BELAJAR
Makalah
ini diajukan untuk memenuhi salah
satu tugas mata
kuliah Psikologi
Pendidikan, Semester Genap / 4, Tahun 2018/2019
Dosen Pengemban : M. Iqbalul Ulum, M.Psi

Disusun oleh :
Asep Sukirman
|
:
0101.1701.087
|
|
Leni Nurlela
|
: 0101.1701.100
|
|
PRODI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
STAI DR KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2019
STAI DR KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2019
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah yang maha kuasa karena
atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah yang senantiasa dilimpahkan kepada
kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan kemudahan
untuk mengumpulkan Reprensi dalam menyusun makalah mengenai Belajar pada mata
kuliah Psikologi Pendidikan.
Adapun maksud dan tujuan membuat
makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada semester genap.
Kami juga sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini
sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan yang seharusnya itu
menjadi suatu hal yang sangat Subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami
sebagai penyusun makalah ini sangat mengharapkan masukan – masukan agar
sekiranya makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga
dapat bermamfaat untuk kita semua.
Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu
banyak memberikan dampak positif bagi rekan – rekan mahasiswa lainnya, Semoga
Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Wassalamu a’laikum Wr.Wb
Purwakarta,
6 Juli 2019
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar
adalah syarat mutlak untuk membuat orang pandai dalam semua hal, baik dalam hal
ilmu pengetahuan maupun dalam hal bidang keterampilan atau kecakapan seorang
bayi misalnya, dia harus belajar berbagai kecakapan terutama sekali kecakapan
motorik seperti belajar menelungkup, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan.
Belajar
merupakan kegiatan manusia untuk merubah dirinya dari ketidak tahuan menjadi
tahu, dari ke samaran menjadi jelas.
Apa
yang menjadikan semua kegiatan itu suatu gejala belajar? Kemampuan untuk
melakukan itu semua diperoleh, mengingat mula-mula kemampuan itu belum ada.
Maka, terjadilah proses perubahan dari belum mampu ke arah sudah mampu, dan
proses perubahan itu terjadi selama jangka waktu tertentu. Adanya perubahan
dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadinya proses belajar.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan belajar?
2. Apa
dan bagaimana ciri-ciri dari belajar?
3. Apa
ragam dari belajar?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui
pengertian belajar
2. Mengetahui
ciri-ciri dari belajar
3. Mengetahui
tentang belajar
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar
Belajar adalah kunci yang paling vital
dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah
ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat
yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya
kependidikan, misalnya psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Karena
demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan
eksperimen psikologi belajarpun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih
luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.
Pengertian
belajar menurut para ahli:
1. Moh.
Surya: “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh
individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai
hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan
lingkungannya”.
2. Bell-Gredler:“Belajar
adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka
ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies),
keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap
dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses
belajar sepanjang hayat.
3. Witherington:
“Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai
pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,
pengetahuan dan kecakapan”.
4. Crow
& Crow: “Belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan
sikap baru”.
5. Hilgard:
“Belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau
berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
Belajar dilakukan dengan sengaja atau
tidak sengaja dengan guru atau tanpa guru, dengan bantuan orang lain, atau
tanpa dibantu dengan siapapun. Belajar juga diartikan sebagai usaha untuk
membentuk hubungan antara perangsang atau reaksi.
Berbagai definisi (rumusan) tentang
belajar telah dikemukakan oleh para ahli, yang semuanya sepakat bahwa belajar
itu bertujuan untuk mengadakan perubahan. Jelasnya belajar dapat didefenisikan
yaitu: Suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perubahan di
dalam diri seseorang, mencakup; perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan,
keterampilan dan sebagainya.
Menurut para pakar psikologi belajar
bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan
untuk diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman
hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang
bersangkutan.
Setelah mengetahui defenisi belajar
seperti yang telah disebutkan di atas, maka berikut ini akan dikemukakan salah
satu contoh sebagai bentuk dari proses belajar. Seorang anak balita (berusia di
bawah 5 tahun) memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba mainan
ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakkannya pada suatu permukaan atau
dataran.
Perilaku “memutar” dan “meletakkan”
tersebut merupakan respons atau reaksi atas rangsangan yang timbul/ada pada
mainan itu (misalnya, kunci dan roda mobil-mobilan tersebut).Pada permulaan,
respons anak terhadap stimulus yang ada pada mainan tadi biasanya tidak tepat
atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ulang,
lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobil-mobilan dengan baik
dan sempurna.
1. Teori
Belajar
Teori belajar sangat banyak dan beraneka
ragam. Setiap teori menjelaskan aspek-aspek tertentu dalam belajar, dan setiap
teori yang dijadikan dasar akan mewarnai proses pembelajaran yang berlangsung.
Dalam praktek, suatu teori belajar tidak dapat diterapkan untuk berbagai
situasi pembelajaran. Penerapan suatu teori mungkin cocok untuk suatu situasi
tertentu dan tidak untuk situasi yang lain.
Setiap teori belajar dirumuskan
berdasarkan kajian tentang perilaku individu dalam proses belajar. Kajian itu
pada intinya menyangkut dua hal:
1) Konsep
yang menganggap bahwa otak manusia terdiri atas sejumlah kemampuan potensial
(daya-daya), seperti menalar, mengingat, mengkhayal, yang dapat dikembangkan
dengan latihan.
2) Konsep
yang menganggap bahwa manusia merupakan suatu sistem energi yakni suatu sistem
tenaga yang dinamis yang berupaya memelihara keseimbangan dalam merespon sistem
energi lain sehingga ia dapat berinteraksi melalui organ rasa. Sistem energi
ini meliputi respon terhadap stimulus, motivasi, dan proses penalaran.
Berdasarkan kajian terhadap kedua macam
konsep itulah, teori-teori belajar dibangun yang secara garis besar dapat
dikelompokkan ke dalam dua macam aliran, yaitu:
1) Disiplin
mental atau psikologi daya, yang memandang bahwa otak manusia terdiri atas
sejumlah daya yang beraneka ragam. Belajar pada prinsipnya adalah melatih
daya-daya mental tersebut.
2) Behaviorisme
atau psikologi tingkah laku, yang menganggap bahwa tingkah laku manusia
merupakan kumpulan respon terhadap rangsangan.
Respon
ini meliputi dua macam, sehingga menghasilkan dua macam aliran:
a) Koneksionis
atau asosianisme yang menganggap bahwa tingkah laku itu merupakan respon terhadap
stimulus tertentu. Penganut aliran atau teori ini menganggap bahwa suatu
stimulus (S) mempunyai ikatan dengan response ( R ) tertentu.
b) Kognitif
atau Gestalt yang menganggap bahwa proses kognitif
yaitu insight(pemahaman/wawasan) merupakan fundamental (asasi) dari respon
manusia. Dengan demikian perilaku manusia itu ditandai oleh kemampuan melihat
dan membuat hubungan antar unsur-unsur dalam situasi problematic, sehingga
diperolehinsight.
Teori
belajar menurut psikologi daya ini adalah kesulitan untuk menentukan jenis
bahan pelajaran apa yang terbaik untuk melatih, membentuk, atau mengembangkan
otak. Proses belajar yang paling menonojol dalam penerapan teori daya adalah
dengan melalui praktek dan latihan (diantaranya memecahkan soal, menghapal, dan
mengarang).
Motivasi
belajar siswa di pandang tidak begitu penting untuk diperhatikan, demikian pula
faktor perbedaan individual dianggap tidak relevan untuk penerapan teori
ini. Persoalan transfer (pengalihan) dalam belajar dipandang sebagai sesuatu
yang bersifat otomatis. Artinya, bila daya mental tertentu sudah terbentuk maka
kemampuan ini dapat di transfer pada situasi lain.
2. Perbuatan
Yang Dapat disebut Belajar Atau Tidak
Ciri-ciri
belajar adalah:
1) Belajar
harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan
tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga
meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor);
2) Perubahan
itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada
individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan. interaksi
ini dapat berupa interaksi fisik dan psikis;
3. Perubahan
perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen
Proses
belajar dapat diketahui dengan dua pendekatan, yaitu:
1) Mempelajari
belajar langsung di lapangan yang sebenarnya atau biasa disebut dengan
naturalistic observation, yaitu cara pendekatan yang langsung pada peristiwa
yang terjadi secara alami.
2) Pendekatan
melalui laboratorium yaitu mempelajari masalah belajar di laboratorium. Keadaan
laboratorium pada umumnya akan mereduksi keadaan sebenarnya.
B. Karakteristik dan Ragam Hasil Belajar
1) Karakteristik
Belajar
Setiap
perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik.
Karakteristik perilaku belajar ini dalam beberapa pustaka rujukan, antara lain
menurut surya (1982), disebut juga sebagai prinsip-prinsip belajar. Diantaranya
ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang
terpenting adalah:
·
Perubahan itu
intensional
·
Perubahan itu positif
dan aktif
·
Perubahan itu efektif
dan fungsional
a) Perubahan
Intensional
Perubahan yang terjadi dalam proses
belajar adalah berkat pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan
disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Karakteristik ini mengandung
pengertian bahwa siswa-siswi menyadari akan adanya perubahan yang dialami, atau
ia sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan pada dirinya seperti
penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan sesuatu, keterampilan,
dan seterusnya. Karena secara fitrah individu yang bersangkutan tidak menyadari
atau tidak menghendaki keberadaanya.
Perubahan Positif dan Aktif
Perubahan yang terjadi karena proses
belajar bersifat positif dan aktif, positif artinya baik, bermartabat, serta
sesuai dengan harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut
senantiasa merupakan penambahan,yakni diperolehnya sesuatu yang baru (seperti
pemahaman dan keterampilan baru) yang lebih baik dari pada sebelumnya. Adapun
perubahan yang terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan
(misalnya, bayi yang bias merangkak setelah bias duduk), karena usaha anak itu
sendiri.
Perubahan Efektif Dan Fungsional
Perubahan
yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya,
perubahan tersebut membawa makna dan manfaat tertentu bagi siswa dan siswi.
Selain itu, perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa
ia relative menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut
dapat direproduksi dan dimanfaatkan.
Perubahan
fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang luas misalnya ketika
siswa-siswi menempuh ujian dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan
sehari-hari dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Selain itu, perubahan efektif
dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan
positif lainnya.
Sebagai
contoh, jika seorang siswa/siswi belajar menulis, maka di samping ia akan mampu
merangkaikan kata dan kalimat dalam bentuk tulisan, ia juga akan memperoleh
kecakapan lainnya seperti membuat catatan,mengarang surat, dan bahkan menyusun
karya sastra atau karya ilmiah.
Hasil belajar dipengaruhi beberapa
faktor, antara lain karakteristik belajar dan motivasi belajar. Karakteristik
belajar yaitu kebiasaan belajar yang baik dan motivasi belajar yaitu
keseluruhan kekuatan dan daya penggerak/pendorong agar tujuan belajar tercapai
optimal.
2) Ragam
Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya
bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dan lainnya,
baik dalam aspek materi dan metodenya, maupun dalam aspek tujuan dan tingkah
laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia
pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga beraneka macam.
Berikut adalah beberapa ragam belajar:
a. Ragam
Abstrak
Belajar abstrak adalah belajar yang
menggunakan cara berfikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh dan
memecahkan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang
abstrak diperlukan peranan akal yang kuat. Disamping penguasaan atas prinsip,
konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika,
kimia, kosmografi, astronomi dan juga sebagian materi bidang studi agama
seperti tauhid.
b. Ragam
Sosial
Belajar sosial pada umumnya adalah
belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah
tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam
memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga,
persahabatan, kelompok dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain
itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu
pribadi demi kepentingan bersama dan member peluang kepada orang lain untuk
memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
c. Ragam
Pemecahan Masalah
Belajar
pemecahan masalah yaitu belajar dengan menggunakan metode-metode ilmiah atau
berfikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk
memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara
rasional, lugas dan tuntas.
d. Belajar
Rasional
Belajar rasional adalah belajar dengan
menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah
untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan
konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan
masalah.
e. Ragam
Keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar
dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan
urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular) tujuannya adalah untuk
memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu, dalam belajar jenis
ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan, termasuk dalam belajar
ini misalnya belajar olahraga, music, menari, melukis, memperbaiki benda-benda
elektronik dan juga sebagian bidang study agama seperti ibadah shalat dan
ngaji.
f. Ragam
Kebiasaan
Ragam belajar kebiasaan adalah proses
pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang
telah ada, belajar kebiasaan selain menggunakan perintah, suri tauladan dan
pengalaman khusus juga penggunaan ganjaran dan hukuman (reward&punishment),
tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan
baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan
waktu (kontekstual).
Selain
itu arti tepat dan positif diatas adalah selaras dengan norma dan tata nilai
yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang
bersifat cultural dan tradisional, belajar kebiasaan lebih tepat
dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksut oleh
undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2003 bab VI bagian keenam pasal
27 ayat (1) namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan
pelajaran agama sebagai sarana belajar kebiasaan bagi para siswa.
Ragam
belajar adalah merupakan keragaman dari metode cara seorang belajar(bias
disebut gaya belajar). Setiap orang memiliki metode belajar yang berbeda.
Metode belajar bisa dibagi 3:
1) Visual
Seseorang dengan gaya belajar visual
cenderung memahami sesuatu (seperti pelajaran) dengan melihatnya secara
langsung. Berikut beberapa ciri dari belajar tipe visual:
-
Berbicara dengan cepat
-
Sering menjawab
pertanyaan dengan jawaban yang singkat
-
Senang terhadap seni
dari pada music
-
Suka mengantuk ketika
mendengarkan penjelasan yang panjang lebar
2) Auditorial
Seseorang tersebut lebih mudah untuk
memahami sesuatu dengan mendengarnya. Berikut beberapa ciri dari belajar tipe
auditorial:
-
Berbicara dengan diri
sendiri (jawa:gremengan) saat bekerja atau belajar
-
Lebih senang music dari
pada seni yang melibatkan visual
-
Senang berdiskusi
-
Berbicara dan
menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar
3) Kinestetik
Seseorang tersebut lebih mudah memahami
sesuatu dengan bergerak (dengan praktek langsung).Gaya belajar tipe kinestetik
adalah gaya belajar yang dominan dengan praktek atau eksperimen atau yang dapat
diuji coba sendiri. Berikut beberapa ciri dari belajar tipe kinestetik:
-
Berbicara dengan
perlahan dan cermat
-
Berorientasi pada fisik
dan banyak gerak
-
Menghafal sambil
belajar dan melihat
-
Banyak menggunakan
bahasa tubuh
Dengan mengetahui karakteristik belajar
siswa ini guru akan dapat memberikan bekal kepada siswanya untuk dapat
menghadapi perubahan cara atau pola belajar di tiap jenjang pendidikan.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
M. Surya (1979:39-40) mengemukakan
pandangannya dalam menyikapi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, antara
lain terdiri dari faktor internal dan eksternal.
Faktor internal terdiri dari faktor
fisiologis atau jasmani individu, baik yang bersifat bawaan/hereditas maupun
yang diperoleh, misalnya penglihatan, pendengaran, struktur badan dan
sebagainya. Faktor internal lain yaitu faktor psikologis, baik yang bersifat
bawaan maupun yang diperoleh, yang terdiri dari faktor intelektif (faktor potensial,
yaitu intelegensi dan bakat serta faktor actual yaitu kecakapan yang nyata,
seperti prestasi). Faktor psikologis lain yaitu faktor non intelektif yaitu
komponen kepribadian tertentu seperti sikap, minat, kebiasaan, kebutuhan,
motivasi, konsep diri, penyesuaian diri, emosional dan sebagainya.
Sedangkan faktor eksternal meliputi
sosial, lingkungan keluarga, sekolah, teman, masyarakat, budaya, adat istiadat,
ilmu pengetahuan dan teknologi, faktor lingkungan fisik contohnya fasilitas
belajar di rumah, di sekolah, iklim dan faktor spiritual serta lingkungan
keluarga. Faktor yang berasal dari dalam individu (internal), baik yang
bersifat intelektual maupun non intelektual, mempunyai peranan penting dalam
belajar. Karena belajar merupakan proses aktif, dimana individu tidak hanya
menerima, tetapi dituntut pula untuk berolah fikir, rasa untuk memperoleh,
memahami dan menguasai materi yang dipelajarinya.
Secara global, menurut Muhibbin Syah
(2001: 132-139) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat kita bedakan
menjadi tiga macam, yaitu:
-
Faktor internal (faktor
dari dalam diri siswa), yakni keadaan jasmani dan rohani siswa. Yaitu: aspek
fisiologis (jasmani, mata dan telinga) dan aspek psikologis (intelegensi siswa,
sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa).
-
Faktor eksternal
(faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. Yaitu:
lingkungan sosial (keluarga, guru, masyarakat, teman) dan lingkungan non-sosial
(rumah, sekolah, peralatan, alam).
-
Faktor pendekatan
belajar, yakni jenis upaya siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran,
yang terdiri dari pendekatan tinggi, pendekatan sedang dan pendekatan rendah.
Contoh
faktor Internal: Faktor yang berasal dari diri anak.
-
Faktor fisiologi yaitu
faktor yang meliputi jasmani anak. Apakah anak sehat, tidak sehat (sakit)?
-
Faktor psychology yaitu
faktor yang meliputi rohani yang mendorong aktivitas belajar
anak. Hal ini berpengaruh pada :
taraf intelegensi, motivasi belajar, sosial ekonomi, sosial budaya
dan lain-lain.
Contoh
faktor Eksternal: Faktor yang berasal dari luar diri anak.
-
Faktor non sosial yang
meliputi keadaan udara; waktu (pagi; siang dan sore), tempat dan alat-alat yang
dipakai dalam pembelajaran.
-
Faktor sosial yang
meliputi pendidik, metode pengajaran.
-
Lingkungan sosial
sekolah seperti guru, staf, dan teman-teman sekelasnya yang dapat mempengaruhi
semangat belajar seorang siswa.
-
Lingkungan masyarakat,
tetangga, juga teman-teman bermain yang disekitar perkampungan siswa tersebut
juga mempengaruhi belajar siswa. Yang paling berpengaruh dalam belajar siswa
adalah lingkungan keluarga.
-
Faktor-faktor yang
termasuk lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat
tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu
belajar yang digunakan siswa.
Contoh
lain:
1) Faktor
Lingkungan
Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan
berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang di sebut Ekosistem. Dua lingkungan
yang pengaruh cukup signifikan terhadap belajar anak didik di sekolah:
-
Lingkungan Alami,
Pencemaran lingkungan hidup merupakan mala petaka bagi anak didik yang hidup di
dalamnya.
-
Lingkungan Sosial
Budaya, Lingkungan sosial budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang
mendatangkan problem sendiri bagi kehidupan anak didik di sekolah. Pembangunan
gedung sekolah yang tak jauh dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan
suasana kelas.
2) Faktor Instrumental
Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan
dicapai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan,agar dapat mencapai ke arah
itu diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya.
Sarana dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik-baik agar berdaya
guna dan berhasil untuk kemajuan belajar anak didik di sekolah:
-
Kurikulum
-
Program
-
Sarana dan fasilitas
-
Guru
-
Kondisi Psikologis
pendidik dan peserta didik
3) Kondisi
Fisikologis (Keadaan Jasmani)
Kondisi
fisikologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang.
Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya, akan berlainan belajarnya dari orang
yang dalam keadaan kelelahan.
4) Kondisi
psikologis (Keadaan Mental)
Semua keadaan dan fungsi psikologis
tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Berarti belajar bukanlah berdiri
sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor luar dan faktor dari dalam.
Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama
dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Minat, kecerdasan, bakat,
motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang
utama mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik.
-
Minat, Menurut Slameto
(1991 : 182), minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada
suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh minat pada dasarnya adalah
penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan suatu di luar diri.
Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minat.
-
Kecerdasan, Raden
cahaya Prabu (1986) pernah mengatakan dalam mottonya bahwa :”Didiklah anak
sesuai taraf umurnya, Pendidikan yang berhasil karena menyelami jiwa anak
didiknya”. Yang menarik dari ungkapan ini adalah tentang umur dan menyelami
jiwa peserta didik.
-
Bakat, Bakat merupakan
faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang.
Hampir tidak ada yang membantah, bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan
bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu.
-
Motivasi, Menurut Noehi
Nasution (1993 : 8 ) motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi
psikologis yang mendorong seorang untuk belajar. Penemuan – penemuan penelitian
menunjukan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk
belajar bertambah.
-
Kemampuan
Kognitif, Dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau
atau atau berdasarkan kesempatan yang diperoleh di masa lampau.
HASIL
BELAJAR
Hasil
belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah
ia menerima pengalaman belajarnya. Dari pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan atau keterampilan yang
dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut mengalami aktivitas belajar.
Gagne mengungkapkan
ada lima kategori hasil belajar, yakni : informasi verbal, kecakapan
intelektul, strategi kognitif, sikap dan keterampilan.
Sementara
Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan
seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu: kognitif,
afektif dan psikomotorik (Sudjana, 1990:22).
Hasil
belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu:
·
Faktor dari dalam diri
siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan
perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik
dan psikis.
·
Faktor yang datang dari
luar diri siswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.
Hasil
belajar yang dicapai siswa menurut Sudjana (1990:56), melalui proses belajar
mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
·
Kepuasan dan kebanggaan
yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak
mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia akan berjuang lebih keras untuk
memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telah dicapai.
·
Menambah keyakinan dan
kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia
mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha
sebagaimana mestinya.
·
Hasil belajar yang
dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk
perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk
belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya.
·
Hasil belajar yang
diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah
kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif (sikap) dan ranah
psikomotorik, keterampilan atau perilaku.
·
Kemampuan siswa untuk
mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil
yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Belajar itu bertujuan untuk mengadakan
perubahan. Jelasnya belajar dapat didefenisikan yaitu: Suatu usaha atau
kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perubahan di dalam diri seseorang,
mencakup; perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan,
keterampilan dan sebagainya. Menurut para pakar psikologi belajar bahwa
pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk
diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup
juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang
bersangkutan.
Karakteristik
Belajar
a. Perubahan
itu intensional
b. Perubahan
itu positif dan aktif
c. Perubahan
itu efektif dan fungsional
Ragam
Belajar
a. Ragam
Abstrak
b. Ragam
Sosial
c. Ragam
Pemecahan Masalah
d. Belajar
Rasional
e. Ragam
Keterampilan
f. Ragam
Kebiasaan
Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
a. Faktor
Internal
b. Faktor
Eksternal
DAFTAR PUSTAKA
Munadi
Yudhi.2008. Media Pembelajaran. Ciputat:
GB Press.
Sumber
referensi internet:
http://pintubelajarcerdas.blogspot.co.id/2016/09/makalah-psikologi-belajar-tentang.html
http://dibukasaja.blogspot.com/2013/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses.html
http://seputarkampusorange.blogspot.com/2013/04/faktor-yang-mempengaruhi-belajar.html
Internet,
http://mediaindonesia.co.cc/search/label/psikologi+belajar, di akses 24 Juni
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar