ANALISIS
TERHADAP MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satutugas
mata kuliah Telaah Kurikulum, Semester Genap / 4,
Tahun 2018/2019
Dosen Pengemban : Dr. H. Slamet M.Ag

Disusun oleh :
Hasanudin : 0101.1701.094
Irwan Supriatna : 0101.1701.098
Wina Nurwahyuni : 0101.1701.116
Irwan Supriatna : 0101.1701.098
Wina Nurwahyuni : 0101.1701.116
PRODI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
STAI DR KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2019
STAI DR KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2019
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah yang maha kuasa karena
atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah yang senantiasa dilimpahkan kepada
kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan kemudahan
untuk mengumpulkan Reprensi dalam menyusun makalah mengenai Analisis Terhadap
Model Pengembangan Kurikulum.
Adapun maksud dan tujuan membuat makalah ini adalah untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Telaah
Kurikulum, Semester Genap.
Kami juga sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini
sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan yang seharusnya itu
menjadi suatu hal yang sangat Subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami
sebagai penyusun makalah ini sangat mengharapkan masukan – masukan agar
sekiranya makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga
dapat bermamfaat untuk kita semua.
Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu
banyak memberikan dampak positif bagi rekan – rekan mahasiswa lainnya, Semoga
Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Wassalamu A’laikum
Wr.Wb
Purwakarta,
4 Juli 2019
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kurikulum adalah suatu sistem yang ditujukan
kepada seseorang atau terhadap sesuatu pihak yang terlibat di dalamnya. Kurikulum juga adalah sebuah bahan ajar
terhadap murid/siswa dalam
proses pembelajaran.
Dari dulu hingga saat ini, kurikulum
akan selalu mengalami pengembangan demi pengembangan untuk mencapai tujuan
pendidikan. Kecenderungan
adanya pengembangan juga perlu dipahami oleh
pendidik, khususnya orang tua dan guru.
Dan cara itu disebut dengan model pengembangan kurikulum.
Terdapat berbagai faktor
bagaimana kurikulum itu harus berubah. Landasan-landasan yang dikemukakan dapat
membantu pembaca yang budiman mengerti mengapa kurikulum itu terus mengalami
perbaikan atau perubahan.
Disini kami sebagai penulis ingin
membahas tentang persoalan Model
Pengembangan dari kurikulum itu sendiri, pengertian kurikulum secara sempit dan secara luas
dan lain-lain yang menyangkut mengenai pengembangan
kurikulum. Karena dengan mempelajari sistem model
pengembangan kurikulum, kita sebagai seorang pendidik dapat mengenali berbagai
pengetahuan tersendiri, sehingga dapat meningkatkan pikiran positif terhadap
apa yang membuat kurikulum itu berubah.
Tentunya jika harus menunggu
sempurna, makalah ini tidak akan pernah selesai. Maka dari itu, kritik serta
saran sangat penulis butuhkan dari pembaca yang budiman.
Rumusan Masalah
1. Apa itu kurikulum secara sempit dan secara
luas?
2. Apa bedanya perubahan dengan perbaikan?
3. Apa yang dimaksud model pengembangan kurikulum?
2. Apa bedanya perubahan dengan perbaikan?
3. Apa yang dimaksud model pengembangan kurikulum?
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian kurikulum secara sempit
dan secara luas
2. Mengetahui perbedaan perubahan dan perbaikan kurikulum
3. Mengetahui arti dari model pengembangan kurikulum
2. Mengetahui perbedaan perubahan dan perbaikan kurikulum
3. Mengetahui arti dari model pengembangan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum
Kata kurikulum
berasal dari bahasa Latin, curere, yang artinya berlari, menjelajah,
berkeliling, dan sejenisnya di arena perlombaan. Sejalan deengan perkembangannya, kata
kurikulum kini di artikan secara sempit maupun seccara luas.
1.
Kurikulum
Secara Sempit
Secara sempit,
kata kurikulum diartikan sebagai kumpulan pelajaran. AdapunmenurutMichaelis dan
kawan-kawan, membatasi kurikulum menjadi spesifik. Bahwa kurikulum tidak lebih
dari sekedar tujuan, isi, metode, media, strategi, dan evaluasi pembelajaran di
sekolah.
2.
Kurikulum
Secara Luas
Mengacu pada
pandangan-pandangan dalam hal ini, secara luas kata kurikulum dapat diartikan
sebagai pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab sekolah. Pengalaman
belajar dalam kurikulum secara luas ini mencakup pengalaman belajar di dalam
kelas, di lingkungan sekolah, maupun di luar sekolah. Hal kecilnya adalah
ketika siswa bermain sambil berlari di halaman sekolah misalnya, termasuk dalam
konsep kurikulum.
B. Komponen Kurikulum
Mengacu kepada pandangan Michaelis, Grossmen, dan Scott (1975),
sebagai suatu sistem, kurikulum memiliki empat komponen, yaitu: 1.
Tujuan/kompetensi, 2. Isi, 3. Strategi atau cara mengajar,4. Evaluasi.
Dalam
konteks Indonesia, mengacu pada pengembangan kurikulum, maka kata-kata yang
lazim terkaait dengan komponen kurikulum adalah kompetensi, materi, pendekatan,
dam evaluasi.
Berikut ulasan
mengenai komponen kurikulum menurut pandangan Michaelis dan kawan-kawan, yaitu:
1.
Komponen
Tujuan/Kompetensi
Dua istilah ini memiliki makna yang sama. Dengan demikian ,
keduanya mengacu kepada hasil yang akan diperoleh melalui pendidikan. Dengan
kata lain, komponen tujuan atau kompetensi berisi pernyataan tentang target
yang akan dicapai atau kemampuan yang akan dikembangkan dalam diri siswa
sebagai hasil pendidikan.
2.
Komponen isi
Komponen ini adalah komponen yang memuat pesan yang akan digunakan
untuk mencapai tujuan pendidikan atau membentuk kompetensi pada diri siswa.
Adapun sejumlah istilah yang mempunyai maksud sama dengan isi kurikulum adalah
seperti materi kurikulum, bahan kurikulum, dan pesan kurikulum.
3.
Komponen
Strategi
Komponen ini adalah komponen yang berisi pernyataan tentang
penataan dan pemanfaatan berbagai hal untuk pencapaian tujuan pembelajaran,
atau untuk pengembangan kompetensi dalam diri siswa secara efektif dan efisien.
Menurut Bruner, ada dua strategi yang menjadi pokok utamanya, yakni
strategi ekspositori dan strategi heuristik.
Dalam strategi ekspositori, guru menjadi sumber belajar utama yang
mengekspos pelajaran kepada siswa, sementara siswa diposisikan sebagai objek
kosong yang akan diisi oleh guru.
Dalam strategi heuristik, siswa diposisikan sebagai makhluk unik
dengan potensi yang memungkinkannya untuk memproses secara mandiri perolehan
belajarnya. Dengan kata lain, siswa dijadikan sebagai pusat, bukan guru.
4.
Komponen
Evaluasi
Komponen ini berisi pernyataan tentang upaya untuk mengetahui
tingkat pencapaian pembelajaran, serta efisiensi dan efektivitas proses
pembelajaran.
Ada dua acuan dalam komponen ini, yaitu; Acuan Patokan, yakni
keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh pencapaian standar yang telah
ditetapkan terlebih dahulu, dan Acuan Norma, yakni keberhasilan belajar siswa ditentukan
oleh posisi siswa dalam nilai rata-rata kelas.
C. Pengertian dan Landasan Pengembangan Kurikulum
Istilah pengembangan kurikulum menunjukkan kepada suatu kegiatan yang
menghasilkan suatu cara yang ‘baru’, dimana selama kegiatan tersebut penilaian
dan penyempurnaan terhadap cara tersebut terus dilakukan. Atau dengan
pengertian lain, yakni suatu cara untuk melaksanakan dan merencanakan kurikulum
pendidikan pada suatu satuan pendidikan agar menghasilkan sebuah kurikulum yang
kolaboratif, akomodatif, sehingga menghasilkan kurikulum yang ideal.
Landasan
dari pengembangan kurikulum adalah pertimbangan-pertimbangan mendasar dan
menyeluruh, yang dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum.Adapun landasan
pengembangan kurikulum, yaitu adalah:
3.
Landasan
Filosofis
Yakni
pendidikan menyangkut hubungan antara sesama manusia. Dan hal yang paling
mendasar adalah tentang hakikat manusia. Mak pada hakikatnya manusia itu adalah
makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk religi.
a.
Makhluk
Individu
Menurut
pandangan filsafat antropologi, di antara miliaran manusia, tidak ada satu pun
orang yang sama antara satu dengan yang lain, sekalipun itu kembar identik.
Maka, pendidikan haruslah menghargai keunikan itu. Wujud konkret dari
penghargaan itu adalah penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan
minat positif dalam diri setiap peserta didik.
Hakikat manusia
sebagai makhluk individu ini berimplikasi pada penyelenggaraan pendidikan
sebagai berikut:
-
Dalam
hal guru, adalah di harapkan orang yang benar-benar berbakat dan berminat
menjadi guru, serta mengajar pelajaran sesuai bakat dan minatnya.
-
Dalam
hal tujuan dan isi pendidikan, diharapkan pada kurikulum sekolah terdapat
beraneka pilihan tujuan dan isi pendidikan berupa aneka mata pelajaran,
sehingga dapat mengakomodir keanekaragaman bakat dan minat siswa.
-
Dalam
hal strategi pendidikan, diharapkan guru dapat menggunakan beraneka metode dan
media pembelajaran.
-
Dalam
evaluasi pendidikan, guru mengevaluasi kemajuan belajar siswa sesuai kapasitas potensi
akademik yang dimilikinya.
b.
Makhluk
Sosial
Pandangan tentang
hakikat manusia sebagai makhluk sosial mempunyai implikasi terhadap semua unsur
pendidikan. Yakni sebagai berikut:
-
Dalam
hal guru, perlunya wadah seperti PGRI, Kelompok Kerja Guru (KKG), dan
sejenisnya.
-
Dalam
hal siswa, perlunya wadah seperti OSIS dan Ekstrakulikuler di sekolah.
-
Dalam
hal isi dan tujuan pendidikan, terdapatnya isi dan tujuan pendidikan yang
memadai untuk mendorong berkembangnya kesadaran dan keterampilan sosial siswa.
-
Dalam
hal strategi pendidikan, diperlukan strategi memupuk kemampuan kerja sama,
seperti kerja kelompok atau diskusi.
c.
Makhluk
Susila
Menurut ilmu
antropologi, manusia dilahirkan dengan potensi membedakan baik dan buruk serta
potensi berbuat baik. Lalu di dalam konteks pendidikan, implikasinya sebagai
berikut:
-
Dalam
hal guru, diharapkan seorang guru telah berkembang secara memadai potensi baik
dalam dirinya.
-
Dalam
hal siswa, adanya perkembangan potensi baik hingga tingkat tertentu. Atau
adanya sebuah perjanjian dengan orang tuanya bahwa siswa akan menaati peraturan sekolah.
-
Dalam
isi dan tujuan pendidikan, tersedianya tujuan dan isi moral dan etika, baik
terintegrasi dalam setiap pelajaran ataupun disajikan sebagai pelajaran
tersendiri.
-
Dalam
hal strategi, cara-cara pendidikan moral dan etika diterapkan secara
proporsional, sinergis dan konsisten.
d.
Makhluk
Religi
Setiap manusia diciptakan untuk menyadari adanya kekuatan Maha
Besar yang tak terbatas, Pencipta, Penguasa, dan Pengatur segala sesuatu yang
ada dan mungkin ada. Adapun dalam hal pendidikan, implikasinya antara lain:
-
Dalam
hal guru, seorang guru dipersyaratkansebagai orang yang percaya akan adanya
Tuhan
-
Dapam
hal siswa, seorang siswa pundipersyaratkan telah memiliki atau di arahkan untuk
memiliki pilihan terhadap wujud kepercayaan tertentu.
-
Dalam
tujuan dan isi pendidikan, tersedianya isi dan tujuan pendidikan ketuhanan. Dan
terdapat pelajaran agama, dan siswa diwajibkan mengikuti pelajaran agam sesuai
agama yang dianutnya.
-
Dalam
hal strategi pendidikan, cara-cara pendidikan ketuhanan atau keagamaan
dilakukan secara proporsional, sinergis, dan konsisten.
4.
Landasan
Sosial
Landasan ini terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial.
Berbagai lajian ilmiah telah melahirkan sejumlah disiplin ilmu sosial.
Ada disiplin ilmu tentang sejarah, maksudnya
adalah bahwa manusia saat ini merupakan produk dari manusia yang lalu. Demikian
pula apa yang dilakukan manusia saat ini akan memproduk kondisi manusia masa
depan. Atau disiplin ilmu tentang ekonomi, dalam hal pendidikan bahwa sekolah
sebagai lembaga pendidikan memiliki dua sisi ekonomis sekaligus, sebagai
konsumen maupun produsen. Sebagai konsumen, bahwa sekolah memerlukan berbagai
produk ekonomis bagi berjalannya mekanisme sistem persekolahan, sementara
produsen, tentu bahwa sekolah akan menghasilkan lulusan.
5.
Landasan
Psikologis
Menurut
Goble (1987), ada dua aliran besar psikologi
yang amat mewarnai dunia pendidikan saat ini. Yaitu psikologi behaviorisme dan
humanisme.
Psikologi Behaviorisme
Psikologi ini
berpandangan bahwa manusia belajar melalui proses atimulus-reapons-asosiasi.
Dengan kata lain bahwa pembiasaan menjadi cara utama membentuk pribadi manusia
Psikologi Humanisme
Psikologi ini
dengan berbagai varian teorinya, sejalan dengan teori nativisme, yang memandang
hakikat pribadi manusia telah dibawa sejak lahir.
Adapun Sofyan (2006:9)
menyebutkan bahwa dasar-dasar pengembangan kurikulum meliputi:
a.
Kurikulum
di susun untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional
b.
Kurikulum
pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan pendekatan kemampuan
c.
Kurikulum
harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada masing-masing jenjang
pendidikan
6.
Landasan
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan
ini sudah membawa beberapa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Seperti
perubahan nilai-nilai budaya, spiritual, sosial, intelektual, maupun dalam
material.
D. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Ini adalah pertimbangan-pertimbangan mendasar yang bersifat khusus
dalam pengembangan kurikulum. Secara umumnya terdapat lima prinsip, yaitu:
7.
Prinsip
Relevansi
Yakni
perkembangan kurikulum harus relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat
dan kondisi psikologis siswa. Contohnya adalah ditekankan tentang kebutuhan
dalam dunia kerja yang merupakan salah satu sisi dari aspek sosial budaya. Dan mencakup
tiga kawasan yang menjadi acuan bagi psikologi siswa, yakni kawasan kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
8.
Prinsip
Kontinuitas
Yaitu pengembangan kurikulum berkaitan dengan kenyataan bahwa
pendidikan adalah sebuah proses bertahap dan berkelanjutan, bahkan berlangsung
seumur hidup.
9.
Prinsip
Fleksibilitas
Ada dua
kenyataan mendasar terkait hal ini, pertama yaitu setiap siswa adalah makhluk
unik, maka diperlukan kurikulum yang lentur. Kedua, bahwa masyarakat akan terus
berubah, dan terdapat perubahan yang bisa diprediksi atau pun tidak. Maka
kurikulum juga dirancang untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan perubahan
sosial.
10.
Prinsip
Efektivitas
Prinsip ini
terkait dengan tingkat pencapaian target. Mencakup tentang sejauh mana rancangan
program kurikulum terlaksana, serta sejauh mana tujuan pendidikan tercapai
melalaui pelaksanaan kurikulum.
11.
Prinsip
Efisiensi
Prinsip
efisiensi terkait dengan tingkat penghematan yang realistis dalam suatu
kegiatan, tanpa mengorbankan pencapaian kuantitas dan kualitas yang maksimal.
Guna menghasilkan kurikulum dengan efisiensi teoritis yang tinggi, pengembangan
kurikulum hendaknya dimulai dengan mengidentifikasi dan menampilkan sejumlah
alternatif berdasarkan kadar efisiensinya.
E. Model Pengembangan Kurikulum
Model pengembangan kurikulum adalah suatu bentuk konseptual berupa
deskripsi verbal yang menggambarkan tentang tahap-tahap pengembangan kurikulum,
pihak-pihak yang terlibat, serta wujud keterlibatan berbagai pihak dalam
pengembangan kurikulum. Adapun perkembangan model untuk evaluasi kurikulum memperlihatkan suatu
gejala yang tidak berbeda dengan perkembangan disiplin ilmu pendidikan dan
upaya-upaya pendidikn yang pernah dilakukan manusia.
Tahap-tahap
pengembangan kurikulum amat tergantung pada pendekatan yang digunakan dalam pengembangan
kurikulum. Ada pendekatan menggunakan mata pelajaran, di mana tahap awal
pengembangan akan berkisar pada identifikasi disiplin ilmu yang di penting bagi
peserta belajar. Namun bila menggunakan pendekatan kompetensi, maka tahap awal akan
di mulai dengan identifikasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum
adalah pihak-pihak yang memiliki kompetensi dan kondisi yang relevan dengan
setiap tahap pengembangan kurikulum. Pihak-pihak tersebut bisa berwujud lembaga
atau perorangan. Contoh lembaga seperti sekolah, seksi kurikulum, satuan tugas
kurikulum, pusat kurikulum, dan komite sekolah. Perorangan seperti siswa, guru,
kepala sekolah, pemilik sekolah, pelaku dunia kerja, ahli kurikulum, dan ahli
disiplin ilmu. Wujud keterlibatan berbagai pihak itu amat tergantung pada jenis
model pengembangan kurikulum.
Dalam rentang sejarah, terdapat paling tidaknya ada 8 model
pengembangan kurikulum. Yaitu the administrative model, the grass roots
model, beauchamp’s system,
the demonstration
model, taba’s inverted model,
roger’s interpersonal relations model, the systematic action-research model, and emerging technical models.
Dan walaupun terdapat sejumlah model dalam pengembangan kurikulum,
namun pada pokoknya terdapat tiga jenis model, yakni model top-down,
model bottom-top, dan model campuran, (McNeil, 1990)
1.
Model
Top-Down
Secara filosofis, model top-down bersumber
dari filsafat materialisme, yang sejalan dengan psikologi behaviorisme. Pada
model top-down, gagasan pengembangan kurikulum datang dan dimulai dari lapisan
birokrasi pendidikan atas, kemudian di distribusikan menuju lapisan birokrasi
pendidikan terbawah.
Di Indonesia, lapisan birokrasi pendidikan teratas adalah
Kementrian Pendidikan, selanjutnya guru sebagai lapisan birokrasi pendidikan
terbawah berperan sebagai pelaksanaan kurikulum yang dikembangkan sepenuhnya
dan disalurkan oleh pihak-pihak di luar dirinya.
Kelemahannya adalah, guru tidak memiliki cukup rasa ikut dalam
memiliki kurikulum, sehingga tidak maksimal dalam melaksanakannya, maka
pengelolaan pendidikan tidak mendapatkan hasil maksilmal.
2.
Model.Bottom-Up
Model bottom-up bersumber dari filsafat idealisme, yang sejalan
dengan psikologi humanisme. Model ini menggunakan gagasan bahwa awal
pengembangan kurikulum datang dari pihak guru sebagai birokrat lapisan paling
bawah, sedangkan lapisan atas hanya menerima.
Kelemahannya adalah, dapat mengancam integrasi nasional. Ancamannya
akan semakin besar pada masyarakat yang amat plural dan heterogen, seperti
Indonesia.
3.
Model
Campuran
Model ini bersumber dari filsafat realisme, yang memandang filsafat
idealisme dan materialisme, maupun psikologi behaviorisme dan humanisme,
sebagai pasangan realitas sosial yang nyata.
Sebagai model campuran, pengembangan kurikulum dengan model ini
sudah memiliki acuan awal pengembangan, yakni ketentuan perundang-undangan
negara tentang pendidikan, termasuk kurikulum. Dengan kata lain, model ini
berangkat dari top-down.
F. Langkah-Langkah Dalam Pengembangan Kurikulum Di Sekolah
Perbaikan di sekolah
sangat penting untuk kelangsungan terlaksananya kurikulum, adapun
langkah-langkahnya adalah:
1. Adakan penilaian umum tentang sekolah, seperti
dalam hal apa sekolah itu lebih baik atau lebih rendah mutunya daripada sekolah
lain.
2. Selidiki
berbagai kebutuhan, antara lain kebutuhan siswa, kebutuhan guru, dan kebutuhan
akan perubahan dan perbaikan.
3. Mengidentifikasi masalah serta
merumuskannya
4. Mengajukan saran perbaikan
5. Menyiapkan desain
perencanaannya yang mencakup tujuan
6. Memilih anggota panitia
7. Mengawasi pekerjaan pantia
8. Melaksanakan hasil panitia
oleh guru dalam kelas
9. Menerapkan cara-cara evaluasi
10. Memantapkan perbaikan[1]
G. Kesulitan-kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum
Sejarah menunjukkan bahwa
sekolah itu sangat sukar menerima pembaruan. Manusia itu pada umumnya bersifat konservatif
dan guru termasuk golongan itu juga. Pembaruan kurikulum juga terkadang terikat
pada tokoh yang mencetuskannya. Dan melakukan pembaharuan pun memerlukan
pemikiran dan tenaga yang lebih banyak.
H. Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Selain memperhatikan
pertimbangan filosofis dan psikologis, para perencana kurikulum juga hendaknya
memperhatikan pendekatan yang akan digunakan dalam pengembangan kurikulum,
setidaknya ada 4 macam pendekatan yang perlu di perhatikan, yakni:
1. Pendekatan Akademis
Pada pendekatan ini, lebih tujuan-tujuan mata pelajaran sesuai dengan
konsep dasar dan batasan-batasan disiplin ilmu dari mata pelajaran tersebut.
Prioritas pendekatan ini adalah penularan pengetahuan.
2. Pendekatan
Teknis
Di sini sangat memperhatikan bagaimana mata pelajaran
itu terperinci dan diatur secara sistematis.
3. Pendekatan
Individu
Di sini lebih memperhatikan bagaimana anak didik dapat
diarahkan kepada pengembangan kemampuan berpikir dan keterampilan, dan
pengembangan nilai-nilai pribadi.
4. Pendekatan
Sosial
Pendekatan ini menghendaki pengembangan program yang
akan menghasilkan anak didik dengan berbagai kemampuan yang dibutuhkan oleh
masyarakat.
Dari apa yang terpapar di atas, maka apakah kurikulum
itu sedang dalam perubahan atau perbaikan? Berikut sedikit pembahasannya;
Perbaikan kurikulum, biasanya hanya mengenai satu atau beberapa
aspek dari kurikulum. Sedangkan perubahan kurikulum yakni mengenai
perubahan dasar-dasarnya, baik mengenai tujuan atau alat-alat atau cara untuk
mencapai tujuan itu.
I. Ciri-ciri Hasil Dari Pengembangan
Perubahan tidak selamanya membawa hasil dalam suatu pengembangan.
Hanyalah peubahan positif yang menghasilkan suatu pengembangan. Maka agar
perubahan itu menjadi positif dan berhasil dalam pengembangan, maka ia harus
memiliki ciri-ciri khas, yaitu:
1. Peubahan Harus Bermanfaat
2. Perubahan Harus Terencana
3. Perubahan Harus Progresif
4. Perubahan Harus Berkelanjutan
Dalam pengembangan kurikulum pasti adanya sebuah
pengaruh, yakni adanya pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Pengaruh
langsung biasanya datang dari lembaga-lembaga dan eksekutif yang mempunyai
kepentingan dengan kurikulum sesuai dengan misi dan trend yang sedang popular
pada waktu tertentu.
MPR misalnya pada tahun 1983 dalam ketetapan IV/MPR/1983
tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara telah menetapkan bahwa pendidikan
sejarah perjuangan bangsa perlu diberikan di tingkat sekolah mulai dari
pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi. Maka dengan adanya itu,
lahirlah Pendidikan Sejarah PPerjuangan Bangsa sebagai unsur baru yang
dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
Pengaruh tidak langsung yaitu datang dari pihak
masyarakat dan cendikiawan yang merasa mempunyai kepentingan dengan kurikulum.
Masyarakat misalnya, mengusulkan agar pelajaranb Agama di sekolah lebih di
tingkatkan.
J. Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan Kurikulum 2013, dilandasi oleh Peraturan
Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka MenengahNasional
2010-2014, dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pada Kurikulum 2013, pemerintah menetapkan Standar
Nasional Pendidikan, Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, Silabus, dan Pedoman
Implementasi Kurikulum.
Faktor-faktor Pengembangan
Berikut faktor-faktor pengembangan Kurikulum 2013
a. Tantangan Internal
Tantangan Internal antara lain terkait dengan tuntuta pendidikan yang
mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan, meliputi standar isi, standar
proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan,
standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan
standar penilaian pendidikan.
b. Tantangan Eksternal
Yakni terkait dengan arus globalisasi
dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan
teknologi dan informasi, kebangkitan industry kreatif dan budaya, dan
perkembangan pendidikan di tingkat internasional.
c. Penyempurnaan Pola Pikir
Penyempurnaan
pola pikir, salah satunya dapat dilakukan dengan cara pembelajaran yang
berpusat pada bguru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik.
d. Penguatan Tata Kelola Kurikulum
Cara yang bisa dilakukan yaitu:
1. Tata kerja guru yang bersifat individual
diubah menjadi bersifat kolaboratif
2. Penguatan manajemen oleh kepala sekolah
sebagai pimpinan kependidikan
3. Penguatan sarana dan prasarana untuk
kepentingan proses pembelajaran
e. Penguatan Materi
Bisa
dilakukan dengan pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta
didik.
Tidak lain dan tidak bukan, pengembangan
kurikulum ini haruslah sejalan dengan tujuan sekolah pendidikan dasar 9 tahun
yakni untuk memberikan bekal kemampuan sesuai tingkat pendidikan, antara SD,
SMP, dan SMA.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Secara sempit, kata
kurikulum diartikan sebagai kumpulan pelajaran. AdapunmenurutMichaelis dan
kawan-kawan, membatasi kurikulum menjadi spesifik. Mengacu pada
pandangan-pandangan dalam hal ini, secara luas kaata kurikulum dapat diartikan
sebagai pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab sekolah.
Dan
walaupun terdapat sejumlah model dalam pengembangan kurikulum, namun pada
pokoknya terdapat tiga jenis model, yakni model top-down, model bottom-top, dan
model campuran.
Istilah pengembangan kurikulum menunjukkan kepada suatu kegiatan
yang menghasilkan suatu cara yang ‘baru’, dimana selama kegiatan tersebut
penilaian dan penyempurnaan terhadap cara tersebut terus dilakukan. Atau dengan
pengertian lain, yakni suatu cara untuk melaksanakan dan merencanakan kurikulum
pendidikan pada suatu satuan pendidikan agar menghasilkan sebuah kurikulum yang
kolaboratif, akomodatif, sehingga menghasilkan kurikulum yang ideal.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Heri. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. ALFABETA : Bandung
Hasan, Hamid S. 2009. Evaluasi Kurikulum. Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia dan PT Remaja Rosdakarya : Bandung
Nasution, S. 2008. Asas-Asas Kurikulum. PT Bumi Aksara :
Jakarta
Somantrie, Hermana. 1989. Perekyasaan Kurikulum Pendidikan Dasar dan
Menengah. Penerbit Angkasa : Bandung
Toenlioe, Anselmus JE. 2017.
Pengembangan Kurikulum : Teori, Catatan
Kritis, dan Panduan. PT Refika Aditama : Bandung
Usman, Moch Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. PT Remaja
Rosdakarya : Bandung
Widyastoro, Herry. 2014. Pengembangan Kurikulum Di Era Otonomi Daerah.
PT Bumi Aksara : Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar