Sabtu, 20 Juli 2019

ANALISIS TERHADAP MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM


KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb.
          Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah yang maha kuasa karena  atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah  yang senantiasa dilimpahkan kepada kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan  kemudahan untuk mengumpulkan Reprensi dalam menyusun makalah mengenai Analisis Terhadap Model Pengembangan Kurikulum.
Adapun maksud dan tujuan membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Telaah Kurikulum, Semester Genap.
         Kami juga  sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan yang seharusnya itu menjadi suatu hal yang sangat Subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami sebagai penyusun makalah ini  sangat mengharapkan masukan – masukan agar sekiranya makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga dapat bermamfaat untuk kita semua.
          Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu banyak memberikan dampak positif bagi rekan – rekan mahasiswa lainnya, Semoga Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Wassalamu A’laikum Wr.Wb
Purwakarta, 4 Juli 2019
Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan Penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Pengertian Kurikulum 2
B. Komponen Kurikulum 2
C. Pengertian dan Landasan Pengembangan Kurikulum 4
D. Prinsip Pengembangan Kurikulum 8
E. Model Pengembangan Kurikulum 10
F. Langkah-Langkah Dalam Pengembangan Kurikulum Di Sekolah 12
G. Kesulitan-kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum 13
H. Pendekatan Pengembangan Kurikulum 13
I. Ciri-ciri Hasil Dari Pengembangan 14
J. Pengembangan Kurikulum 2013 15
BAB III PENUTUP 17
KESIMPULAN 17
DAFTAR PUSTAKA 18


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kurikulum adalah suatu sistem yang ditujukan kepada seseorang atau terhadap sesuatu pihak yang terlibat di dalamnya. Kurikulum juga adalah sebuah bahan ajar terhadap murid/siswa dalam proses pembelajaran.
Dari dulu hingga saat ini, kurikulum akan selalu mengalami pengembangan demi pengembangan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kecenderungan adanya pengembangan juga perlu dipahami oleh pendidik, khususnya orang tua dan guru. Dan cara itu disebut dengan model pengembangan kurikulum.
Terdapat berbagai faktor bagaimana kurikulum itu harus berubah. Landasan-landasan yang dikemukakan dapat membantu pembaca yang budiman mengerti mengapa kurikulum itu terus mengalami perbaikan atau perubahan.
Disini kami sebagai penulis ingin membahas tentang persoalan Model Pengembangan dari kurikulum itu sendiri, pengertian kurikulum secara sempit dan secara luas dan lain-lain yang menyangkut mengenai pengembangan kurikulum. Karena dengan mempelajari sistem model pengembangan kurikulum, kita sebagai seorang pendidik dapat mengenali berbagai pengetahuan tersendiri, sehingga dapat meningkatkan pikiran positif terhadap apa yang membuat kurikulum itu berubah.
Tentunya jika harus menunggu sempurna, makalah ini tidak akan pernah selesai. Maka dari itu, kritik serta saran sangat penulis butuhkan dari pembaca yang budiman.
Rumusan Masalah
1.  Apa itu kurikulum secara sempit dan secara luas?
2.  Apa bedanya perubahan dengan perbaikan?
3.  Apa yang dimaksud model pengembangan kurikulum?
Tujuan Penulisan
1.  Mengetahui pengertian kurikulum secara sempit dan secara luas
2.  Mengetahui perbedaan perubahan dan perbaikan kurikulum
3.  Mengetahui arti dari model pengembangan kurikulum


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kurikulum
Kata kurikulum berasal dari bahasa Latin, curere, yang artinya berlari, menjelajah, berkeliling, dan sejenisnya di arena perlombaan. Sejalan deengan perkembangannya, kata kurikulum kini di artikan secara sempit maupun seccara luas.
1. Kurikulum Secara Sempit
Secara sempit, kata kurikulum diartikan sebagai kumpulan pelajaran. AdapunmenurutMichaelis dan kawan-kawan, membatasi kurikulum menjadi spesifik. Bahwa kurikulum tidak lebih dari sekedar tujuan, isi, metode, media, strategi, dan evaluasi pembelajaran di sekolah.
2. Kurikulum Secara Luas
Mengacu pada pandangan-pandangan dalam hal ini, secara luas kata kurikulum dapat diartikan sebagai pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab sekolah. Pengalaman belajar dalam kurikulum secara luas ini mencakup pengalaman belajar di dalam kelas, di lingkungan sekolah, maupun di luar sekolah. Hal kecilnya adalah ketika siswa bermain sambil berlari di halaman sekolah misalnya, termasuk dalam konsep kurikulum.
B. Komponen Kurikulum
Mengacu kepada pandangan Michaelis, Grossmen, dan Scott (1975), sebagai suatu sistem, kurikulum memiliki empat komponen, yaitu: 1. Tujuan/kompetensi, 2. Isi, 3. Strategi atau cara mengajar,4. Evaluasi.
Dalam konteks Indonesia, mengacu pada pengembangan kurikulum, maka kata-kata yang lazim terkaait dengan komponen kurikulum adalah kompetensi, materi, pendekatan, dam evaluasi.

Berikut ulasan mengenai komponen kurikulum menurut pandangan Michaelis dan kawan-kawan, yaitu:
1. Komponen Tujuan/Kompetensi
Dua istilah ini memiliki makna yang sama. Dengan demikian , keduanya mengacu kepada hasil yang akan diperoleh melalui pendidikan. Dengan kata lain, komponen tujuan atau kompetensi berisi pernyataan tentang target yang akan dicapai atau kemampuan yang akan dikembangkan dalam diri siswa sebagai hasil pendidikan.
2. Komponen  isi
Komponen ini adalah komponen yang memuat pesan yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau membentuk kompetensi pada diri siswa. Adapun sejumlah istilah yang mempunyai maksud sama dengan isi kurikulum adalah seperti materi kurikulum, bahan kurikulum, dan pesan kurikulum.
3. Komponen Strategi
Komponen ini adalah komponen yang berisi pernyataan tentang penataan dan pemanfaatan berbagai hal untuk pencapaian tujuan pembelajaran, atau untuk pengembangan kompetensi dalam diri siswa secara efektif dan efisien.
Menurut Bruner, ada dua strategi yang menjadi pokok utamanya, yakni strategi ekspositori dan strategi heuristik.
Dalam strategi ekspositori, guru menjadi sumber belajar utama yang mengekspos pelajaran kepada siswa, sementara siswa diposisikan sebagai objek kosong yang akan diisi oleh guru.
Dalam strategi heuristik, siswa diposisikan sebagai makhluk unik dengan potensi yang memungkinkannya untuk memproses secara mandiri perolehan belajarnya. Dengan kata lain, siswa dijadikan sebagai pusat, bukan guru.



4. Komponen Evaluasi
Komponen ini berisi pernyataan tentang upaya untuk mengetahui tingkat pencapaian pembelajaran, serta efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran.
Ada dua acuan dalam komponen ini, yaitu; Acuan Patokan, yakni keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh pencapaian standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu, dan Acuan Norma, yakni keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh posisi siswa dalam nilai rata-rata kelas.

C. Pengertian dan Landasan Pengembangan Kurikulum
Istilah pengembangan kurikulum menunjukkan kepada suatu kegiatan yang menghasilkan suatu cara yang ‘baru’, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap cara tersebut terus dilakukan. Atau dengan pengertian lain, yakni suatu cara untuk melaksanakan dan merencanakan kurikulum pendidikan pada suatu satuan pendidikan agar menghasilkan sebuah kurikulum yang kolaboratif, akomodatif, sehingga menghasilkan kurikulum yang ideal.
Landasan dari pengembangan kurikulum adalah pertimbangan-pertimbangan mendasar dan menyeluruh, yang dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum.Adapun landasan pengembangan kurikulum, yaitu adalah:
3. Landasan Filosofis
Yakni pendidikan menyangkut hubungan antara sesama manusia. Dan hal yang paling mendasar adalah tentang hakikat manusia. Mak pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk religi.
a. Makhluk Individu
Menurut pandangan filsafat antropologi, di antara miliaran manusia, tidak ada satu pun orang yang sama antara satu dengan yang lain, sekalipun itu kembar identik. Maka, pendidikan haruslah menghargai keunikan itu. Wujud konkret dari penghargaan itu adalah penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan minat positif dalam diri setiap peserta didik.
Hakikat manusia sebagai makhluk individu ini berimplikasi pada penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut:
- Dalam hal guru, adalah di harapkan orang yang benar-benar berbakat dan berminat menjadi guru, serta mengajar pelajaran sesuai bakat dan minatnya.
- Dalam hal tujuan dan isi pendidikan, diharapkan pada kurikulum sekolah terdapat beraneka pilihan tujuan dan isi pendidikan berupa aneka mata pelajaran, sehingga dapat mengakomodir keanekaragaman bakat dan minat siswa.
- Dalam hal strategi pendidikan, diharapkan guru dapat menggunakan beraneka metode dan media pembelajaran.
- Dalam evaluasi pendidikan, guru mengevaluasi kemajuan belajar siswa sesuai kapasitas potensi akademik yang dimilikinya.

b. Makhluk Sosial
Pandangan tentang hakikat manusia sebagai makhluk sosial mempunyai implikasi terhadap semua unsur pendidikan. Yakni sebagai berikut:
- Dalam hal guru, perlunya wadah seperti PGRI, Kelompok Kerja Guru (KKG), dan sejenisnya.
- Dalam hal siswa, perlunya wadah seperti OSIS dan Ekstrakulikuler di sekolah.
- Dalam hal isi dan tujuan pendidikan, terdapatnya isi dan tujuan pendidikan yang memadai untuk mendorong berkembangnya kesadaran dan keterampilan sosial siswa.
- Dalam hal strategi pendidikan, diperlukan strategi memupuk kemampuan kerja sama, seperti kerja kelompok atau diskusi.

c. Makhluk Susila
Menurut ilmu antropologi, manusia dilahirkan dengan potensi membedakan baik dan buruk serta potensi berbuat baik. Lalu di dalam konteks pendidikan, implikasinya sebagai berikut:
- Dalam hal guru, diharapkan seorang guru telah berkembang secara memadai potensi baik dalam dirinya.
- Dalam hal siswa, adanya perkembangan potensi baik hingga tingkat tertentu. Atau adanya sebuah perjanjian dengan orang tuanya bahwa siswa  akan menaati peraturan sekolah.
- Dalam isi dan tujuan pendidikan, tersedianya tujuan dan isi moral dan etika, baik terintegrasi dalam setiap pelajaran ataupun disajikan sebagai pelajaran tersendiri.
- Dalam hal strategi, cara-cara pendidikan moral dan etika diterapkan secara proporsional, sinergis dan konsisten.

d. Makhluk Religi
Setiap manusia diciptakan untuk menyadari adanya kekuatan Maha Besar yang tak terbatas, Pencipta, Penguasa, dan Pengatur segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Adapun dalam hal pendidikan, implikasinya antara lain:
- Dalam hal guru, seorang guru dipersyaratkansebagai orang yang percaya akan adanya Tuhan
- Dapam hal siswa, seorang siswa pundipersyaratkan telah memiliki atau di arahkan untuk memiliki pilihan terhadap wujud kepercayaan tertentu.
- Dalam tujuan dan isi pendidikan, tersedianya isi dan tujuan pendidikan ketuhanan. Dan terdapat pelajaran agama, dan siswa diwajibkan mengikuti pelajaran agam sesuai agama yang dianutnya.
- Dalam hal strategi pendidikan, cara-cara pendidikan ketuhanan atau keagamaan dilakukan secara proporsional, sinergis, dan konsisten.

4. Landasan Sosial
Landasan ini terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Berbagai lajian ilmiah telah melahirkan sejumlah disiplin ilmu sosial.
Ada disiplin ilmu tentang sejarah, maksudnya adalah bahwa manusia saat ini merupakan produk dari manusia yang lalu. Demikian pula apa yang dilakukan manusia saat ini akan memproduk kondisi manusia masa depan. Atau disiplin ilmu tentang ekonomi, dalam hal pendidikan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki dua sisi ekonomis sekaligus, sebagai konsumen maupun produsen. Sebagai konsumen, bahwa sekolah memerlukan berbagai produk ekonomis bagi berjalannya mekanisme sistem persekolahan, sementara produsen, tentu bahwa sekolah akan menghasilkan lulusan.

5. Landasan Psikologis
Menurut Goble  (1987), ada dua aliran besar psikologi yang amat mewarnai dunia pendidikan saat ini. Yaitu psikologi behaviorisme dan humanisme.
Psikologi Behaviorisme
Psikologi ini berpandangan bahwa manusia belajar melalui proses atimulus-reapons-asosiasi. Dengan kata lain bahwa pembiasaan menjadi cara utama membentuk pribadi manusia

Psikologi Humanisme
Psikologi ini dengan berbagai varian teorinya, sejalan dengan teori nativisme, yang memandang hakikat pribadi manusia telah dibawa sejak lahir.

Adapun Sofyan (2006:9) menyebutkan bahwa dasar-dasar pengembangan kurikulum meliputi:
a. Kurikulum di susun untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional
b. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan pendekatan kemampuan
c. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan

6. Landasan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ini sudah membawa beberapa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Seperti perubahan nilai-nilai budaya, spiritual, sosial, intelektual, maupun dalam material.

D. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Ini adalah pertimbangan-pertimbangan mendasar yang bersifat khusus dalam pengembangan kurikulum. Secara umumnya terdapat lima prinsip, yaitu:
7. Prinsip Relevansi
Yakni perkembangan kurikulum harus relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat dan kondisi psikologis siswa. Contohnya adalah ditekankan tentang kebutuhan dalam dunia kerja yang merupakan salah satu sisi dari aspek sosial budaya. Dan mencakup tiga kawasan yang menjadi acuan bagi psikologi siswa, yakni kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

8. Prinsip Kontinuitas
Yaitu pengembangan kurikulum berkaitan dengan kenyataan bahwa pendidikan adalah sebuah proses bertahap dan berkelanjutan, bahkan berlangsung seumur hidup.

9. Prinsip Fleksibilitas
Ada dua kenyataan mendasar terkait hal ini, pertama yaitu setiap siswa adalah makhluk unik, maka diperlukan kurikulum yang lentur. Kedua, bahwa masyarakat akan terus berubah, dan terdapat perubahan yang bisa diprediksi atau pun tidak. Maka kurikulum juga dirancang untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan perubahan sosial.

10. Prinsip Efektivitas
Prinsip ini terkait dengan tingkat pencapaian target. Mencakup tentang sejauh mana rancangan program kurikulum terlaksana, serta sejauh mana tujuan pendidikan tercapai melalaui pelaksanaan kurikulum.

11. Prinsip Efisiensi
Prinsip efisiensi terkait dengan tingkat penghematan yang realistis dalam suatu kegiatan, tanpa mengorbankan pencapaian kuantitas dan kualitas yang maksimal. Guna menghasilkan kurikulum dengan efisiensi teoritis yang tinggi, pengembangan kurikulum hendaknya dimulai dengan mengidentifikasi dan menampilkan sejumlah alternatif berdasarkan kadar efisiensinya.

E. Model Pengembangan Kurikulum
Model pengembangan kurikulum adalah suatu bentuk konseptual berupa deskripsi verbal yang menggambarkan tentang tahap-tahap pengembangan kurikulum, pihak-pihak yang terlibat, serta wujud keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan kurikulum. Adapun perkembangan model untuk evaluasi kurikulum memperlihatkan suatu gejala yang tidak berbeda dengan perkembangan disiplin ilmu pendidikan dan upaya-upaya pendidikn yang pernah dilakukan manusia.
Tahap-tahap pengembangan kurikulum amat tergantung pada pendekatan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Ada pendekatan menggunakan mata pelajaran, di mana tahap awal pengembangan akan berkisar pada identifikasi disiplin ilmu yang di penting bagi peserta belajar. Namun bila menggunakan pendekatan kompetensi, maka tahap awal akan di mulai dengan identifikasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah pihak-pihak yang memiliki kompetensi dan kondisi yang relevan dengan setiap tahap pengembangan kurikulum. Pihak-pihak tersebut bisa berwujud lembaga atau perorangan. Contoh lembaga seperti sekolah, seksi kurikulum, satuan tugas kurikulum, pusat kurikulum, dan komite sekolah. Perorangan seperti siswa, guru, kepala sekolah, pemilik sekolah, pelaku dunia kerja, ahli kurikulum, dan ahli disiplin ilmu. Wujud keterlibatan berbagai pihak itu amat tergantung pada jenis model pengembangan kurikulum.

Dalam rentang sejarah, terdapat paling tidaknya ada 8 model pengembangan kurikulum. Yaitu the administrative model, the grass roots model, beauchamp’s system, the demonstration model, taba’s inverted model, roger’s interpersonal relations model, the systematic action-research model, and emerging technical models.
Dan walaupun terdapat sejumlah model dalam pengembangan kurikulum, namun pada pokoknya terdapat tiga jenis model, yakni model top-down, model bottom-top, dan model campuran, (McNeil, 1990)
1. Model Top-Down
Secara filosofis, model top-down bersumber dari filsafat materialisme, yang sejalan dengan psikologi behaviorisme. Pada model top-down, gagasan pengembangan kurikulum datang dan dimulai dari lapisan birokrasi pendidikan atas, kemudian di distribusikan menuju lapisan birokrasi pendidikan terbawah.
Di Indonesia, lapisan birokrasi pendidikan teratas adalah Kementrian Pendidikan, selanjutnya guru sebagai lapisan birokrasi pendidikan terbawah berperan sebagai pelaksanaan kurikulum yang dikembangkan sepenuhnya dan disalurkan oleh pihak-pihak di luar dirinya.
Kelemahannya adalah, guru tidak memiliki cukup rasa ikut dalam memiliki kurikulum, sehingga tidak maksimal dalam melaksanakannya, maka pengelolaan pendidikan tidak mendapatkan hasil maksilmal.
2. Model.Bottom-Up
Model bottom-up bersumber dari filsafat idealisme, yang sejalan dengan psikologi humanisme. Model ini menggunakan gagasan bahwa awal pengembangan kurikulum datang dari pihak guru sebagai birokrat lapisan paling bawah, sedangkan lapisan atas hanya menerima.
Kelemahannya adalah, dapat mengancam integrasi nasional. Ancamannya akan semakin besar pada masyarakat yang amat plural dan heterogen, seperti Indonesia.
3. Model Campuran
Model ini bersumber dari filsafat realisme, yang memandang filsafat idealisme dan materialisme, maupun psikologi behaviorisme dan humanisme, sebagai pasangan realitas sosial yang nyata.
Sebagai model campuran, pengembangan kurikulum dengan model ini sudah memiliki acuan awal pengembangan, yakni ketentuan perundang-undangan negara tentang pendidikan, termasuk kurikulum. Dengan kata lain, model ini berangkat dari top-down.

F. Langkah-Langkah Dalam Pengembangan Kurikulum Di Sekolah
Perbaikan di sekolah sangat penting untuk kelangsungan terlaksananya kurikulum, adapun langkah-langkahnya adalah:
1. Adakan penilaian umum tentang sekolah, seperti dalam hal apa sekolah itu lebih baik atau lebih rendah mutunya daripada sekolah lain.
2.  Selidiki berbagai kebutuhan, antara lain kebutuhan siswa, kebutuhan guru, dan kebutuhan akan perubahan dan perbaikan.
3.  Mengidentifikasi masalah serta merumuskannya
4.  Mengajukan saran perbaikan
5.  Menyiapkan desain perencanaannya yang mencakup tujuan
6.  Memilih anggota panitia
7.  Mengawasi pekerjaan pantia
8.  Melaksanakan hasil panitia oleh guru dalam kelas
9.  Menerapkan cara-cara evaluasi
10.  Memantapkan perbaikan

G. Kesulitan-kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum
Sejarah menunjukkan bahwa sekolah itu sangat sukar menerima pembaruan. Manusia itu pada umumnya bersifat konservatif dan guru termasuk golongan itu juga. Pembaruan kurikulum juga terkadang terikat pada tokoh yang mencetuskannya. Dan melakukan pembaharuan pun memerlukan pemikiran dan tenaga yang lebih banyak.

H. Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Selain memperhatikan pertimbangan filosofis dan psikologis, para perencana kurikulum juga hendaknya memperhatikan pendekatan yang akan digunakan dalam pengembangan kurikulum, setidaknya ada 4 macam pendekatan yang perlu di perhatikan, yakni:
1.  Pendekatan Akademis
Pada pendekatan ini, lebih  tujuan-tujuan mata pelajaran sesuai dengan konsep dasar dan batasan-batasan disiplin ilmu dari mata pelajaran tersebut. Prioritas pendekatan ini adalah penularan pengetahuan.
2.  Pendekatan Teknis
Di sini sangat memperhatikan bagaimana mata pelajaran itu terperinci dan diatur secara sistematis.
3.  Pendekatan Individu
Di sini lebih memperhatikan bagaimana anak didik dapat diarahkan kepada pengembangan kemampuan berpikir dan keterampilan, dan pengembangan nilai-nilai pribadi.


4.  Pendekatan Sosial
Pendekatan ini menghendaki pengembangan program yang akan menghasilkan anak didik dengan berbagai kemampuan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Dari apa yang terpapar di atas, maka apakah kurikulum itu sedang dalam perubahan atau perbaikan? Berikut sedikit pembahasannya;
Perbaikan kurikulum, biasanya hanya mengenai satu atau beberapa aspek dari kurikulum. Sedangkan perubahan kurikulum yakni mengenai perubahan dasar-dasarnya, baik mengenai tujuan atau alat-alat atau cara untuk mencapai tujuan itu.

I. Ciri-ciri Hasil Dari Pengembangan
Perubahan tidak selamanya membawa hasil dalam suatu pengembangan. Hanyalah peubahan positif yang menghasilkan suatu pengembangan. Maka agar perubahan itu menjadi positif dan berhasil dalam pengembangan, maka ia harus memiliki ciri-ciri khas, yaitu:
1.  Peubahan Harus Bermanfaat
2.  Perubahan Harus Terencana
3.  Perubahan Harus Progresif
4.  Perubahan Harus Berkelanjutan
Dalam pengembangan kurikulum pasti adanya sebuah pengaruh, yakni adanya pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Pengaruh langsung biasanya datang dari lembaga-lembaga dan eksekutif yang mempunyai kepentingan dengan kurikulum sesuai dengan misi dan trend yang sedang popular pada waktu tertentu.
MPR misalnya pada tahun 1983 dalam ketetapan IV/MPR/1983 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara telah menetapkan bahwa pendidikan sejarah perjuangan bangsa perlu diberikan di tingkat sekolah mulai dari pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi. Maka dengan adanya itu, lahirlah Pendidikan Sejarah PPerjuangan Bangsa sebagai unsur baru yang dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
Pengaruh tidak langsung yaitu datang dari pihak masyarakat dan cendikiawan yang merasa mempunyai kepentingan dengan kurikulum. Masyarakat misalnya, mengusulkan agar pelajaranb Agama di sekolah lebih di tingkatkan.

J. Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan Kurikulum 2013, dilandasi oleh Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka MenengahNasional 2010-2014, dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pada Kurikulum 2013, pemerintah menetapkan Standar Nasional Pendidikan, Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, Silabus, dan Pedoman Implementasi Kurikulum.

Faktor-faktor Pengembangan

Berikut faktor-faktor pengembangan Kurikulum 2013

a. Tantangan Internal
Tantangan Internal antara lain terkait dengan tuntuta pendidikan yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan, meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

b. Tantangan Eksternal
Yakni terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industry kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.

c. Penyempurnaan Pola Pikir
Penyempurnaan pola pikir, salah satunya dapat dilakukan dengan cara pembelajaran yang berpusat pada bguru menjadi pembelajaran berpusat pada  peserta didik.

d. Penguatan Tata Kelola Kurikulum
Cara yang bisa dilakukan yaitu:
1. Tata kerja guru yang bersifat individual diubah menjadi bersifat kolaboratif
2. Penguatan manajemen oleh kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan
3. Penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan proses pembelajaran
e. Penguatan Materi
Bisa dilakukan dengan pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik.
Tidak lain dan tidak bukan, pengembangan kurikulum ini haruslah sejalan dengan tujuan sekolah pendidikan dasar 9 tahun yakni untuk memberikan bekal kemampuan sesuai tingkat pendidikan, antara SD, SMP, dan SMA.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Secara sempit, kata kurikulum diartikan sebagai kumpulan pelajaran. AdapunmenurutMichaelis dan kawan-kawan, membatasi kurikulum menjadi spesifik. Mengacu pada pandangan-pandangan dalam hal ini, secara luas kaata kurikulum dapat diartikan sebagai pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab sekolah.
Dan walaupun terdapat sejumlah model dalam pengembangan kurikulum, namun pada pokoknya terdapat tiga jenis model, yakni model top-down, model bottom-top, dan model campuran.
Istilah pengembangan kurikulum menunjukkan kepada suatu kegiatan yang menghasilkan suatu cara yang ‘baru’, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap cara tersebut terus dilakukan. Atau dengan pengertian lain, yakni suatu cara untuk melaksanakan dan merencanakan kurikulum pendidikan pada suatu satuan pendidikan agar menghasilkan sebuah kurikulum yang kolaboratif, akomodatif, sehingga menghasilkan kurikulum yang ideal.


DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Heri. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. ALFABETA : Bandung
Hasan, Hamid S. 2009. Evaluasi Kurikulum. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dan PT Remaja Rosdakarya : Bandung
Nasution, S. 2008. Asas-Asas Kurikulum. PT Bumi Aksara : Jakarta
Somantrie, Hermana. 1989. Perekyasaan Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah. Penerbit Angkasa : Bandung
Toenlioe, Anselmus JE. 2017. Pengembangan Kurikulum : Teori, Catatan Kritis, dan Panduan. PT Refika Aditama : Bandung
Usman, Moch Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. PT Remaja Rosdakarya : Bandung
Widyastoro, Herry. 2014. Pengembangan Kurikulum Di Era Otonomi Daerah. PT Bumi Aksara : Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEORI EVOLUSI DAN REKAYASA PRODUKSI MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT dan AL – QUR’AN ( IAD )

TEORI EVOLUSI DAN REKAYASA PRODUKSI MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT dan AL – QUR’AN Diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata ku...