Rabu, 28 Agustus 2019

DASAR-DASAR KEBUTUHAN ANAK UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN



DASAR-DASAR KEBUTUHAN ANAK UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN

A. Latar Belakang
Kesatuan wujud manusia antara fisik dan  psikis serta didukung oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan al-taqwin dan menempatkan manusia pada posisi yang strategis yaitu: 1.  Sebagai hamba Allah, 2. Sebagai Khalifah Allah di bumi.
Dalam proses mmpersiapkan generasi penerus estafet kekhalifahan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah, maka pendidikan yang ditawarkan harus mampu memberikan dan membentuk pribadi peserta didiknya dengan acuan nilai-nilai Ilahiyah. Namun tidak semua pendidikan dapat mengemban tugas dan fungsi manusia tersebut.
Maka terbentuklah suatu konsep yaitu Pendidikan Islam. Dengan pendidikan Islam manusia sebagai khalifah tidak akamn berbuat sesuatu yang mencerminkan kemungkaran kepada Allah dan bahkan ia berusaha agar segala aktivitasnya sebagai khalifah harus dilaksanakan dalam rangka ubudiyah kepada Allah SWT.
Dalam makalah ini penulis bermaksud menguraikan tentang dasar-dasar kebutuhan anak memperoleh Pendidikan yang terlebih dahulu kami uraikan tentang pengertian Ilmu Pendidikan Islam.

A. Pengertian Ilmu Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Dalam merumuskan pengertian pendidikan Islam, para ahli pendidikan Islam berbeda-beda pendapat, dari beberapa penegasan ahli-ahli pendidikan Islam tersebut dapat disimpulkan adanya titik persamaan yang secara ringkas sebagai berikut: Pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim.
2. Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah.
Ilmu Pendidikan Islam ialah ilmu yang membicarakan persoalan-persoalan pokok pendidikanIslam dan kegiatan mendidik anak untuk ditujukan ke arah terbentuknya kepribadian muslim.

B. Dasar-dasar Kebutuhan Anak untuk Memperoleh Pendidikan
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانِهِ أو يُنَصِّرانِهِ أو يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تَنْتَحُ الْبَهِيْمَةُ  بَهِيْمَةُ جَمْعَاءُ هَلْ تُحِسُّوْنَ مِنْ جَدْعَاءَ، ثُمَّ يَقُوْلُ أبو هُرَيْرَةَ، وَاقْرَؤُاْ إِنْ شِئْتُمْ فِطْرَةِ اللهِ الَّتي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَ لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ.  ( رواه مسلم )
Artinya   :    “Tiadalah seorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka akibat kedua orang tuanyalah yang me-Yahudikannya atau me-Nasranikannya atau me-Majusikannya. Sebagaimana halnya  binatang yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu lihat binatang itu tiada berhidung dan bertelinga? Kemudian Abu Hurairah berkata, apabila kamu mau bacalah lazimilah fitrah Allah yang telah Allah ciptakan kepada manusia di atas fitrah-Nya. Tiada penggantian terhadapo ciptaan allah. Itulah agama yang lurus (Islam).” (HR. Muslim)
Allah berfirman:
Artinya   :    “Tuhan itu melahirkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.” (Q.S. An-Nahl: 78)
Dari hadis dan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia itu untuk dapat menentukan status manusia sebagaimana mestinya adalah harus mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
Aspek paedagogis
Dalam aspek ini, para ahli didik memandang manusia sebagai animal educandum: makhluk yanmng memerlukan pendidikan. Dalam hal ini manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik. Sedangkan binatang pada umumnya adalah tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatihj secara dressur, artinya mengetrjakan sesuatu yang sifatnya statis, tidak berubah.
Aspek Sosiologis dan Kultural
Menurut ahli sosiologi pada prinsipnya, manusia adalah homosocius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau yang memiliki garizah (instink) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial manusia harus memiliki tanggung jawab sosial (social responsibility) yang diperlukan dalam mengembangkan hubungan timbal balik (inter relasi) dan saling pengaruh mempengaruhi.
Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini adalah aspek yang mengakui bahwa manusia itu adalah makhluk yang ber-Ketuhanan yang menurut istilah ahli disebut homo divinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homo religoius artinya makhluk yang beragama. Adapun kemampuan dasar yang menyebabkan manusia menjadi makhluk yang ber-Ketuhanan atau beragama adalah karena di dalam  jiwa manusia terdapat instink yang disebut instink religious atau garizah Diniyah.

C. Pertumbuhan Anak (Manusia)
Menurut pendapat para ahli mengenai periodisasi pertumbuhan anak itu bermacam-macam, tetapi dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu:
1. Pertumbuhan yang berdasarkan Biologis
Allah berfirman dalam surah Al-Mukmin ayat 67 yang artinya sebagai berikut:
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).
Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa anak itu tumbuh dan pertumbuhan ini melalui fase-fase sebagai berikut:
Masa embrio (manusia dalam perut ibu)
Masa kanak-kanak
Masda kuat (kuat jasmani dan rohani atau pikirannya)
Masa tua
Masa meninggal dunia.
2. Pertumbuhan yang berdasarkan Psikologis
Menurut Ali Fikri (seorang ahli didik Islam), pertumbuhan anak itu melaui 12 fase sebagai berikut:
Masa kanak-kanak (dari lahir sampai umur 7 tahun)
Masa berbicara (usia 8 tahun sampai 14 tahun)
Masa akil balig (umur 15 sampai 21 tahun)
Masa syabibah (adolesen) dari umur 22 sampai umur 26 tahun)
Masa rujulah (pemuda pertama atau dewasa) umur 29 sampai 42 tahun.
Masa kuhulah (usia 43 sampai 49 tahun)
Masa umur menurun (umur 50 sampai 56 tahun)
Masa kakek-kakek/nenek-nenek pertama (umur 56 sampai 63 tahun)
Masa kakek-kakek/nenek-nenek kedua (umur 64 sampai 75 tahun)
Masa harom (pikun) dari 75 sampai 91 tahun.
Akhirnya masa meninggal.
3. Pertumbuhan yang berdasarkan Didaktis
Pertumbuhan yang didasarkan segi-segi didaktis atau paedagogis ini terutama berasal dari sabda Rasul yang artinya sebagai berikut:
Anas berkata: nabi Muhammad SAW bersabda: “Anak itu pada hari ketujuh dari lahirnya disembelihkan akikah dan diberi nama serta dicukur rambutnya, kemudian setelah umur 6 tahun dididik beradab, setelah 9 tahun dipisah tempat tidunya, bila telah berumur 13 tahun dipukul karena meninggalkan sholat, setelah umur 16 tahun dikawinkan oleh orang tuanya, kemudian ayahnya berjabatan tangan dan mengatakan: saya telah mendidik kamu, mengajar dan mengawinkan kamu. Saya mohomn kepada Tuhan agar dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akhirat…”

D. Batas-batas Pendidikan Islam

1. Batas Awal Pendidikan Islam
Di kalangan aliran ahli didik Islam terdapat perbedaan pendapat tentang kapan anak mulai dapat dididik. Sebagian di antara mereka mengatakan setelah anak berusia 4 tahun.
Lain halnya dengan Prof. M. Athiyah Al-Abrasy di dalam bukunya “dasar-dasar Pokok Penddikan Islam” terdapat cerita yang menghasilkan kesimpulan bahwa anak setelah berusia 5 tahun, urutan-urutan ilmu yang diajarkan adalah: membaca Al-Qur`an, mempelajari syair, sejarah nenek moyang dan kjaumnya mengendarai kuda da menggunakan senjata.
Menurut Al `Aabdari anak mulai dididik dalam arti sesungguhnya setelah berusia 7 tahun.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa belum ada kesepakatan para ahli didik Islam tentang kapan anak mulai dapat dididik. Namun jika diterapkan dalam praktek pendidikan, maka dapat dijelaskan sebagai berikut: untuk dapat memasuki pendidikan pra sekolah sebaiknya setelah usia 5 tahun. Sedangkan untuk dapat memasuki pendidikan dasar, maka sebaiknya setelah anak berumur 7 tahun.
2. Batas Akhir Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan Islam yakni membentuk kepribadian muslim. Mengingat hal itu sangat sulit di samping itu sudah terwujudnya kepribadian muslim, diperlukan pemeliharaan kestabilan kepribadian muslim tersebut di atas dan mengingat pula sabda Rasulullah:
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلى اللَّحْدِ
Artinya   :  “Tuntutlah Ilmu sejak engkau dalam buaian sampai liang lahat.”
Maka dapat disimpulkan bahwa batas terakhir menuntut ilmu itu hingga akhir hayat.

E. Kemungkinan Keberhasilan Pendidikan Islam
a. Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi pembawaan yang dimiliki anak sejak lahir itulah yang menentukan perkembangannya dalam kehidupan.
b. Aliran Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang yang diterimanya sejak kecil. Tokoh aliran ini adalah John Lock.
c. Aliran Konvergensi
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor pembawaan dan lingkungan (kombinasi dari Nativisme dan Empirisme). Pendapat ini pertama kalinya dikemukakan oleh William Stern.
d. Pandangan Islam
Islam menyatakan bahwa manusia lahgir di dunia membawa pembawaan yang disebut fitrah. Fitrah ini berisi potensi untuk berkembang. Potensi ini dapat berupa keyakinan beragama, perilaku untuk menjadi baik atau menjadi buruk dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانِهِ أو يُنَصِّرانِهِ أو يُمَجِّسَانِهِ.
Artinya :  “semua anak dilahirkan membawa fitrah (bakat keagamaan) maka terserah kedua orang tuanya untuk menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Demikian pula Rasulullah SAW menasihati agar memilih wanita yang baik agar keturunan itu baik. Rasulullah SAW bersabda:
تَخَيَّرُوْا لِنُطَفِّكُمْ فَإِنَّ الْعَرَقَ سـَاسٌ
Artinya :  “pilihlah untuk benihmu karena kleturunan itu dapat mencelupkan.”
Di samping keturunan Islam juga menekankan kepada pendidikan dan usaha diri manusia untuk berusaha agar mencapai pertumbuhan yang optimal.
Allah SWT berfirman:
قُوْآ أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُـمْ نَـارًا……..
Artinya :  “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka……”
Dengan demikian menurut Islam perkembangan kehidupan manusia bahkan bahagia atau celakanya itu ditentukan oleh pembawaan, lingkungan dan usaha (aktivitas) manusia itu sendiri dalam mengusahakan perkembangannya.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk dapat menentukan status manusia sebagaimana mestinya adalah harus mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
Aspek Paedagogis
Aspek Sosiologis dan Kultural
Aspek Tauhid
Menurut pendapat para ahli mengenai periodisasi pertumbuhan anak itu bermacam-macam, tetapi dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu pertumbuhan yang didasarkan pada Biologis, Psikologis dan Didaktis.
B. Saran
Semua bayi yang dilahirkan ke dunia ini, bagaikan sebuah mutiara yang belum diukur dan belum berbentuk tapi sangat bernilai tinggi. Maka kedua orang tuanyalah sereta pendidiknya yang akan mengukir dan membentuknya menjadi mutiara yang berkualitas tinggi dan disenangi semua orang.

DAFTAR PUSTAKA

Nur Uhbiyati, ILMU PENDIDIKAN ISLAM (IPI) 1, Bandung : Pustaka Setia, 1998.
Ramayulis, ILMU PENDIDIKAN ISLAM, Jakarta : Kalam Mulia, 2008.


8 Keutamaan Belajar Dalam Islam
Ilmu pengetahuan adalah hal yang penting bagi kehidupan agar manusia dapat mencapai salah satu tujuan penciptaan manusia  yaitu menjadi khalifah dibumi. Oleh sebab itu seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu agar dapat memahami hakikat kehidupan dan isinya serta mengetahui bagaimana proses penciptaan manusia menurut Islam dan makhluk lainnya, agar kita mengerti akan hakikat penciptaan manusia, sehingga bertambah keimanan mereka terhadap Allah SWT.
Hukum menuntut ilmu dalam Islam adalah wajib karena ilmu berguna untuk manusia mencapai sukses dunia akhirat menurut Islam  seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. berikut :
“Barang siapa yang ingin mendapatkan kesuksesan hidup di dunia dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin mendapatkan kebahagiaan akhiratnya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan keduanya juga dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan.”
Keutamaan Belajar menurut Islam
Dalam mendapatkan ilmu pengetahuan, manusia diharuskan untuk menuntut ilmu atau yang biasa disebut belajar. Dalam Islam belajar juga memiliki keutamaan, sebagai berikut :

1. Allah akan memudahkan jalannya menuju surga
Dari Abu Hurairah, di riwayatkan sebagai berikut :
“Siapa saja yang mengadakan perjalanan untuk usaha menuntut ilmu, maka Allah akan menganugerhkannya jalan ke surga.” (HR. Muslim)
Dalam hadits tersebut yang dimaksud dengan mengadakan perjalanan untuk usaha menuntut ilmu adalah belajar.

2. Para malaikat akan membentangkan sayap untuk orang yang menuntut ilmu
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda :
“Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap mereka kepada para pencari ilmu, sebagai pertanda ridha dengan usaha orang-orang itu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)



3. Orang yang belajar adalah orang yang lebih baik dari dunia dan isinya
Rasulullah SAW. bersabda :
“Seseorang yang mempelajari satu bab dari suatu ilmu masih jauh lebih baik nilainya daripada dunia dan isinya.” (HR. Ibnu Hibban)

4. Orang yang belajar akan mendapat pahala
Rasulullah SAW. bersabda :
“Ilmu itu laksana sebuah gudang, sedangkan kunci pembukanya adalah bertanya. Sesungguhnya, ada pahala bagi empat golongan manusia, yaitu orang yang bertanya, orang yang menjawab, orang yang mendengar dan orang yang suka dengan kondisi mereka bertiga.”(HR. Abu Nu’aim)

Dalam hadits tersebut bertanya sama dengan belajar. Dalam proses belajar seseorang akan bertanya untuk hal-hal yang tidak dimengerti.

5. Orang yang menuntut ilmu lebih baik dari shalat sunnah seratus rakaat
Dari Ibnu Abdul Birri, Rasulullah SAW. pernah bersabda dengan mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang pergi mempelajari satu bab dari ilmu, ia lebih baik dari orang yang melakukan sholat sebanyak seratus rakaat.

6. Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban dalam Islam
Bagi umat muslim menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, untuk membedakan mereka dengan orang-orang yang jahiliyah dan agar mereka dapat menyempurnakan ibadahnya kepada Allah SWT. Rasulullahpernah bersabda :
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”


7. Orang yang belajar akan mendapatkan pengetahuan lebih
Ilmu pengetahuan hanya akan didapat dan bertambah apabila seseorang terus belajar dan belajar. Tanpa belajar mereka tidak akan mendapatkan pengetahuan, dan pengetahuannya hanyalah sebatas apa yang mereka kehendaki.
                                   

Orang yang menuntut ilmu sama dengan berjihad
Menuntut ilmu atau belajar merupakan suatu upaya untuk memberantas ketidaktahuan dan kebodohan, itulah mengapa dikatakan orang yang berilmu sama seperti orang yang berjihad dijalan Allah SWT. karena mereka yang belajar diibaratkan sepertii sedang memerangi kebodohan atau kejahiliyahan.
Dari beberapa keutamaan belajar diatas, kita dapat menyimpulkan, bahwa belajar adalah suatu upaya yang di ridhai oleh Allah SWT. jika hal tersebut menngandung kebaikan, terutama jika hal tersebut berkaitan dengan agama.


Adab Belajar Menurut Islam
Sebaik-baik "ilmu" adalah"ilmu" yang bermanfaat bagi kehidupan alam semesta. Dalam halmencari "ilmu", para alim ulama telah sepakat bahwa mengetahui adab ber"ilmu" lebih pentingdari "ilmu" itu sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin dalam kitabnya "KitabulIlmi", menyebutkan beberapa adab dalam mencari "ilmu", antara lain :
1.Ikhlas Karena Allah SWT.
 Niat menuntut "ilmu" hendaklah karena Allah SWT. Apabila seseorang menuntut "ilmu"hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau inginmenjadi orang terpandang, arau niat yang sejenisnya, maka Nabi SAW telah memperingatkan,seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud :"Barangsiapa yang mempelajari suatu "ilmu" tidak karena Allah, dia tidak akan mendapatkanharumnya surga di hari kiamat".
2. Untuk Menghilangkan Kebodohan dari Dirinya dan Orang Lain.
Semua manusia pada mulanya bodoh, maka dari itu kita harus berniat menghilangkankebodohan dengan cara menuntut "ilmu". Setelah kita memiliki "ilmu", kita wajibmengajarkannya kepada orang lain untuk menghilangkan kebodohan dari diri mereka. Rasulullah bersabda : "Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat. (HR. Bukhari). Dan kita sebagaiumat "Islam" juga diwajibkan selalu untuk menuntut "ilmu" dan menambah "ilmu" pengetahuanyang kita miliki seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa Ayat 114 :"Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesamembaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah "YaTuhanku, tambahkanlah kepadaku "ilmu" pengetahuan".
3. Berniat Menuntut "Ilmu" Untuk Membela Syari'at.
Penuntut "ilmu" harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang (bid'ah),sebagaimana ajaran Rasulullah SAW. Hal ini sulit dilakukan, kecuali oleh orang yang memiliki"ilmu" yang benar, sesuai petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.
4. Lapang Dada Dalam Menerima Perbedaan Pendapat.
Penuntut "ilmu" hendaknya menerima perbedaan pendapat dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalan ijtihad, bukan persoalan aqidah. Jangan sampai kita menghina ataumenjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita. Hal ini sesuai denganSurat Al-Mujaadilah Ayat 11 yang telah dijelaskan di atas.
5. Mengamalkan "Ilmu" Yang Telah Didapatkan.
Salah satu adab yang terpenting bagi para penuntut "ilmu" adalah mengamalkan "ilmu" yangtelah diperoleh. Amal adalah buah dari "ilmu", baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupunmuamalah. "Ilmu" tidak akan ada manfaatnya kecuali diamalkan.
6. Menghormati Para Ulama dan Memuliakan Mereka.
Penuntut "ilmu" harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadidi kalangan ulama. Jangan sampai kita mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru didalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang awam saja sudah termasuk dosa besarapalagi terhadap ulama.
7. Mencari Kebenaran dan Sabar.
Seorang penuntut "ilmu" harus mencari kebenaran dari "ilmu" yang telah didapatkan. Ketikasampai kepada kita sebauah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dulu tentang keshahihanhadits tersebut, kita harus sabar, tidak boleh tergesa-gesa. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa-apa.Itulah tadi beberapa adab dalam mencari "ilmu". Semoga kita termasuk orang yang senangmencari "ilmu". Dan semoga Allah selalu melindungi kita dari "ilmu" yang tidak bermanfaat,yaitu "ilmu" yang bisa menghancurkan kehidupan alam semesta ini. "Ilmu" yang tidak bermanfaat juga akan jadi bumerang bagi diri kita. A'udzubillah min dzalik............

Sebagai manusia kita harus menyadari, bahwa sepandai-pandai manusia masih ada yangmaha pandai yaitu Allah. Jangan sampai kita merasa sombong hanya karena memiliki "ilmu"yang melebihi orang lain. Allah memiliki "ilmu" yang meliputi segala "ilmu" yang dimiliki olehmanusia, seperti yang difirmankan dalam Al-Qur'an Surat Al-Israa' Ayat 60 :"Dan ingatlah, ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sesungguhnya ("Ilmu") Tuhanmu meliputisegala manusia". .........................
"Sedangkan "ilmu" itu sendiri mempunyai banyak keistimewaan apabila dibandingkan denganharta, antara lain :
1. "Ilmu" merupakan warisan dari para Nabi, alim ulama dan "ilmu"wan; sedangkan hartamerupakan tinggalan dari Raja Fir'aun dan para koruptor.
2. "Ilmu" menjaga diri kita sedangkan harta kita yang menjaganya.
3. Orang yang ber"ilmu" banyak saudara, sedangkan orang kaya banyak musuhnya
.4. "Ilmu" apabila diberikan kepada orang lain akan bertambah, sedangkan harta apabiladibelanjakan malah akan berkurang.
5. Orang kaya sering mendapat julukan pelit' kikir, sedangkan orang ber"ilmu" sering mendapat julukan yang mulia.
6. "Ilmu" tidak perlu dijaga dari maling karena tidak akan hilang, sedangkan harta dijaga darimaling.
7. Pada hari akhir, orang yang ber"ilmu" akan mendapat pertolongan, sedangkan orang yangmemiliki harta akan dihitung.
8. "Ilmu" tidak akan rusak sepanjang jaman, bahkan semakin lama akan semakin lancar atau pintar; sedangkan harta semakin lama akan mengalami kerusakan atau usang.
9. "Ilmu" akan membuat hati kita padang dan empuk; sedangkan harta akan membuat hati kitagelap dan keras. 
10.Orang yang punya "ilmu" akan mengaku sebagai hamba Allah; sedangkan orang yangmemiliki banyak harta akan mengaku jadi Tuhan.Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari keadaan miskin "ilmu", karena "ilmu" pengetahuan merupakan modal untuk memperbaiki diri. Alangkah malangnya nasib kita apabiladalam hidup ini "ilmu" pengetahuan kita tidak bertambah. Tidak bertambahnya "ilmu" pengetahuan berarti kualitas kehidupan kita pun akan statis tidak berkembang, bahkan boleh jadilambat laun kualitas kehidupan kita akan menurun.Betapa ruginya kita apabila tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai jalan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang cukup,dalam kehidupannya seringkali dieksploitasi oleh orang lain. Orang yang tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang memadai sering tidak berdaya menghadapi tantangan kehidupan ini. Hidup iniakan sangat berarti ketika "ilmu" kita terus bertambah dari waktu ke waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEORI EVOLUSI DAN REKAYASA PRODUKSI MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT dan AL – QUR’AN ( IAD )

TEORI EVOLUSI DAN REKAYASA PRODUKSI MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT dan AL – QUR’AN Diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata ku...