakaan. Kurikulum
tersembunyi ini dikenali sebagai soft skils atau kemahiran
insaniah. Elemen-elemen di dalam kurikulum ini dizahirkan dan mempunyai suatu
sistem dan struktur yang sistematis dan professional. Antara nilai atau kualiti
yang dikategorikan sebagai kemahiran insaniah di sini adalah kualiti
kepemimpinan, kualiti pembuatan keputusan dan penyelesaian masalah, kualiti
daya pembelajaran, kualiti diri murni (tepat masa, hadir ke kelas, hantar
tugasan tepat janji dan lain-lain) dan kualiti kerja berpasukan”.
Pelaksanaan
kurikulum tersembunyi dalam KTSP dapat digolongkan dalam aktivitas pengembangan
diri yang pelaksanaannya tidak terprogram. Dalam panduan KTSP untuk
pengembangan diri tentang bentuk-bentuk pelaksanaan pengembangan diri
dinyatakan bahwa bentuk-bentuk pelaksanaan pengembangan diri mencakup:
a)
Kegiatan pengembangan diri secara
terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu
untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual, kelompok dan atau
klasikal melalui penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung
konseling, serta kegiatan ekstra kurikuler
b)
Kegiatan pengembangan diri secara
tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut;
·
Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan
terjadwal, seperti: upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan,
pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri;
·
Spontan, adalah kegiatan yang tidak
terjadwal dalam kejadian khusus seperti: pembentukan perilaku memberi salam,
membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat
(pertengkaran); dan
·
Keteladan, adalah kegiatan dalam bentuk
perilaku sehari-hari seperti: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin
membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.
b. Fungsi
Kurikulum Tersembunyi
Walaupun
kurikulum tersembunyi memberikan sejumlah besar pengetahuan pada siswa,
ketidaksamaan yang diakibatkan kesenjangan antar kelas dan status sosial sering
menimbulkan konotasi negatif. Sebagai cara dari kontrol sosial, kurikulum
tersembunyi mempromosikan persetujuan terhadap nasib sosial tanpa meningkatkan
penggunaan pertimbangan rasional dan reflektif. Kurikulum tersembunyi dapat
juga diasosiasikan dengan penguatan ketidaksetaraan sosial, seperti terbukti
dalam perkembangan hubungan yang berbeda terhadap modal yang berdasar pada
jenis kerja dan aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan yang diterapkan
pada siswa jadi berbeda-beda berdasarkan kelas sosialnya.
Sumber
kurikulum tersembunyi sangat beragam, termasuk struktur sosial dari ruang kelas,
latihan otoritas guru, aturan yang mengatur hubungan antara guru dan siswa,
aktivitas belajar standar, penggunaan bahasa, buku teks, alat bantu
audio-visual, berbagai perkakas, arsitektur, ukuran disiplin, daftar pelajaran,
sistem pelacakan, dan prioritas kurikulum. Keragaman dalam sumber ini
menghasilkan perbedaan yang ditemukan saat membandingkan suatu kurikulum
tersembunyi dihubungkan dengan berbagai kelas dan status sosial.
Sementara
materi aktual yang diserap siswa melalui kurikulum tersembunyi adalah sangat
penting, orang yang menyampaikannya menghasilkan investigasi khusus. Hal
tersebut terjadi terutama pada penyampaian pelajaran sosial dan moral dengan
kurikulum tersembunyi, karena karakteristik moral dan ideologi guru dan figur
otoritas lainnya diterjemahkan dalam pelajaran mereka, walau tidak disadarinya.
c. Pendidikan
Nilai dalam Pengembangan Kurikulum Tersembunyi
Hidden curriculum atau
kurikulum tersembunyi merupakan kurikulum yang berkembang secara alamiah atau tidak
direncanakan secara khusus. Menurut Krathwohl (1964:112), proses
pembentukan dan pengembangan nilai-nilai pada anak didik itu
ada lima tahap :
a) Receiving (menyimak dan
menerima). Dalam hal ini anak menerima secara aktif, artinya anak telah
memilih untuk kemudiaj menerima nilai. Jadi pada tahap ini anak baru menerima saja.
b) Responding (menanggapi). Pada tahap
ini anak sudah mulai bersedia menerima dan menanggapi secara aktif. Dalam hal
ini ada tiga tahapan sendiri, yakni manut (menurut), bersedia
menaggapi, dan puas dalam menaggapi.
c) Valuing (memberi nilai), pada tahap ini
anak sudah mulai mampu membangun persepsi dan kepercayaan terkait dengan nilai
yang diterima. Pada tahap ini ada tiga tingkatan yakni : percaya terhadap nilai
yang diterima, merasa terikat dengan nilai dipercayai, dan memiliki keterkaitan
batin dengan nilai yang diterima.
d) Organization, dimana anak mulai mengatur sistem nilai yang ia terima
untuk ditata dalam dirinya dalam konteks perilaku.
e) Characterization, atau
karakterisasi nilai yang ditandai dengan ketidakpuasan seseorang untuk
mengorganisir sistem nilai yang diyakininya dalam hidupnya yang serba mapan,
ajek, dan konsisten.
Dalam pendidikan nilai diharapkan munculnya kesadaran pelaksanaan
nilai-nilai positif dan menghindarkan nilai-nilai negatif.
D.
Implementasi Kurikulum Ideal,
Kurikulum Aktual dan Kurikulum Tersembunyi
Implemnetasi kurikulum adalah penerapan atau
pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya,
kemudian diuji coba dengan pelaksanaan dan pengelolaan, dengan senantiasa
dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta
didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya. Adapun tahapan
implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu:
i.
Pengembangan program, mencakup
program tahunan, semester, bulanan, mingguan, dan harian. Selain itu ada juga
program bimbingan dan konseling atau program remedial.
ii.
Pelaksanaan pembelajaran, pada
hakikatnya pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan
lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang
terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik tersebut.
iii.
Evaluasi, proses yang dilaksanakan
sepanjang proses pelaksanaan kurikulum semester serta penilaian akhir formatif
dan sumatif mencakup penilaian keseluruhan secara utuh untuk keperluan evaluasi
pelaksaaan kurikulum.
Dengan
tahap-tahap tersebut akan tercapai tujuan-tujuan kegiatan yang telah ditetapkan
dalam kurikulum. Hal itu secara otomatis akan meningkatkan pemanfaatan dan
penerapan kurikulum baik yang ideal maupun aktual.
Yang
kita ketahui kurikulum tertulis seperti di Indonesia ini sering berubah- rubah.
Hingga isi kurikulum itupun sering berubah sehingga pengaruh dari perubahan itu
bisa berdampak atau berpengaruh baik dan
buruk bagi mutu pendidikan, namun kita lihat pengaruh dari isi kurikulum terhadap
guru dan siswa dan bahkan terhadap bangsa Indonesia;
1. Pengaruh
terhadap guru :
·
Guru di tuntut
meningkatkan kapasitasnya
Namun
menurut Guru Besar UPI Prof Dr Nanang Fattah mengatakan demikian;“Perubahan kurikulum tidak banyak membawa pengaruh. Terutama pada guru, cara
mengajarnya tidak pernah berubah,”
·
Guru harus mampu beradaptasi
Yakni menerapkan metode dan strategi
mengajar yang sesuai dengan aturan yang baru.
·
Guru juga mendapat peluang mendapat ilmu
pengetahuan lebih banyak
2. Pengaruh terhadap
siswa
Ada dampak positif daan negatif terhadap
siswa, yaitu :
Dimana
dampak positifnya yaitu; Pelajar bisa belajar dengan mengikuti perkembangan
zaman yang semakin maju tapi didukung dengan faktor-faktor seperti kepala
sekolah, guru, tenaga pengajar, siswa
didik bahkan lembaga itu sendiri. Dimana kepala sekolah harus berhubungan baik
dengan atasannya dan membina hubungan baik dengan bawahannya, lalu guru juga
harus bermutu, maksudnya gurunya harus memberi pelajaran yang dapat dicerna
oleh peserta didik, lalu siswa juga harus bermutu,maksudnya siswa dapat belajar
dengan baik,giat belajar serta kritis dalam setiap pelajaran.
Dampak
negatifnya adalah mutu pendidikan menurun dan perubahan kurikulum yang begitu
cepat menimbulkan masalah-masalah baru seperti menurunya prestasi siswa, hal
ini dikarenakan siswa tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran
pada kurikulum yang baru. Perubahan ini juga berdampak pada sekolah dimana visi
dan misi suatu sekolah yang sedang ingin dicapai terganggu dengan perubahan
kurikulum tersebut. Dari dampak negatif ini akan muncul ketika antara kurikulum
tertulis dan kurikulum tidak tertulis tidak memiliki suatu komunikasi yang baik
atau tidak saling melengkapi. Karena dari kurikulum ideal dan aktual harus
memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Seperti, kurikulum ideal isinya
memberikan suatu patokan atau tujuan yang nantinya di dukung oleh kurikulum
aktual yang baik dan tidak ketinggalan juga penggunaan kurikulum tersembunyi (hindden curriculum) seperti penggunaan
isi kurikulum tersebut bagus makan maka peluang keberhasilan belajar siswa akan
labih besar lagi pengaruhnya.
Pengaruh
Positifnya yakni : Mengenalkan terhadap kemajuan zaman,
Menyesuaikan juga dengan menuntut perubahan zaman, Melengkapi kekurangan pada
kurikulum sebelumnya.
Pengaruh
Negatifnya, yaitu : SDM pendidik yang belum
mampu menerapkan kurikulum sepenuhnya, Fasilitas yang kurang memadai, atau
belum merata, Visi misi sekolah menjadi terganggu, SDM yang minim untuk
bersaing dengan negara lain.
Bagaimanapun,
perubahan kurikulum ini berdasarkan faktor-faktor yang mengharuskan adanya
perubahan, misalnya seperti :
1. Perkembangan
Ilmu Pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat
2. Pertumbuhan
yang pesat dari penduduk dunia
3. Pandangan
Intelektual yang berubah
4. Pemikiran
baru mengenai proses belajar mengajar
5. Perubahan
dalam masyarakat
6. Eksploitasi
ilmu pengetahuan
Perbaikan kurikulum
biasanya mengenai satu atau beberapa aspek dari kurikulum. Sedangkan perubahan
kurikulum mengenai perubahan-perubahan dasarnya, baik mengenai tujuan maupun
alat-alat atau cara-cara untuk mencapai tujuan itu. sebelum merubah kurikulum
hendaknya diadakan penilaian tentang kurikulum yang sedang di jalankan.
BAB III
PENUTUP
Kurikulum
adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out comes) yang
diharapkan dari suatu pembelajaran (Grayson 1997). Perencanaan tersebut disusun
secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan
instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran. Materi di dalam kurikulum
harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives)
pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Isi
kurikulum hakikatnya terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan berbagai
pengalaman yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, maka
dikenal tiga macam kurikulum, yaitu kurikulum ideal, kurikulum aktual, dan
kurikulum tersembunyi. Atau biasa disebut kurikulum tertulis dan kurikulum
tidak tertulis tertulis. Kurikulum tertulis diantaranya kurikulum ideal dan
kurikulum yang tidak tertulis ialah kurikulum tersembunyi (hidden curriculum).
Kurikulum
ideal contohnya seperti Rentjana
Pelajaran 1947, Rentjana
Pelajaran Terurai 1952, Rentjana
Pendidikan 1964, Kurikulum 1968,
Kurikulum 1975,
Kurikulum 1984,
Kurikulum 1994,
Kurikulum 2004 (KBK),Kurikulum 2006 (KTSP),
dan Kurikulum 2013.
Karna dari macam-macam kurikulum ini mereka memiliki tujuan atau memiliki
cit-cita dalam keberhasian belajar siswa. Dan dari isi kurikulum ini akan
memberikan pengaruh terhadap siswa. Bisa berpengaruh positif atau negatif,
tergantung bagaimana cara menyampaikan isi tersebut atau isi dari kurikulum itu
berubah atau tidak berubah dari waktu kewaktu. Dimana dampak atau pengruh dari
isi kurikulum :
Positifnya
yaitu; Pelajar bisa belajar dengan mengikuti perkembangan zaman yang semakin
maju tapi didukung dengan faktor-faktor seperti kepala sekolah, guru, tenaga
pengajar, siswa didik bahkan lembaga itu
sendiri.
Negatifnya
adalah mutu pendidikan menurun dan perubahan kurikulum yang begitu cepat
menimbulkan masalah-masalah baru seperti menurunya prestasi siswa, hal ini
dikarenakan siswa tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran pada
kurikulum yang baru. Dan pengaruh negatif ini akan muncul ketika antara
kurikulum tertulis dan kurikulum tidak tertulis tidak memiliki suatu komunikasi
yang baik atau tidak saling melengkapi. Karena dari kurikulum ideal dan aktual
harus memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Seperti, kurikulum ideal isinya
memberikan suatu patokan atau tujuan yang nantinya di dukung oleh kurikulum
aktual yang baik dan tidak ketinggalan juga penggunaan kurikulum tersembunyi (hindden curriculum) seperti penggunaan
isi kurikulum, penyampaiannya dan penggunaan hindden curriculum dengan waktu yang tepat tersebut bagus maka
peluang keberhasilan belajar siswa akan labih besar lagi pengaruhnya.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Zaini. Pengembangan Kurikulum. (Yogyakarta :
TERAS, 2009). hlm.167-170
https://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013 (Diakses tanggal 14 Nov 2017. 21.02 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013 (Diakses tanggal 14 Nov 2017. 21.02 WIB
Hernawan, Asep, dkk.
(2008). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Sukmadinata, Nana S.
(2009). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.
Bandung: PT. RemajaRosdakarya Offset.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar