DASAR-DASAR KEBUTUHAN ANAK UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN
A. Latar Belakang
Kesatuan wujud manusia antara fisik dan psikis serta
didukung oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia
sebagai ahsan al-taqwin dan menempatkan manusia pada posisi yang
strategis yaitu: 1. Sebagai hamba Allah, 2. Sebagai Khalifah Allah di
bumi.
Dalam proses mmpersiapkan generasi penerus estafet
kekhalifahan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah, maka pendidikan yang
ditawarkan harus mampu memberikan dan membentuk pribadi peserta didiknya dengan
acuan nilai-nilai Ilahiyah. Namun tidak semua pendidikan dapat mengemban tugas
dan fungsi manusia tersebut.
Maka terbentuklah suatu konsep yaitu Pendidikan Islam. Dengan
pendidikan Islam manusia sebagai khalifah tidak akamn berbuat sesuatu yang
mencerminkan kemungkaran kepada Allah dan bahkan ia berusaha agar segala
aktivitasnya sebagai khalifah harus dilaksanakan dalam
rangka ubudiyah kepada Allah SWT.
Dalam makalah ini penulis bermaksud menguraikan tentang
dasar-dasar kebutuhan anak memperoleh Pendidikan yang terlebih dahulu kami
uraikan tentang pengertian Ilmu Pendidikan Islam.
A. Pengertian Ilmu Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Dalam merumuskan pengertian pendidikan Islam, para ahli
pendidikan Islam berbeda-beda pendapat, dari beberapa penegasan ahli-ahli
pendidikan Islam tersebut dapat disimpulkan adanya titik persamaan yang secara
ringkas sebagai berikut: Pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan
oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki
kepribadian muslim.
2. Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara
sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah.
Ilmu Pendidikan Islam ialah ilmu yang membicarakan
persoalan-persoalan pokok pendidikanIslam dan kegiatan mendidik anak untuk
ditujukan ke arah terbentuknya kepribadian muslim.
B. Dasar-dasar Kebutuhan Anak untuk Memperoleh
Pendidikan
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari
orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar
yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ
يُهَوِّدانِهِ أو يُنَصِّرانِهِ أو يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تَنْتَحُ
الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةُ جَمْعَاءُ هَلْ تُحِسُّوْنَ مِنْ جَدْعَاءَ، ثُمَّ
يَقُوْلُ أبو هُرَيْرَةَ، وَاقْرَؤُاْ إِنْ شِئْتُمْ فِطْرَةِ اللهِ الَّتي فَطَرَ
النَّاسَ عَلَيْهَ لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذلِكَ الدِّيْنُ
الْقَيِّمُ. ( رواه مسلم )
Artinya : “Tiadalah
seorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka akibat kedua orang
tuanyalah yang me-Yahudikannya atau me-Nasranikannya atau me-Majusikannya.
Sebagaimana halnya binatang yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu
lihat binatang itu tiada berhidung dan bertelinga? Kemudian Abu Hurairah
berkata, apabila kamu mau bacalah lazimilah fitrah Allah yang telah Allah
ciptakan kepada manusia di atas fitrah-Nya. Tiada penggantian terhadapo ciptaan
allah. Itulah agama yang lurus (Islam).” (HR. Muslim)
Allah berfirman:
Artinya : “Tuhan itu
melahirkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun.” (Q.S. An-Nahl: 78)
Dari hadis dan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia
itu untuk dapat menentukan status manusia sebagaimana mestinya adalah harus
mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung
aspek-aspek yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
Aspek paedagogis
Dalam aspek ini, para ahli didik memandang manusia sebagai
animal educandum: makhluk yanmng memerlukan pendidikan. Dalam hal ini
manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat
dididik. Sedangkan binatang pada umumnya adalah tidak dapat dididik, melainkan
hanya dilatihj secara dressur, artinya mengetrjakan sesuatu yang sifatnya
statis, tidak berubah.
Aspek Sosiologis dan Kultural
Menurut ahli sosiologi pada prinsipnya, manusia
adalah homosocius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau
yang memiliki garizah (instink) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai
makhluk sosial manusia harus memiliki tanggung jawab sosial (social
responsibility) yang diperlukan dalam mengembangkan hubungan timbal balik
(inter relasi) dan saling pengaruh mempengaruhi.
Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini adalah aspek yang mengakui bahwa manusia itu
adalah makhluk yang ber-Ketuhanan yang menurut istilah ahli disebut homo divinous (makhluk
yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homo religoius artinya
makhluk yang beragama. Adapun kemampuan dasar yang menyebabkan manusia menjadi
makhluk yang ber-Ketuhanan atau beragama adalah karena di dalam jiwa manusia
terdapat instink yang disebut instink religious atau garizah
Diniyah.
C. Pertumbuhan Anak (Manusia)
Menurut pendapat para ahli mengenai periodisasi pertumbuhan
anak itu bermacam-macam, tetapi dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu:
1. Pertumbuhan yang berdasarkan Biologis
Allah berfirman dalam surah Al-Mukmin ayat 67 yang artinya
sebagai berikut:
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes
air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai
seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa
(dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada
yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada
ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).
Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa anak itu tumbuh dan
pertumbuhan ini melalui fase-fase sebagai berikut:
Masa embrio (manusia dalam perut ibu)
Masa kanak-kanak
Masda kuat (kuat jasmani dan rohani atau pikirannya)
Masa tua
Masa meninggal dunia.
2. Pertumbuhan yang berdasarkan Psikologis
Menurut Ali Fikri (seorang ahli didik Islam), pertumbuhan
anak itu melaui 12 fase sebagai berikut:
Masa kanak-kanak (dari lahir sampai umur 7 tahun)
Masa berbicara (usia 8 tahun sampai 14 tahun)
Masa akil balig (umur 15 sampai 21 tahun)
Masa syabibah (adolesen) dari umur 22 sampai umur 26 tahun)
Masa rujulah (pemuda pertama atau dewasa) umur 29 sampai 42
tahun.
Masa kuhulah (usia 43 sampai 49 tahun)
Masa umur menurun (umur 50 sampai 56 tahun)
Masa kakek-kakek/nenek-nenek pertama (umur 56 sampai 63
tahun)
Masa kakek-kakek/nenek-nenek kedua (umur 64 sampai 75 tahun)
Masa harom (pikun) dari 75 sampai 91 tahun.
Akhirnya masa meninggal.
3. Pertumbuhan yang berdasarkan Didaktis
Pertumbuhan yang didasarkan segi-segi didaktis atau
paedagogis ini terutama berasal dari sabda Rasul yang artinya sebagai berikut:
Anas berkata: nabi Muhammad SAW bersabda: “Anak itu pada hari
ketujuh dari lahirnya disembelihkan akikah dan diberi nama serta dicukur
rambutnya, kemudian setelah umur 6 tahun dididik beradab, setelah 9 tahun
dipisah tempat tidunya, bila telah berumur 13 tahun dipukul karena meninggalkan
sholat, setelah umur 16 tahun dikawinkan oleh orang tuanya, kemudian ayahnya
berjabatan tangan dan mengatakan: saya telah mendidik kamu, mengajar dan
mengawinkan kamu. Saya mohomn kepada Tuhan agar dijauhkan dari fitnahmu di
dunia dan siksamu di akhirat…”
D. Batas-batas Pendidikan Islam
1. Batas Awal Pendidikan Islam
Di kalangan aliran ahli didik Islam terdapat perbedaan
pendapat tentang kapan anak mulai dapat dididik. Sebagian di antara mereka
mengatakan setelah anak berusia 4 tahun.
Lain halnya dengan Prof. M. Athiyah Al-Abrasy di dalam
bukunya “dasar-dasar Pokok Penddikan Islam” terdapat cerita yang menghasilkan
kesimpulan bahwa anak setelah berusia 5 tahun, urutan-urutan ilmu yang
diajarkan adalah: membaca Al-Qur`an, mempelajari syair, sejarah nenek moyang
dan kjaumnya mengendarai kuda da menggunakan senjata.
Menurut Al `Aabdari anak mulai dididik dalam arti
sesungguhnya setelah berusia 7 tahun.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa belum ada
kesepakatan para ahli didik Islam tentang kapan anak mulai dapat dididik. Namun
jika diterapkan dalam praktek pendidikan, maka dapat dijelaskan sebagai
berikut: untuk dapat memasuki pendidikan pra sekolah sebaiknya setelah usia 5
tahun. Sedangkan untuk dapat memasuki pendidikan dasar, maka sebaiknya setelah
anak berumur 7 tahun.
2. Batas Akhir Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan Islam yakni membentuk kepribadian muslim.
Mengingat hal itu sangat sulit di samping itu sudah terwujudnya kepribadian
muslim, diperlukan pemeliharaan kestabilan kepribadian muslim tersebut di atas
dan mengingat pula sabda Rasulullah:
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلى اللَّحْدِ
Artinya : “Tuntutlah Ilmu sejak engkau
dalam buaian sampai liang lahat.”
Maka dapat disimpulkan bahwa batas terakhir menuntut ilmu itu
hingga akhir hayat.
E. Kemungkinan Keberhasilan Pendidikan Islam
a. Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan
oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi pembawaan yang dimiliki anak
sejak lahir itulah yang menentukan perkembangannya dalam kehidupan.
b. Aliran Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan
oleh faktor lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang yang diterimanya
sejak kecil. Tokoh aliran ini adalah John Lock.
c. Aliran Konvergensi
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan
oleh faktor pembawaan dan lingkungan (kombinasi
dari Nativisme dan Empirisme). Pendapat ini pertama kalinya
dikemukakan oleh William Stern.
d. Pandangan Islam
Islam menyatakan bahwa manusia lahgir di dunia membawa
pembawaan yang disebut fitrah. Fitrah ini berisi potensi untuk berkembang.
Potensi ini dapat berupa keyakinan beragama, perilaku untuk menjadi baik atau
menjadi buruk dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانِهِ أو يُنَصِّرانِهِ أو يُمَجِّسَانِهِ.
Artinya : “semua anak dilahirkan membawa fitrah
(bakat keagamaan) maka terserah kedua orang tuanya untuk menjadikannya beragama
Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Demikian pula Rasulullah SAW menasihati agar memilih wanita
yang baik agar keturunan itu baik. Rasulullah SAW bersabda:
تَخَيَّرُوْا لِنُطَفِّكُمْ فَإِنَّ الْعَرَقَ سـَاسٌ
Artinya : “pilihlah untuk benihmu karena
kleturunan itu dapat mencelupkan.”
Di samping keturunan Islam juga menekankan kepada pendidikan
dan usaha diri manusia untuk berusaha agar mencapai pertumbuhan yang optimal.
Allah SWT berfirman:
قُوْآ أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُـمْ نَـارًا……..
Artinya : “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka……”
Dengan demikian menurut Islam perkembangan kehidupan manusia
bahkan bahagia atau celakanya itu ditentukan oleh pembawaan, lingkungan dan
usaha (aktivitas) manusia itu sendiri dalam mengusahakan perkembangannya.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk dapat menentukan status manusia sebagaimana mestinya
adalah harus mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini jika diamati lebih jauh
sebenarnya mengandung aspek-aspek yang antara lain dapat dikemukakan sebagai
berikut:
Aspek Paedagogis
Aspek Sosiologis dan Kultural
Aspek Tauhid
Menurut pendapat para ahli mengenai periodisasi pertumbuhan
anak itu bermacam-macam, tetapi dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu
pertumbuhan yang didasarkan pada Biologis, Psikologis dan Didaktis.
B. Saran
Semua bayi yang dilahirkan ke dunia ini, bagaikan sebuah
mutiara yang belum diukur dan belum berbentuk tapi sangat bernilai tinggi. Maka
kedua orang tuanyalah sereta pendidiknya yang akan mengukir dan membentuknya
menjadi mutiara yang berkualitas tinggi dan disenangi semua orang.
DAFTAR PUSTAKA
Nur Uhbiyati, ILMU PENDIDIKAN ISLAM (IPI) 1, Bandung :
Pustaka Setia, 1998.
Ramayulis, ILMU PENDIDIKAN ISLAM, Jakarta : Kalam Mulia,
2008.
8
Keutamaan Belajar Dalam Islam
Ilmu
pengetahuan adalah hal yang penting bagi kehidupan agar manusia dapat mencapai
salah satu tujuan penciptaan manusia
yaitu menjadi khalifah dibumi. Oleh sebab itu seorang muslim diwajibkan
untuk menuntut ilmu agar dapat memahami hakikat kehidupan dan isinya serta
mengetahui bagaimana proses penciptaan manusia menurut Islam dan
makhluk lainnya, agar kita mengerti akan hakikat penciptaan manusia,
sehingga bertambah keimanan mereka terhadap Allah SWT.
Hukum
menuntut ilmu dalam Islam adalah wajib karena ilmu berguna untuk manusia
mencapai sukses dunia akhirat menurut Islam seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits
Rasulullah SAW. berikut :
“Barang
siapa yang ingin mendapatkan kesuksesan hidup di dunia dituntut untuk menguasai
ilmu pengetahuan, dan barang siapa yang ingin mendapatkan kebahagiaan
akhiratnya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan, dan barang siapa yang
ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan keduanya juga dituntut untuk
menguasai ilmu pengetahuan.”
Keutamaan
Belajar menurut Islam
Dalam
mendapatkan ilmu pengetahuan, manusia diharuskan untuk menuntut ilmu atau yang
biasa disebut belajar. Dalam Islam belajar juga memiliki keutamaan, sebagai
berikut :
1. Allah
akan memudahkan jalannya menuju surga
Dari
Abu Hurairah, di riwayatkan sebagai berikut :
“Siapa
saja yang mengadakan perjalanan untuk usaha menuntut ilmu, maka Allah akan
menganugerhkannya jalan ke surga.” (HR. Muslim)
Dalam
hadits tersebut yang dimaksud dengan mengadakan perjalanan untuk usaha menuntut
ilmu adalah belajar.
2. Para
malaikat akan membentangkan sayap untuk orang yang menuntut ilmu
Dalam
sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda :
“Sesungguhnya
para malaikat membentangkan sayap mereka kepada para pencari ilmu, sebagai
pertanda ridha dengan usaha orang-orang itu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan
Al-Hakim)
3. Orang
yang belajar adalah orang yang lebih baik dari dunia dan isinya
Rasulullah
SAW. bersabda :
“Seseorang
yang mempelajari satu bab dari suatu ilmu masih jauh lebih baik nilainya
daripada dunia dan isinya.” (HR. Ibnu Hibban)
4. Orang
yang belajar akan mendapat pahala
Rasulullah
SAW. bersabda :
“Ilmu
itu laksana sebuah gudang, sedangkan kunci pembukanya adalah bertanya.
Sesungguhnya, ada pahala bagi empat golongan manusia, yaitu orang yang
bertanya, orang yang menjawab, orang yang mendengar dan orang yang suka dengan
kondisi mereka bertiga.”(HR. Abu Nu’aim)
Dalam hadits tersebut bertanya sama dengan belajar. Dalam proses belajar seseorang akan bertanya untuk hal-hal yang tidak dimengerti.
5. Orang
yang menuntut ilmu lebih baik dari shalat sunnah seratus rakaat
Dari
Ibnu Abdul Birri, Rasulullah SAW. pernah bersabda dengan mengatakan bahwa
sesungguhnya orang yang pergi mempelajari satu bab dari ilmu, ia lebih baik
dari orang yang melakukan sholat sebanyak seratus rakaat.
6. Menuntut
ilmu adalah sebuah kewajiban dalam Islam
Bagi
umat muslim menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, untuk membedakan mereka
dengan orang-orang yang jahiliyah dan agar mereka dapat menyempurnakan ibadahnya
kepada Allah SWT. Rasulullahpernah bersabda :
“Menuntut
ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
7. Orang
yang belajar akan mendapatkan pengetahuan lebih
Ilmu
pengetahuan hanya akan didapat dan bertambah apabila seseorang terus belajar
dan belajar. Tanpa belajar mereka tidak akan mendapatkan pengetahuan, dan
pengetahuannya hanyalah sebatas apa yang mereka kehendaki.
Orang
yang menuntut ilmu sama dengan berjihad
Menuntut
ilmu atau belajar merupakan suatu upaya untuk memberantas ketidaktahuan dan
kebodohan, itulah mengapa dikatakan orang yang berilmu sama seperti orang yang
berjihad dijalan Allah SWT. karena mereka yang belajar diibaratkan sepertii
sedang memerangi kebodohan atau kejahiliyahan.
Dari
beberapa keutamaan belajar diatas, kita dapat menyimpulkan, bahwa belajar
adalah suatu upaya yang di ridhai oleh Allah SWT. jika hal tersebut
menngandung kebaikan, terutama jika hal tersebut berkaitan dengan agama.
Adab
Belajar Menurut Islam
Sebaik-baik
"ilmu" adalah"ilmu" yang bermanfaat bagi kehidupan alam
semesta. Dalam halmencari "ilmu", para alim ulama telah sepakat bahwa
mengetahui adab ber"ilmu" lebih pentingdari "ilmu" itu
sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin dalam kitabnya
"KitabulIlmi", menyebutkan beberapa adab dalam mencari
"ilmu", antara lain :
1.Ikhlas
Karena Allah SWT.
Niat menuntut "ilmu" hendaklah karena Allah SWT. Apabila seseorang menuntut "ilmu"hanya
untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau
inginmenjadi orang terpandang, arau niat yang sejenisnya, maka Nabi SAW telah
memperingatkan,seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud
:"Barangsiapa yang mempelajari suatu "ilmu" tidak karena Allah,
dia tidak akan mendapatkanharumnya surga di hari kiamat".
2.
Untuk Menghilangkan Kebodohan dari Dirinya dan Orang Lain.
Semua
manusia pada mulanya bodoh, maka dari itu kita harus berniat
menghilangkankebodohan dengan cara menuntut "ilmu". Setelah kita
memiliki "ilmu", kita wajibmengajarkannya kepada orang lain untuk
menghilangkan kebodohan dari diri mereka. Rasulullah bersabda : "Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat. (HR. Bukhari). Dan kita sebagaiumat
"Islam" juga diwajibkan selalu untuk menuntut "ilmu" dan
menambah "ilmu" pengetahuanyang kita miliki seperti yang dijelaskan
dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa Ayat 114 :"Maka Maha Tinggi Allah Raja yang
sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesamembaca Al-Qur'an sebelum
disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah "YaTuhanku,
tambahkanlah kepadaku "ilmu" pengetahuan".
3.
Berniat Menuntut "Ilmu" Untuk Membela Syari'at.
Penuntut
"ilmu" harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang
(bid'ah),sebagaimana ajaran Rasulullah SAW. Hal ini sulit dilakukan, kecuali
oleh orang yang memiliki"ilmu" yang benar, sesuai petunjuk Al-Qur'an
dan As-Sunnah.
4.
Lapang Dada Dalam Menerima Perbedaan Pendapat.
Penuntut
"ilmu" hendaknya menerima perbedaan pendapat dengan lapang dada
selama perbedaan itu pada persoalan ijtihad,
bukan persoalan aqidah. Jangan sampai kita
menghina ataumenjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pendapat dengan
kita. Hal ini sesuai denganSurat Al-Mujaadilah Ayat 11 yang
telah dijelaskan di atas.
5.
Mengamalkan "Ilmu" Yang Telah Didapatkan.
Salah
satu adab yang terpenting bagi para penuntut "ilmu" adalah
mengamalkan "ilmu" yangtelah diperoleh. Amal adalah buah dari
"ilmu", baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupunmuamalah.
"Ilmu" tidak akan ada manfaatnya kecuali diamalkan.
6.
Menghormati Para Ulama dan Memuliakan Mereka.
Penuntut
"ilmu" harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat
yang terjadidi kalangan ulama. Jangan sampai kita mengumpat atau mencela ulama
yang kebetulan keliru didalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang awam
saja sudah termasuk dosa besarapalagi terhadap ulama.
7.
Mencari Kebenaran dan Sabar.
Seorang
penuntut "ilmu" harus mencari kebenaran dari "ilmu" yang
telah didapatkan. Ketikasampai kepada kita sebauah hadits misalnya, kita harus
meneliti lebih dulu tentang keshahihanhadits tersebut, kita harus sabar, tidak
boleh tergesa-gesa. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran
setengah-setengah. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa-apa.Itulah
tadi beberapa adab dalam mencari "ilmu". Semoga kita termasuk orang
yang senangmencari "ilmu". Dan semoga Allah selalu melindungi kita dari
"ilmu" yang tidak bermanfaat,yaitu "ilmu" yang bisa
menghancurkan kehidupan alam semesta ini. "Ilmu" yang
tidak bermanfaat juga akan jadi bumerang bagi diri kita. A'udzubillah min
dzalik............
Sebagai
manusia kita harus menyadari, bahwa sepandai-pandai manusia masih ada yangmaha
pandai yaitu Allah. Jangan sampai kita merasa sombong hanya karena memiliki
"ilmu"yang melebihi orang lain. Allah memiliki "ilmu" yang
meliputi segala "ilmu" yang dimiliki olehmanusia, seperti yang
difirmankan dalam Al-Qur'an Surat Al-Israa' Ayat 60 :"Dan ingatlah,
ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sesungguhnya ("Ilmu") Tuhanmu
meliputisegala manusia". .........................
"Sedangkan
"ilmu" itu sendiri mempunyai banyak keistimewaan apabila dibandingkan
denganharta, antara lain :
1.
"Ilmu" merupakan warisan dari para Nabi, alim ulama dan
"ilmu"wan; sedangkan hartamerupakan tinggalan dari Raja Fir'aun dan
para koruptor.
2.
"Ilmu" menjaga diri kita sedangkan harta kita yang menjaganya.
3.
Orang yang ber"ilmu" banyak saudara, sedangkan orang kaya banyak
musuhnya
.4.
"Ilmu" apabila diberikan kepada orang lain akan bertambah, sedangkan
harta apabiladibelanjakan malah akan berkurang.
5.
Orang kaya sering mendapat julukan pelit' kikir, sedangkan orang
ber"ilmu" sering mendapat julukan yang mulia.
6.
"Ilmu" tidak perlu dijaga dari maling karena tidak akan hilang,
sedangkan harta dijaga darimaling.
7.
Pada hari akhir, orang yang ber"ilmu" akan mendapat pertolongan,
sedangkan orang yangmemiliki harta akan dihitung.
8.
"Ilmu" tidak akan rusak sepanjang jaman, bahkan semakin lama akan
semakin lancar atau pintar; sedangkan harta semakin lama akan mengalami
kerusakan atau usang.
9.
"Ilmu" akan membuat hati kita padang dan empuk; sedangkan harta akan
membuat hati kitagelap dan keras.
10.Orang
yang punya "ilmu" akan mengaku sebagai hamba Allah; sedangkan orang
yangmemiliki banyak harta akan mengaku jadi Tuhan.Semoga Allah senantiasa
menjauhkan kita dari keadaan miskin "ilmu", karena
"ilmu" pengetahuan merupakan modal
untuk memperbaiki diri. Alangkah malangnya nasib kita
apabiladalam hidup ini "ilmu" pengetahuan kita tidak bertambah. Tidak
bertambahnya "ilmu" pengetahuan berarti kualitas kehidupan
kita pun akan statis tidak berkembang, bahkan boleh jadilambat
laun kualitas kehidupan kita akan menurun.Betapa ruginya kita apabila tidak
memiliki "ilmu" pengetahuan yang dapat dijadikan
sebagai jalan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang cukup,dalam
kehidupannya seringkali dieksploitasi oleh orang lain. Orang yang tidak memiliki
"ilmu" pengetahuan yang memadai sering tidak berdaya menghadapi
tantangan kehidupan ini. Hidup iniakan sangat berarti ketika
"ilmu" kita terus bertambah dari waktu ke waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar