Sabtu, 20 Juli 2019

URGENSI EVALUASI DALAM KURIKULUM

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah – Nya kepada kita semua sehingga kita bisa melakukan aktivitas kita dengan baik, sehat wal‘afiat khususnya kepada penulis sehingga “makalah evaluasi kurikulum” ini bisa diselesaikan dengan baik.
Tak lupa juga kita sampaikan salam dan shalawat kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw yang telah mengayomi kita semua dengan cinta kasih serta perjuangan beliau sehingga kita bisa menghirup udara segar ini penuh dengan nikmat yang tak akan mampu kita menghitungnya.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini  belum baik dan masih jauh dari kesempurnanan. Sehingga penulis meminta kritik dan saran dari pembaca. Agar penulisan selanjutnya bisa lebih baik lagi.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Purwakarta, 5 Juli 2019

Penulis
                                                                       





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 1
BAB II 2
PEMBAHASAN 2
A. Pengertian  dan Peran Evaluasi Kurikulum 2
B. Prinsip-Prinsip dan Prosedur Evaluasi Kurikulum 5
C. Model Evaluasi Kurikulum 9
BAB III PENUTUP 13
A. Kesimpulan 13
B. Saran 13
DAFTAR PUSTAKA 14




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan evaluasi kebutuhan dan kelayakan terhadap kurikulum adalah suatu keharusan yang esensial dalam rangka pengembangan program kegiatan pendidikan pada umumnya dan peningkatan kualitas siswa pada khususnya.
Evaluasi kurikulum sebagai usaha sebagai usaha sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbangan mengenai mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum.
Secara sederhana, dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan  penetuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan ada revisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk mengui teori atau membuat teori baru.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan peran dari evaluasi kurikulum ?
2. Apa saja prinsip evaluasi kurikulum dan prosedur evaluasi kurikulum?
3. Apa sajakah model-model dari evaluasi kurikulum ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi, tujuan, dan dimensi dari evaluasi kurikulum
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip evaluasi kurikulum dan prosedurnya
3. Untuk mengetahui model-model evaluasi kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian  dan Peran Evaluasi Kurikulum
1.      Pengertian Evalusi Kurikulum
Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menetukan nilai dari sesuatu. Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan. Tyler seperti yang dikutip Sukmadinata menyatakan bahwa evaluasi adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai atau terrealisasikan.
Sedangkan pengertian kurikulum, adalah sebagai rencana yang dibuat untuk membimbing anak belajar di sekolah, disajikan dalam bentuk dokumen yang sudah ditentukan, disusun berdasarkan tingkat-tingkat generalisasi, dapat diaktualisasikan dalam kelas, dapat diamati oleh pihak yang berkepentingan dan dapat membawa perubahan tingkah laku.
Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya secara evolusioner. Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahui proses dan hasil pelaksanaan system pendidikan dalam mencapai tujuan yang ditentukan.
Tyler dalam buku Hamalik, berpendapat bahwa evaluasi kurikulu pada dasarnya adalah suatu proses untuk mengecek keberlakuan kurikulum yang harus diberlakukan ke dalam empat tahap yaitu sebagai berikut:
a.    Evaluasi tehadap tujuan pembelajaran
b.    Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum atau proses pembelajaran yang meliputi metode, media dan evaluasi pembelajaran.
c.    Evaluasi terhadap evektifitas, baik evektifitas waktu, tenaga dan biaya.
d.   Evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai.

Kegiatan evaluasi kebutuhan dan kelayakan terhadap kurikulum adalah suatu keharusan yang esensial dalam rangka pengembangan program kegiatan pendidikan pada umumnya dan peningkatan kualitas siswa pada khususnya. Hal ini terkait dengan pengembangan sumber daya manusia sebagai unsur utama pelaksanaan dan keberhasilan program pendidikan yang pada gilirannya membutuhkan pengelola dan pelaksana yang mampu menjalankan kegiatan pendidikan yang lebih berdaya.
Evaluasi kurikulum sebagai usaha sebagai usaha sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbangan mengenai mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.
Secara sederhana, dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuan. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan  penetuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan ada revisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk mengui teori atau membuat teori baru.
Evaluasi dan Kurikulum merupakan dua disiplin yang memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya secara evolusioner. Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahui proses dan hasil pelaksanaan sistem pendidikan dalam mencapai tujuan yang ditentukan. Dimana semua tidak terlepas dari adanya berbagai criteria, mulai dari yang bersifat formal.
2.      Peran Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum memegang peran penting baik dalam penentuan kebijakansanaan pendidikan pada umumnya, maupun dalam pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pegembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian, serta fasilitas pendidikan lainnya.
Beberapa hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan. Pihak pengambil keputusan dalam pelaksanann pendidikan dan kurikulum adalah guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur, pengembang kurikulum dan lain-lain. Namun demikian pada prinsipnya tiap pengambil keputusan dalam proses evaluasi memegang peran yang berbeda, sesuai dengan posisinya.
Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan hasil evaluasi bagi pengambilan keputusan adalah hasil evaluasi yang diterima oleh berbagai pihak pengambil keputusan adalah sama. Masalah yang timbul adalah apakah hasil evaluasi tersebut dapat bermanfaat bagi semua pihak. Jawabannya belum tentu, karena suatu informasi mungkin lebih bermanfaat bagi pihak tertentu tetapi kurang bermanfaat bagi pihak yang lain.
Kesatuan penilaian hanya dapat dicapai melalui suatu konsesus. Konsesus tersebut berupa kerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar yang bersifat behavioral, analisis statistik dari prestasi tes post tes. Secara umum, langkah-langkah pokok evaluasi pendidikan meliputi tiga kegiatan utama yaitu persiapa, pelaksanaan dan pengolahan hasil.
Peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan berkenaan dengan tiga hal, yaitu sebagai berikut.
a.       Konsep sebagai moral judgement
b.      Konsep utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. Hasil dari suatu nilai berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tndakan selanjutnya
c.       Evaluasi dan penentuan keputusan
Beberapa hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan. Pihak pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pendidikan dan kurikulum adalah guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur, pengembangan kurikulum dan sebagainya.
d.      Evaluasi dan konsesus nilai
Kesatuan penilaian dapat dicapai melalui suatu konsensus. Kosensus tersebut berupa kerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar behavioral, analisis statistik dari prestasi tes dan post tes.
Ada dua dua kriteria dalam penilaian kurikulum:
1)      Kriteria berdasarkan tujuan yang telah ditentukan atau sering disebut criteria patokan
2)      Kriteria berdasarkan norma-norma atau standar yang ingin dicapai senagaimana adanya.

B. Prinsip-Prinsip dan Prosedur Evaluasi Kurikulum
1.      Prinsip-prinsip evaluasi kurikulum
Adapun prinsip-prinsip dalam evaluasi kurikulum adalah sebagai berikut:
a.       Tujuan tertentu, maksudnya yaitu setiap program evaluasi kurikulum itu terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan secara jelas dan spesifik. Tujuan-tujuan itu pula yang mengarahkan berbagai kegiatan dalam proses pelksanaan evaluasi kurikulum.
b.      Bersifat objektif, maksudnya harus sesuai dengan kenyataan yang ada. bersumber dari data yang ada nyata dan akurat yang diperoleh dari instrument yang benar.
c.       Bersifat komperhensif, yaitu mencakup semua dimensi atau aspek yang terdapat dalam ruang lingkup kurikulum. Seluruh komponen kurikulum harus mendapat perhatian dan pertimbangan secara seksama sebelum diadakan pengambilan keputusan.
d.      kooperatif dan bertanggung jawab dalam perencanaan, plaksanaan dan keberhasilan program evaluasi itu adaah tanggung jawab bersama pihak-pihak yang terkait dan saling terlibat dalam proses pendidikan seperti, guru, kepala sekolah, penilik, orang tua, dan juga siswa itu sendiri. disamping tanggung jawab utama lembaga penelitian dan pengembangan.
e.        Efisien, maksudnya efisien dalam penggunaan waktu, biaya, tenaga, dan peralatan yang menjadi penunjang. sehingga hasil evaluasi harus diupayakan lebih tinggi atau seimbang dengan materil yang digunakan.
f.       berkesinambungan, hal ini berkaitan dengan adanya perbaikan kurikulum. sehingga peran  guru dan kepala sekolah sangat penting, karena merekalah yang mengtahui pelaksanaan, permasalahan, dankeberhasilan dari kurikulum yang diterapkan.
2.      Prosedur Evaluasi Kurikulum
Prosedur adalah langkah-langkah teratur dan tertib yang harus ditempuh sesorang evaluator pada waktu melakukan evaluasi kurikulum. Langkah-langkah tersebut merupakan tindakan yang harus dilakukan evaluator sejak dari awal sampai akhir suatu kegiatan evaluasi. Prosedur yang dikemukakan disini adalah hasil revisi dari prosedur, model, PSP yang dikemukakan Storeange dan Helm (1992).
a.    Kajian terhadap evaluan
Langkah pertama yang harus dilakukan evaluator terhadap kurikulum atau bentuk kurikulum yang menjadi evaluannya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman terhadap karakterisitk kurikulum. Evaluator harus mempelajari secara mendalam latar belakang kelahiran suatu kurikulum, landan filsofi fan teoritis kurikulum tersebut, ide kurikulum, model kurikulum yang digunakan untuk dokumen kurikulum, proses pengembangan dokumen kurikulum, proses impelemtasi kurikulum, dan evaluasi hasil belajar.
b.    Pengembangan proposal
Berdasarkan kajian yang dilakukan pada langkah pertama maka evaluator kemudian mengembangkan proposalnya. Untuk itu maka evaluator memutuskan pendekatan dan jenis evaluasi yang akan dilakukan. Evaluator dapat menentukan apakah yang akan digunakannya adalah evaluasi kuantitatif ataukah evaluasi kualitatif. Tentu saja berbagai faktor pribadinya seeprti pendidikan dan pandangan keilmuannya akan sangat menentukan pendekatan metodologi yang akan digunakan.
c.    Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi
Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi merupakan langkah penting dan menentukan. Hasil diskusi dengan pengguna jasa akan menentukan apakah proposal yang diajukan akan dapat ditindak lanjuti atau tidak. Jika evaluator berhasil meyakinkan calon pengguna jasa evaluasi maka proposal yang diajukan mungkin akan disetujui dan pekerjaan evaluasi akan dapat dilaksanakan. Artinya, tidak ada pekerjaan evaluasi yang dilakukan berdasarkan proposal tersebut.
d.   Revisi Proposal
Revisi proposal adalah tindak lanjut dari hasil pertemuan antara pengguna jas evaluasi dengan evaluator. Apabila dalam pertemuan dan pembicaraan tersebut berbagai kompenen harus direvisi maka adalah kewajiban evaluator untuk melakukan revisi tersebut. Hasil revisi harus diperlihatkan kembali kepada pengguna jasa evaluasi dan disetujui. Jika dari hasil diskusi pada pertemuan itu tidak ada hal yang perlu direvisi maka langkah revisi ini dengan sendirinya tidak diperlukan.
e.    Rekruitmen personalia
Rekruitmen personalia untuk pekerjaan evaluasi mungkin 8saja dilakukan ketika proposal disusun. Jika prosedur itu yang ditempuh maka rekruitmen dianggap sudah terjadi. Dalam hal demikian maka pada proposal jumlah orang, nama serta kualifikasi harus dicantumkan. Pencantuman itu akan memberikan nilai lebih pada proposal.
f.     Pengurusan persyaratan administrasi
Setiap kegiatan yang berkenaan dengan evaluasi kurikulum memrlukan berbagai formalitas administrasi. Evaluator harus mendapatkan persetjuan dari pengguna kurikulum, pimpinan sekolah atau atasannya, dan mungkin juga dari pejabat yang terkait dengan masalah keamanan sosial politik. Untuk itu diperlukan berbagai surat seperti surat izin melakukan evaluasi, surat permohonan kesediaan menjadi responden, surat identitas anggota t, dan sebagainya. Keberadaan surat ini sangan penting dan sangat mutlak diperlukan.
g.    Pengorganisasian pelaksanaan
Pengorganisasian pelaksanaan adalah suatu kegiatan manajemenyang tingkat kerumitannya ditentuakan oleh ruang lingkup pekerjaan evaluasi dan jumlah evaluator yang terlibat. Semakin luas wilayah yang harus dievaluasi dan semakin banyak evaluator yang harus dilibatkan maka semakin rumit pula pekerjaan management yang harus dilakukan jika evaluasi itu hanya dilakukan oleh seorang maka management tidak akan serumit jika evaluator terdiri dari sebuah tim.
h.    Analisis data
Pekerjaan analisis data tentu saja merupakan tindak lanjut setelah proses pengumpuilan data evaluasi berhasil dilakukan. Ketika model yang digunakan adalah model kuantitatif dan dengan demikian data utama evaluasiadalah data kuantitatif. Proses dan tekhnik pengolahan data yang diakui dalam model kuatitatif harus dilaksanakan.
g.      Penulisan pelaporan
Penulisan laporan sebagaimana halnya dengan analisis data, penulisan laporan harus dilakukan oleh evaluator dan tim evaluator. Format laporn harus disesuaikan dengan kesepakatan yang dilakukan pada waktu awal.
h.      Pembahasan Laporan dengan pemakai jasa
Pembahasan ini diperlukan untuk melihat kelengkapan laporan. Dalam pembahasan ini jika pengguna jasa memerlukan tambahan informasi yang memang tercantum dalam kontrak maka adalah kewajiban evaluator untuk melengkapi laporan tersebut.
i.        Penulisan laporan akhir
Penulisan Laporan akhir adalah sebagai hasil dari revisi yang harus dilakukan evaluator ketika terjadi pembahasan laporan dengan pengguna jasa.



C. Model Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas, meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum juga merupakan suatu fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi.
Macam-macam model evaluasi yang digunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi yang berorentasi tujuan berkaitan erat dengan meteri dan tingkah laku individu. Evaluasi yang menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan pada bahan ajar atau isi kurikulum. Model atau pedekatan antropologis dalam evaluasi ditunjukkan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam suatu lembaga social. Dengan demikian, sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara evaluasi dengan kurikulum sebab teori kurikulum juga merupakan teori dari evaluasi kurikulum.
Ada beberapa model dalam evaluasi kurikulum, yaitu sebagai berikut:
1.      Evaluasi kurikulum model penelitian (research evaluation model)
Model evaluasi kurikulum yang menggunakan penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologi serta ekperimen lapangan. Salah satu pendekatan dalam evalusai yang menggunakan eksperimen lapangan adalah comparative approach, yaitu dengan mengadakan perbandingan antara dua macam kelompok anak.
Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologi dan serta eksperimen lpangan. Tes psikologi atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes intelegensi yang ditunjukkan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes bawaan yang mengukur perilaku skolastik.
Ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut. Pertama, kesulitan administrative, sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen. Kedua, masalah teknis dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang diuji. Ketiga,sukar untuk mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok control, pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontrol. Keempat, ada keterbatasan mengenai manipulasieksperimen yang dapat dilakukan.
2.      Model evaluasi kurikulum yang berorientasi pada tujuan (goal/objective oriented evaluation model)
Dalam model ini, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain, tetapi diukur dengan seperangkat tujuan atau kompetensi tertentu. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan atau kompetensi tersebut.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model obyektif, yaitu sebagai berikut:
a.       Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum
b.      Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa
c.       Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut
d.      Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan
3.      Model evaluasi kurikulum yang lepas dari tujuan (goal free evaluation model)
Model ini dikembangkan oleh Micheal Scriven, yang cara kerjanya berlawanan dengan model evaluasi yang berorientasi pada tujuan. Menurut pendapat Scriven, seorang evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan pembelajaran, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kerjanya. Cara dengan memperhatikan dan mengidentifikasi penampilan yang terjadi, baik hal-hal positiv yang diharapkan maupun hal-hal negativ yang tidak diinginkan.
4.      Model campuran multivariasi
Model campuran multifariasi adalah strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari beberapa model evaluasi kurikulum. Model ini memungkinkan perbandingan lebih dari satu kurikulum dan secara serempak keberhasilan tiap kurikulum diukur berdasarkan criteria khusus dari masing-masimg kurikulum.
5.      Model evaluation program for innovate curriculumbs (EPIC)
Model ini menggambarkan keseluruhan program evaluasi kurikulum dalam sebuah kubus. Kubus ini memiliki tiga bidang, bidang pertama adalah perilaku (behavior) yang meliputi perilaku cognitive, affective, psychomotor. Bidang kedua adalah pembelajaran (instruction), yang meliputi organisasi, materi, metode fasilitas atau sarana dan pendanaan. Bidang ketiga adalah kelembagaan (institution) yang meliputi guru, murid, administrasi, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat.
6.      Model CIPP (Contex, Input, Procces, and Product)
Model ini dikembangkan oleh Stufflebeam (1967) dan kawan-kawan di Ohio State University AS dan model ini paling banyak diikuti oleh para evaluator. Model ini memandang bahwa kurikulum yang dievaluasi adalah sebuah sistem, maka apabila evaluator telah menentukan untuk menggunakan model CIPP, maka evaluator harus menganalisis kurikulum tersebut berdasarkan komponen-komponen model CIPP.
Model ini mengemukakan bahwa untuk melakukan penilaian terhadap program pendidikan diperlakuakan empat macam jenis yaitu:
a.    Penilaian konteks (context)yang bekaitan dengan tujuan.
Penilaian konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan,  kebutuhan, populasi dan sample yang dilayani serta tujuan pembelajaran. Kebutuhan siswa apa saja yang belum terpenuhi, tujuan apa saja yang belum tercapai dan tujuan apa saja yang belum tercapai.
b.    Penilaian masukan (input) yang berguna untuk pengambilan k eputusan desain.
Maksud evaluasi ini adalah kemampuan siswa dan kemapuan sekolah dalam menunjang pendidikan.
c.    Penilaian proses (process) yang membimbing langkah operasional dalam pembuatan keputusan.
Penilaian ini menunjukkan pada kegiatan yang dilakukan dala program, apakah pelaksanaan kurikulum tetap sanggup melakukan tugasnya, siapa yang bertanggung jawab melaksanakannya, dan lain-lain.
d.   Penilaian keluaran yang memberikan data sebagai tambahan erbuatan keputusan (product).
Penilaian keluaran adalah tahap akhir serangkaian evaluasi program kurikulum, yang diarahkan pada hal-hal yang menunjukkan perubahan yang terjadi pada siswa.


7.      Model Ten Brink
Ten Brink mengemukakan adanya tiga tahap evaluasi kurikulum yaitu:
a.    Tahap persiapan
b.    Tahap pengumpuln data melalui dua langkah yaitu memperoleh informasi yang diperlukan dan menganalisis dan mencatat informasi.
c.    Tahap penilaian yang berisi kegiatan – kegiatan.
9.      Model Evaluasi Kuantitatif
Model kuantitatif ditandai oleh cirri yang menonjol dalam penggunaan prosedur kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran paradigma positivisme.
10.  Model Evaluasi Kualitatif
Ciri khas dari model evaluasi kualitatif adalah selalu menempatkan proses pelaksanaankurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Oleh karena itu kurikulum dalam dimensi kegiatan atau proses lebih mendapatkan perhatian dibandingkan dimensi lain suatu kurikulum walaupun harus dikatakan bahwa perhatian utama terhadap proses dimensi lain.
Model utama evaluasi kualitatif adalah studi kasus. Demikian kuatnya posisi studi kasus sebagai model utama dilingkungan evaluasi kualitatif sehingga setiap orang berbicara tentang model evaluasi kualitatif maka nama studi kasus segera muncul dalam kontak memorinya.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Evaluasi kurikulum sebagai usaha sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbangan mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut. Secara sederhana, dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuan. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan  penetuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan ada revisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk mengui teori atau membuat teori baru.
B. Saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada kekurangannya dari itu kami menyarankan kepada para pembaca agar mengkritiknya. Karena kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.








DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Zaini. 2009. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: TERAS.
Rusman, 2009,manajemen kurikulum, Jakarta: raja grafindo persada;
Syaodih Sukmadinata, Nana. 2012. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Sukardi, 2009, evaluasi pendidikan, Jakarta timur  :PT bumi Aksara
Wirawan, , 2011,evaluasi , jakarta : charisma

OPTIMALISASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Alloh SWT. tuhan semesta alam, shalawat serta salam semoga tercurah limpah kepada nabi Muhammad SAW., kepada keluarganya, shahabatnya, tabi’in dan tabi’atnya dan semoga sampai kepada kita sebagai umatnya. Penulis bersyukur kepada illahi robbi yang telah memberikan taufik dan hidayahNya kepada penulis sehingga makalah Media dan Teknologi Pembelajaran mengenai OPTIMALISASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilapan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan supaya pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangan untuk kesempurnaan makalah ini kedepannya.
Kepada bapak Dr. H. Slamet, M.Ag, selaku dosen yang telah memberikan tugas terstruktur berupa makalah mengenai OPTIMALISASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, penulis ucapkan terima kasih.


Purwakarta, 20 Juli 2019

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
1. Mendongkrak Prestasi 2
2. Penghargaan dan Hadiah 5
3. Membangun Tim 6
4. Mengembangkan Program Akselerasi 8
5. Membudayakan Kurikulum 2013 9
6. Mendayagunakan Lingkungan 11
7. Melibatkan Masyarakat 12
8. Menghemat Anggaran 15
9. Meningkatkan sistem informasi manajemen pendidikan 17
J.     Membangun Jiwa Kewirausahaan 20
BAB III PENUTUP 21
KESIMPULAN 21
DAFTAR PUSTAKA 22


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum mengalami perkembangan yang siknifikan. Dengan keadaan yang semakin berkembang, teknologi yang semakin canggih, dan perkembangan sains pada zaman sekarang, maka kurikulum disusun menyesuaikan dengan perkembangan. Dari perkembangan maka kurikulum mengalami perubahan dengan bertahap untuk menyesuaikan dengan keadaan dan perubahan agar menjadi lebih baik. Beberapa upaya dapat dilakukan untuk optimalisasi (mengoptimalkan) implementasi kurikulum 2013. Upaya-upaya tersebut adalah: mendongkrak prestasi, penghargaan dan hadiah, membangun tim, program akselerasi, mengimplementasikan kurikulum melalui budaya, melibatkan masyarakat, menghemat biaya pendidikan, sistem informasi manajemen pendidikan dan membangun jiwa kewirausahaan.
Dengan disiapkannya kurikulum 2013 ini menjadi tantangan bagi para guru (tenaga pendidik) untuk dapat menerapkan dan menyesuaikan kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013, guru tidak lagi dibebani dengan kewajiban membuat silabus.
B. Rumusan Masalah
1. Upaya apa yang ditempuh dalam mengoptimalisasikan implementasi kurikulum 2013?
2. Upaya apa yang ditempuh dalam mendongkrak prestasi belajar dan faktor apa saja yang mempengaruhi prestasi belajar?
3. Upaya apa yang ditempuh dalam mengimplementasikan kurikulum?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui hasil dari optimalisasi implementasi kurikulum 2013
2. Untuk mengetahui upaya yang ditempuh untuk mendongkrak prestasi belajar
3. Untuk mengetahui upaya apa saja yang ditempuh dalam mengimplementasikan kurikulum

BAB II
PEMBAHASAN
Beberapa upaya dapat dilakukan untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum 2013. Upaya-upaya tersebut adalah: mendongkrak prestasi, penghargaan dan hadiah, membangun tim, program akselerasi, mengimplementasikan kurikulum melalui budaya, melibatkan masyarakat, menghemat biaya pendidikan, penggunaan teknologi informasi dan membangun jiwa kewirausahaan.
1. Mendongkrak Prestasi
Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah menempuh kegiatan belajar, sedangkan belajar pada hakekatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik akan menghasilkan prestasi belajar, berupa perubahan-perubahan perilaku, yang oleh Bloom dan kawan-kawan dikelompokkan ke dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar mempunyai ciri-ciri tertentu. Menurut Makmun (1999) ciri-ciri perubahan perilaku hasil belajar adalah bersifat intensional, positif, dan efektif. Ketika hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Perubahan perilaku hasil belajar bersifat internasional, artinya pengalaman atau praktek latihan itu dengan sengaja dan disadari dilakukan dan bukan secara kebetulan. Dengan demikian, perubahan karena kematangan, keletihan atau penyakit tidak dapat dipandang sebagai hasil belajar.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa belajar bukan diarahkan oleh suatu kekuatan reflex, tetapi dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan, sehingga seseorang akan mempelajari apa yang seharusnya dilakukan. Dalam pada itu, belajar dilakukan karena adanya kebutuhan, yang menimbulkan ketegangan dan mesti dipenuhi, sehingga mendorong individu untuk mempergunakan pikiran dalam memenuhi 
kebutuhan tersebut. Untuk mendongkrak prestasi belajar, kita harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya, karena prestasi belajar merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.
Proses pembelajaran, khususnya yang berlangsung di kelas sebagaian besar ditentukan oleh peranan guru. Peran guru yang paling dominan adalah sebagai designer, implementator, fasilitator, pengelola kelas, demonstrator, mediator, dan evaluator.
Guru sebagai designer, yang bertugas merancang dan merencanakan pembelajaran, serta mempersiapkan berbagai hal yang terkait dengan pembelajaran. Persiapan pembelajaran  sering disebut juga rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang perkembangannya dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan, karakteristik peserta didik, karakteristik kelas serta faktor penunjang lainnya.
Guru sebagai implementator, yang bertugas melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana. Dalam hal ini guru harus dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, agar terjadi perubahan perilaku pada diri mereka sesuai dengan yang direncanakan. Peran guru sebagai implementator dapat juga disebut sebagai eksekutor pembelajaran, yang bertugas mengekskusi pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan.
Guru sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik agar dapat membentuk kompetensi dan mencapai tujuan secara optimal. Peran guru sebagai fasilitator erat kaitannya dengan peran sebagai pengelola kelas, agar dapat mendukung pembelajaran.
Guru sebagai pengelola kelas, yang bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya, agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan serta membimbing proses-proses intelektual, social, emosional, moral, dan spiritual di  dalam kelas, serta mengembangkan kompetensi dan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan peserta didik.
Guru sebagai demonstrator, yang senantiasa dituntut untuk menguasai materi pembelajaran dan mengembangkan kemampuannya dalam bidang ilmu yang dimilikinya, karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik.
Guru sebagai mediator, yang bertugas tidak hanya sebagai penyampai informasi dalam pembelajaran, tetapi sebagai perantara dalam hubungan antarmanusia, dengan peserta didik.
Guru sebagai evaluator, yang harus menilai proses dan hasil belajar yang telah dicapai, serta memberikan umpan balik terhadap keefektifan pembelajaran yang telah dilakukan.

Berhasil atau tidaknya peserta didik belajar sehingga sebagian besar terletak pada usaha dan kegiatannya sendiri, di samping faktor kemauan, minat, ketekunan, tekad untuk sukses, dan cita-cita tinggi yang mendukung setiap usaha dan kegiatannya. Peserta didik akan berhasil kalau berusaha semaksimal mungkin dengan cara belajar yang efisien sehingga mempertinggi prestasi (hasil) belajar. Sebaliknya, jika belajar secara serampangan, hasilnya pun akan sesuai dengan usaha itu, bahkan mungkin tidak menghasilkan apa-apa. Hasil belajar bergantung pula pada cara-cara belajar yang dipergunakan. Oleh karena itu, dengan mempergunakan cara belajar yang efisien akan meningkatkan hasil belajar yang memuaskan.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendongkrak prestasi belajar, antara lain keadaan jasmani, keadaan sosial emosional, lingkungan, memulai pelajaran, membagi pekerjaan, kontrol, sikap yang optimistis, menggunakan waktu, cara mempelajari buku, dan mempertinggi kecepatan membaca peserta didik.
Keadaan jasmani, untuk mencapai hasil belajar yang baik, diperlukan jasmani, untuk mencapai hasil belajar yang sehat, karena belajar memerlukan tenaga,  apabila jasmani dalam keadaan sakit, kurang gizi, kurang istirahat maka tidak dapat belajar dengan efektif. Keadaan sosial emosioanl, peserta didik yang mengalami kegoncangan emosi yang kuat, atau mendapat tekanan jiwa, demikian pula anak yang tidak disukai temannya tidak dapat belajar secara efektif, karena kondisi ini sangat mempengaruhi konsentarsi pikiran, kemauan dan perasaan.
Keadaan lingkungan, tempat belajar hendaknya tenag, jangan diganggu oleh perangsang-perangsang dari luar, karena untuk belajar diperlukan konsentrasi pikiran. Sebelum belajar harus tersedia cukup bahan dan alat-alat serta segala sesuatu yang diperlukan. Memulai pelajaran, memulai pelajaran harus tepat pada waktunya, bila merasakan keengganan, atasi dengan suatu perintah kepada diri sendiri untuk memulai pelajaran tepat pada waktunya. Membagi pekerjaan, sewktu belajar seluruh perhatian dan tenaga dicurahkan pada suatu tugas yang khas, jangan mengambil tugas yang terlampau berat untuk diselesaikan, sebaiknya sebelum memulai pelajaran lebih dulu menentukan apa yang dapat diselesaikan dalam waktu teretentu. Adakan kontrol, selididki pada akhir pelajaran, hingga manakah bahan itu telah dikuasai. Hasil baik mengembirakan, tetapi kalau kurang baik akan menyiksa diri dan memerlukian latihan khusus. Pupuk sikap yang optimistis, adakan persanigan dengan diri sendiri, niscaya prestasi meningkat dan karena itu memupuk sikap yang optimistis.
2. Penghargaan dan Hadiah
Penghargaan adalah suatu hadiah dalam bentuk ucapan terimakasih yang dirasakan sebagai pujian oleh orang untuk menerimanya. Sedangkan hadiah suatu penghargaan yang dibandingkan dengan nilai oleh orang yang menerimanya.
Psikologi perilaku mengatakan bahwa orang melihat penghargaan dan hadiah untuk memenuhi kebutuhab psikologis yang muncul dalam diri masing-masing. Meskipun teori penguatan positif merupakan sesuatu yang rumit, pada umumnya hadiah dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu hadiah intrinsik dan hadiah ekstrinsik. Hadiah intrinsik adalah perasaan internal yang diperoleh berdasarkan pemenuhan nilai-nilai pribadi dari suatu pekerjaan yang baik; sedangkan hadiah ekstrinsik adalah suatu penghargaan yang diberikan dalam bentuk potongan harga, bonus, penghargaan pribadi atau penghargaan masyarakat, dan sebagainya.
Penggunakan penghargaan dan hadiah harus disesuaikan dengan tingkatan karier dan kebutuhan para pegawai. Dalam hal ini, dapat dibedakan tiga tingkatan karier yang perlu diperhatikan dalam pemberiaan penghargaan dan hadiah, yakni karier awal, karier pertengahan, dan karier yang sudah matang. Kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam karier awal adalah kebutuhan akan keselamatan, keamanan, dan pendapatan. Kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam karier pertengahan adalah kebutuhan akan peluasan pekerjaan, persahabatan, peningkatan pendapatan, dan pengembangan disiplin. Sedangkan kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam karier yang sudah matang adalah kebutuhan aktualisasi diri, prestasi, kebebasan, penggunaan kemampuan, kekuasaan dan prestise, serta penghargaan bagi para guru.
3. Membangun Tim
Membangun tim bertujuan untuk mendidik seluruh tenaga kependidikan di sekolah pada seluruh tingkatan pekerjaan, dengan teknik kepemimpinan kepala sekolah yang efektif. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif merupakan komponen penting untuk menyukseskan implementasi Kurikulum 2013. Dalam hal ini dorongan diarahkan oleh visi, misi dan nilai-nilai, serta tindakan yang memungkinkan untuk mencapai tujuan yang tertera dalam kurikulum. Sejalan dengan konsep total quality management (TQM) , kepemimpinan kepala sekolah harus melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kemajuan implementasi kurikulum, serta membuat penyesuaian-penyesuaian jika diperlukan, untuk mendorong sekolah dalam mencapai tujuan, serta mewujudkan visi, dan misinya.
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan suatu proses dimana kepala sekolah mempengaruhi orang lain, baik individu maupun kelompk agar mengikuti apa yang diinginkan sesuai dengan pengarahan yang diberikan. Dismping itu, kepemimpinan kepala sekolah dapat diartika sebagai suatu proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Dalam hal ini, kepemimpinan kapala sekolah yang kuat dan memiliki komitmen akan memperoleh hasil yang yang signifikan dan memuaskan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan bagian penting dalam implementasi kurikulum, yang turut menentukan gagal atau berhasilnya pembelajaran di sekolah.
Lima tindakan umum kepemimpinan kepala sekolah yang sukses (berhasil), yaitu: menciptakan kegiatan atau proses yang menantang, menyamakan visi, memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk melakukan tindakan, mengembangkan suatu model pembelajaran yang efektif, dan terakhiran adalah memberikan dorongan kepada seluruh warga sekolah.
Dalam pembangunan tim guna menunjang optimalnya kurikulum 2013 terdapat sistem penampilan pribadi yang merupakan pola-pola perilaku untuk membentuk gaya berpikir., perasaan, dan tindakan seseorang dalam mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhannya. Karena membangun tim merupakan suatu proses, satu dari proses yang harus dipersiapkan untuk membantu proses adalah mengatur konflik. Tidak ada standar tertentu untuk menghadapi konflik, namun dari berbagai pendekatan, pendekatan Total Quality management (TQM) merupakan yang paling tepat dalam mengatasi konflik yang dihadapi dalam kehidupan dalam kehidupan organisasi, termasuk sekolah.

4. Mengembangkan Program Akselerasi
Implementasi Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi, dan dukungan Undang-Undang Sisdiknas 2003 memberikan kesempatan kepada sekolah dan daerah untuk mengembangkan program-program unggulan sesuai dengan karakteristik sekolah dan daerah masing-masing. Disamping itu, sekolah dapt mengembangkan program akselerasi (percepatan) untuk melayani dan mengakomodasi peserta didik yang cepat belajar atau memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Program akselerasi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melalui masa belajar di sekolah dengan waktu yang relatif cepat. Peserta didik dapt menempuh masa belajar di sekolah dasar sekitar lima tahun, di sekolah menengah pertama dua tahun, dan disekolah menengah atas dua tahun.melalui program akselerasi, peserta didik dalam usia 10 tahun sudah dapt menamatkan sekolah daar, 12 tahun menematkan SMP, dan 14 tahun atau 15 tahun sudah lulus SMA, sehingga dalam usia kurang dari 20 tahun sudah dapat meraih gelar sarjana. Program ini diharapkan dapt mendongkrak kualitas SDM secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Untuk mengembangkan program akselerasi perlu dilakukan berbagai persiapan, seperti penyempurnaan managemen dan pengayaan program, mengembangkan iklim dan kultur pendidikan, mengembangkan program bilingual, dan bahkan mengembangkan spiritualisasi mata pelajaran, agar setiap pembelajaran yang dilaksanakan mengandung unsur spiritual.
Pengembangan program akselerasi menuntut para komponen sekolah untuk mengadakan seleksi terhadap peserta didik yang akan mengikutinya, jangan sampai gagal di tengah jalan. Peserta didik yang mengikuti program akselerasi harus memiliki berbagai kelebihan dan kemampuan untuk dapat menyelesaikan pendidikan dan pembelajaran lebih cepat dari yang lain, sesuai dengan tuntutan program akselerasi. Sekolah juga dituntut untuk menyusun kalender pendidikan yang dapat melayani program akselerasi, misalnya bagaimana memilih materi-materi yang esensial, serta bagaimana menyelenggarakan ujian lebih capat dari program reguler.
Sejalan dengan program akselerasi, sekolah juga bisa mengatur jadwal pembelajaran yang dipandang efektif dan efisien, misalnya dengan mengembangkan full day school, dan sekolah berbasis kewirausahaan. Di samping itu, sekolah dapat mengatur jadwal pembelajaan, jika semula peserta didik belajar empat sampai lima mata pelajaran dalam sehari, maka sekolah dapat mengembangkan jadwal hanya dua atau tiga pelajaran sehari.
5. Membudayakan Kurikulum 2013
Tujuan, strategi fungsional, pengaturan struktural, dan faktor-faktor manusia sangat penting diperhatikan dalam implementasi Kurikulum 2013. Meskipun banyak ahli telah menekankan faktor manusia dalam mengimplementasikan Kurikulum, namun tidak satupun yang melakukannya lebih populer serta lebih memperhatikan pentingnya faktor manusia dan sistem sosial dari pada Thomas J. Peter dan Robert H Waterman, Jr. dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa implementasi kurikulum yang efektif merupakan hasil dari interaksi antara srategi implementasi, struktur kurikulum, tujuan pendidikan, sistem, profesionalitas guru, kompetensi tenaga kependidikan, dan kepemimpinan kepala sekolah. Oleh karena itu, untuk untuk mengoptimalkan implementasi Kurikulum 2013 diperlukan suatu upaya strategis untuk mensinegikan komponen-komponen tersebut, terutama guru dan kepala sekolah dalam membudayakan kurikulum.
Membudayakan kurikulum dapat dimaknai bahwa implementasi kurikulum tersebut masuk dalam budaya sekolah, yang merefleksikan nilai-nilai dominan, norma-norma dan keyakinan semua warga sekolah, baik peserta didik, guru, kepala sekolah, maupun tenaga kependidikan lain. Budaya sekolah nampak sebagai gaya sebuah sekolah dalam mempertahankan integritas struktur sosialnya, sebagaimana organisasi sosial dan sebagai sebuah pola kepribadian individu. Pada umumnya pandangan ini merupakan konsep budaya sebagai sistem sosial yang membawa pesan dengan memberikan makna terhadap pengalaman anggotanya.
Berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa terdapat sekitar delapan atribut utama yang paling dipercaya dalam membudayakan implementasi kurikulum dan perubahan di sekolah.
1. Sebuah bias untuk tindakan. Sekolah menganalisis pembuatan keputusan untuk melakukan perubahan, tetapi mereka bias dalam melakukan percobaan ide-ide.
2. Terbuka pada masyarakat. Sekolah bekerja dan mendengarkan masyarakat sekitarnya untuk meningkatkan kualitas, layanan, dan reliabilitas.
3. Otonomi dan kewirausahaan. Mereka memajang produk-produk pembelajaran, dan prestasi yang dapat diraih oleh peserta didik.
Produktivitas orang-orang. Setiap anggota sekolah dipandang sebagai sumber untuk melakukan peningkatan, karena setiap orang merupakan bagian dari tim (kelompok).
1. Pendekatan nilai. Sekolah memiliki kejelasan tentang visi dan misinya kepada masyarakat, dan kepala sekolah bersama dengan komite sekolah mempromosikan nilai-nilai kepada masyarakat.
2. Penekanan pada kepentingan. Sekolah melakukan apa yang mereka tahu. Oleh karena itu, ketika mereka melakukan suatu perubahan akan mengetahui wilayah dan mengetahui wilayah dan keterampilan yang harus dikuasai.
3. Bentuk sederhana pegawai. Sekolah menjaga kejelasan prioritas dan kestabilan, kesederhanaan, dan kefleksibelan struktur melalui desentralisasi.
4. Kehilangan simultan dan kepribadian terikat. Sekolah sering melakukan kontrol secara sentral dan kekuasaan yang rendah, kewirausahaan dan inovasi pembelajaran.
Hubungan buadaya dan strategi dapat menghasilkan bentuk perubahan dalam strategi dan budaya serta dalam keduanya. Untuk menentukan perubahan strategi implementasi kurikulum, kepada sekolah harus menentukan mana yang perlu ditekankan dalam perubahan tersebut. Perubahan strategi akan mengakibatkan pertimbangan sekolah dapat membawa strategi disejajarkan dengan sebuah budaya yang ada. Tidak semua kurikulum menuntut perubahan dalam budaya sekolah, tetapi perumusan yang tepat akan secara khusus menemukan budaya yang berhubungan.

6. Mendayagunakan Lingkungan
Pendayagunaan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian peserta didik bila apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan, dan berfaedah bagi lingkungannya.
Dalam pendekatan lingkungan pembelajaran disusun sekitar hubungan dan faedahnya. Isi dan prosedur disusun hingga mempunyai makna dan ada hubungan antara peserta didik dengan lingkungannya. Kompetensi yang dikembangkan harus memberi jalan ke luar bagi peserta didik dalam menanggapi lingkungannya. Pengembangan kompetensi dasar seyogyanya ditentukan oleh kebutuhan lingkungan peserta didik. Misalnya di lingkungan petani, kompetensi yang berkaitan dengan pertanian akan memberikan makna yang lebih mendalam bagi para peserta didik. Demikian halnya di lingkungan pantai, kompetensi tentang kehidupan pantai akan sangat menarik minat dan perhatian peserta didik.
Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti peserta didik mendapatkan pemahaman dan kompetensi dengan cara mengamati dan melakukan secara langsung apa-apa yang ada dan berlangsung di lingkungan sekitar, baik rumah maupun sekolah. Jadi, peserta didik dapat menanyakan sesuatu yang ingin diketahui pada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap kompeten tentang masalah yang dihadapi.
7. Melibatkan Masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam kegiatan pendidikan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama keikutsertaanya dalam memberikan gagasan, kritik membangun, dukungan dan pelaksanaan pendidikan. Dalam sistem pemerintahan top-down, partisipasi masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat dan diimplementasikan tidak begitu dipermasalahkan, namun pada sistem pemerintahan bottom-up, tingginya partisipasi masyarakat dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan kebijakan tersebut.
Koentjaraningrat (1982) menggolongkan partisipasi masyarakat ke dalam tipologinya, ialah partisipasi kuantitatif dan partisipasi kualitatif. Partisipasi kuantitatif menunjukkan pada frekuensi keikutsertaan masyarakat terhadap implementasi kebijakan, sedangkan partisipasi kualitatif menunjuk kepada tingkat dan derajatnya. Partisipasi masyarakat juga dapat dikelompokkan berdasarkan posisi individu dalam kelompoknya. Pertama, partisipasi masyarakat dalam aktivitas bersama dalam proyek khusus; kedua, partisipasi anggota masyarakat sebagai individu dalam aktivitas bersama pembangunan.
Secara luas, partisipasi dapat diartikan sebagai demokratisasi politik, sehingga turut menentukan tujuan, strategi dan memiliki perwakilan dalam pelaksanaan kebijakan dan pembangunan. Secara sempit partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan proses perubahan dan pengembangan masyarakat sesuai dengan hakekat pembangunan. Sebagai lawan dari kegiatan politk, partisipasi dapat diartikan sebagai upaya mendidik golongan-golongan masyarakat yang berbeda-beda kepentinganya untuk mengajukan secara rasional keinginanya dan menerima secara sukarela keputusan pembangunan.
Dalam rangka desentralisasi dan demokratisasi pendidikan, partisipasi masyarakat sangat diperlukan, dan masyarakat harus menjadi partner sekolah dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran, karena kerjasama di antara keduanya sangat penting dalam membentuk pribadi peserta didik. Dalam suasana yang demikian, sekolah sebagai lembaga sosial memiliki fungsi utama, yaitu sebagai partner masyarakat dan sebagai penghasil tenaga kerja terdidik. Sebagai partner masyarakat, sekolah akan dipengaruhi oleh corak pengalaman seseorang di dalam lingkungan masyarakat, bahan bacaan, tontonan, dan kondisi sosial ekonomi dapat mempengaruhi kegiatan pendidikan di sekolah. Sekolah juga harus bertanggung jawab terhadap perubahan masyarakat, yang dapat dilakukan melalui fungsi layanan bimbingan dan forum komunikasi antara sekolah dengan masyarakat. Di sisi lain, kesadaran peserta didik untuk mendayagunakan masyarakat sebagai sumber belajar dipengaruhi oleh kegiatan dan pengalaman belajar yang diikutinya di sekolah.
Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan rasional, yaitu (1) adanya kesesuaian antara fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah dengan kebutuhan masyarakat; (2) ketetapan sasaran dan target pendidikan yang ditangani oleh sekolah ditentukan oleh kejelasan perumusan kontrak antara sekolah dan masyarakat; dan (3) keberhasilan penunaian fungsi sekolah sebagai layanan pesanan masyarakat sangat dipengaruhi oleh ikatan objektif antara sekolah dan masyarakat. Ikatan objektif ini dapat berupa perhatian, penghargaan, dan bantuan tertentu; seperti dana, fasilitas, dan bentuk bantuan lain, baik bersifat ekonomis maupun non-ekonomis, yang memberikan makna penting pada eksistensi dan hasil pendidikan (Depdikbud,1990: 5-19).
Sejalan dengan bergulirnya roda reformasi yang didorong oleh para mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, persepsi dan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini, terutama berangkat dari tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membekali anaknya dengan berbagai pengetahuan dan teknologi sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat perlu senantiasa dikembangkan. Leslie (1980) mengungkapkan bahwa
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan suatu proses komunikasi untuk meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktek, serta mendorong minat, dan kerja sama dalam usaha memperbaiki sekolah, karena komunikasi itu merupakan lintasan dua arah, yaitu dari arah sekolah ke masyarakat, dan sebaliknya.
Hubungan dengan masyarakat akan tumbuh jika masyarakat juga merasakan manfaat dari keikutsertaannya dalam program sekolah. Manfaat dapat diartikan luas, termasuk rasa diperhatikan dan rasa puas karena dapat menyumbangkan kemampuanya bagi kepentingan sekolah. Jadi, prinsip menumbuhkan hubungan dengan masyarakat adalah dapat saling memberikan kepuasan. Salah satu jalan penting untuk membina hubungan dengan masyarakat adalah dapat saling memberikan kepuasan. Salah satu jalan penting untuk membina hubungan dengan masyarakat adalah menetapkan komunikasi yang efektif.
Dalam pelaksanaan program, sering terjadi masyarakat yang dilibatkan memiliki gagasan yang berbeda dengan program pengembangan sekolah. Dalam menghadapi kasus tersebut dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut.
1. Sekolah harus tetap menghargai setiap gagasan masyarakat, tetapi tidak harus dilakukan jika tidak sesuai dengan program sekolah. Jelaskan bahwa gagasan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena tidak sesuai dengan program induk sekolah.
2. Sekolah harus mampu mempertimbangkan peran masyarakat yang bersikeras terhadap ide dan gagasannya, sehingga apabila yang bersangkutan tidak aktif lagi, maka sekolah harus siap mengatasinya.
3. Sekolah harus netral dalam menyelesaikan konflik antar tokoh masyarakat yang sama-sama aktif dalam program dan kegiatan sekolah. Kedua belah pihak harus diajak musyawarah dengan pedoman keterlaksanaan program pengembangan sekolah.
Seperti program lain, menggalang partisipasi masyarakat juga harus diprogramkan dan dievaluasi secara berkala. Penyusunan program dan evaluasi berkala sebaiknya sudah melibatkan orang tua dan tokoh masyarakat di sekitar sekolah.

8. Menghemat Anggaran
Anggaran pendidikan di sekolah merupakan potensi yang sangat menentukan keberhasilan implementasi kurikulum 2013, dan peningkatan kualitas pembelajaran. Anggaran pendidikan di sekolah juga berkaitan dengan berbagai komponen pendidikan, termasuk guru dan tenaga kependidikan lain yang terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan sekolah.
Penghematan anggaran pendidikan di sekolah menuntut kemampuan para pengelola dan tenaga kependidikan untuk merencanakan, melaksanakan kebijakan anggaran, menggadakan pengawasan, dan mengevaluasi serta mempertanggung jawabkan setiap biaya yang dikeluarkan secara transparan, efektif, dan efisien, Hal ini sejalan dengan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, yang memberikan kewenangan kepada daerah dan sekolah dalam mengelola berbagai sumber yang ada di sekolah untuk menunjang terselenggaranya pendidikan di daerah atau sekolah yang bersangkutan.
Penghematan anggaran pendidikan di sekolah pada dasarnya untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana, seperti tanah, bangunan, laboratorium, perpustakaan, media belajar, proses pembelajaran, dan pelayanan administrative untuk menunjang jalannya proses pembelajaran. Jika penghematan biaya pendidikan di sekolah dapat dilakukan dengan baik dan benar, maka akan sangat menunjang tingkat efektivitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan secara keseluruhan. Namun dalam kenyataannya tidak demikian, karena masih banyak sekolah yang belum mampu melakukan penghematan terhadap biaya pendidikan yang ada, bahkan dalam operasinya seringkali kekurangan biaya, baik untuk kepentingan proses pembelajaran maupun untuk memenuhi sarana dan fasilitas lain.
Penghematan anggaran pendidikan di sekolah erat kaitannya dengan profesionalisme kepemimpinan sikap kepala sekolah terhadap kualitas. Dalam hal ini, pencapaian tingkat kualitas bukan merupakan hasil penerapan cara instan jangka pendek untuk meningkatkan daya saing, melainkan melalui implementasi TQM yang mensyaratkan kepemimpinan yang kontinu. Puffer & McCarthy (1996) telah mengembangkan kerangka kepemimpinan kualitas total semua manajer, dan pengaruh stake holder eksternal pada penentuan persyaratan kepemimpinan.
Dalam rangka penghematan anggaran pendidikan di sekolah, kepala sekolah sebagai pemimpin perlu memiliki karakteristik pribadi yang mencakup: dorongan, motivasi untuk memimpin, kejujuran, integritas, kepercayaan diri, inisiatif, kreativitas, originalitas, adaptabilitas, fleksibilitas, kemampuan kognitif, pengetahuan bisnis, dan kharisma. Kualitas manajemen puncak seperti itu dapat memberikan inspirasi pada semua jajaran manajemen agar memperagakan kualitas kepemimpinan yang diperlukan untuk melakukan penghematan biaya pendidikan di sekolah.
Dalam sebuah kontek penghematan anggaran pendidikan di sekolah, pengaturan anggaran yang jelas akan menumbuhkan komitmen tenaga kependidikan terhadap kualitas, memfokuskan semua upaya sekolah pada pemuasan kebutuhan peserta didik, menumbuhan sense of teamwork dalam kehidupan kerja, menumbuhkan standard of excellence, dan menjembatani keadaan sekolah sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini,perlu dirumuskan visi untuk diartikulasikan dan dikomunikasikan keseluruh tenaga kependidikan di sekolah untuk mempromosikan perubahan, inovasi, dan pengambilan keputusan (puffer & McCarthy, 1996).
Penghematan anggaran pendidikan di sekolah juga memerlukan perencanaan yang matang,  agar dana yang ada dapat dikelola secara efektif, efisien, dan akuntabel. Perencanaan dalam manajemen keuangan (financial planning) ialah kegiatan merencanakan sumber dana untuk menunjang kegiatan pendidikan dan tercapainya tujuan sekolah. Perencanaan ini juga biasa disebut penganggaran (budgeting). Perencanaan menghimpun sejumlah sumber daya yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan “budgeting brings fiscal resources demandes in planning and programming inio sharper focus” (knezevich,1989). Anggaran atau budget merupakan alat penjabaran suatu rencana ke dalam bentuk dana untuk setiap komponen kegiatan. Dalam hal ini Ricard Gordon (1976:125) mengemukakan pendekatan yang umum digunakan yaitu pendekatan tradisional dan Planning Programming Budgeting System  (PPBS).
9. Meningkatkan sistem informasi manajemen pendidikan       
Seiring majunya peradaban dunia dan dinamika kehidupan penduduk bumi yang cenderung vertikal, tidak jarang menimbulkan gejolak kehidupan sosial. Permasalahan sosial selalu timbul setiap saat dikarenakan sangat cepatnya arus globalisasi. Sarlito W. Sarwono, menyatakan bahwa “Maju dan berkembangnya peradaban dunia juga mempengaruhi alat pendu­kung­nya, diantaranya adalah teknologi komunikasi yang penggunaanya sebagai alat bantu untuk memproses dan mentransfer perangkat data informasi yang dibutuhkan, teknologi komunikasi pula sebagai sebab masuknya norma  dan nilai baru dari luar yang pada gilirannya norma dan nilai baru ini masuk ke dalam lingkungan kehidupan keluarga dan masyarakat”.
Sistem informasi manajemen marupakan sistem operasional  yang malaksanakan beraneka-ragam fungsi untuk menghasilkan luaran yang berguna bagi pelaksanaan operasi dan manajemen organisasi yang bersangkutan. Penerapan sistem informasi manajemen pada kehidupan sehari-hari kini makin banyak dijumpai. Selain seperti pada bisnis, perbankan, pemerintahan, ataupun perhotelan. Dalam dunia pendidikan (SIMDIK) pun sistem informasi manajemen serta teknologi informasi sangatlah mendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran..
Di dunia pendidikan, banyak sekali lembaga pendidikan yang berhasil mengembangkan teknologi informasi dalam mendukung proses pembelajarannya, baik di dalam maupun di luar negeri  sehingga dapat mengadopsi pola pembelajaran yng lebih mudah, cepat, memiliki nilai tambah serta inovatif dalam mencari formulasi baru untk memberikan tambahan ilm maupun keterampilan bagi peserta didiknya. Sekolah yang melakukan pelayanan terhadap siswa merupakan institusi yang sangat membutuhkan kehadiran teknologi informasi sebagai pendukung peningkatan kualitas pelayanan.
Sistem informasi manajemen Sekolah dapat dikatakan berjalan apabila semua komponen sekolah dapat menggunakan dan memanfaatkan sistem itu sendiri.  Sebagai contoh ada suatu sistem informasi sekolah lengkap dan terpadu yaitu Integrated School Information System (I-SIS) yang memiliki fasilitas terpadu atau terintegrasi jadi satu mulai dari database peserta didik, guru, Bimbingan dan Konseling, kartu pelajar barcode, absensi siswa, guru pegawai, nilai (ulangan, UTS, UAS, try out dll) Rapor otomatis, pembayaran, SMS Gateway.  Selain itu I-SIS juga bisa terhubung dengan Scanner LJK bila ulangan atau ujian menggunakan lembar jawaban komputer maka scanner akan otomatis mengirim nilai ke database sistem, untuk absensi siswa, guru dan pegawai dapat menggunakan sidik jari yang otomatis terlapor ke wali siswa bila siswa bolos atau alpha. Manfaat untuk guru bidang studi nilai akan diolah otomatis tinggal memasukan rumus sesuai keinginan masing-masing guru, ledger dan rapor juga otomatis tinggal print.
Manajemen pendidikan merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin Efisiensi dan efektivitas pelayanan pendidikan, melalui perencanaan, pengambilan keputusan, perilaku kepemimpinan, penyiapan alokasi sumber daya, stimulus dan koordinasi personil, penciptaan iklim organisasi yang kondusif, serta penentuan pengembangan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan siswa dan masyarakat di masa depan. Sehingga dapat dikatakan bahwa manajemen pendidikan pada haki­katnya adalah menyangkut tujuan pendidikan, manusia yang melakukan kerjasama, proses sistemik dan sistematik serta sumber-sumber yang didaya­gunakan. Sehingga dapat dinyatakan bahwa manajemen pendidikan adalah suatu cabang ilmu manajemen pendidikan yang mempelajari penataan sumber daya manusia, kurikulum, fasilitas sumber belajar, dana serta upaya mencapai tujuan lembaga secara dinamis. Pengelolaan sistem informasi manajemen pendidikan terdiri atas unsur input, proses dan output.
Mengingat peran sistem informasi manajemen yang begitu penting sangat diperlukan oleh suatu lembaga/satuan pendidikan. Upaya dan usaha menerapkan IT dalam menunjang kelancaran kinerjanya, dengan kondisi semacam itu seluruh tenaga kependidikan dan pendidik terus melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki sistem-sistem yang sudah ada. Teknologi informasi juga merupakan salah satu senjata pesaing. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi menjadi salah satu alat untuk meningkatkan efisiensi dalam aktivitas operasional lembaga pendidikan, bahkan untuk menjadi pilihan masyarakat saat ini, lembaga pendidikan harus memiliki sperangkat teknologi informasi yang memadai.

J.     Membangun Jiwa Kewirausahaan
Pada saat ini banyak sekolah swasta yang maju dan kwalitasnya lebih baik disbanding sekolah negeri, karena tidak terikat alokasi dana dari pemerintah. Hal tersebut menantang sekolah negeri untuk mampu mandiri seperti sekolah swasta. Oleh karena itu kepala sekolah harus memiliki jiwa kewirausahaan dan memahami prinsip kewirausahaan, kemudian menerapkannya dalam mengelola sekolah.
Berbicara wirausaha menurut Hisrich & Peters (1992) adalah berbicara mengenai “perilaku”, yang mencakup pengambilan inisiatif, mengorganisasi dan mereorganisasi mekanisme social dan ekonomi terhadap sumber dan situasi kedalam praktek, dan penerimaan resiko atau kegagalan.  Para ahli ekonomi mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang dapat meningkatkan nilai tambah terhadap sumber, tenaga kerja, alat, bahan, dan asset lain, serta orang yang memperkenalkan perubahan, inovasi dan cara-cara baru.
Dalam implementasi kurikulum 2013, sekolah akan menjadi unit layanan mayarakat yang sangat diperlukan.Oleh Karen itu, kepala sekolah harus mampu menjaga dan meningkatkan kualitas sekolah, Jika kualitas sekolah baik, masyarakat, kususnya orang tua kan bersedia perperan aktif di sekolah, karena yakin anaknya akan mendapat pendidikan yang baik. Disanalah pentingnya pribadi wirausaha kepala sekolah, untuk mencari jalan meningkatkan kualitas sekolah agar masyarakat dan orang tua percaya terdapat produktivitas sekolah, dan mau berpartisipasi dalam bebagai program dan kegiatan sekolah.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Meningkatkan prestasi belajar diperoleh seseorang setelah menempuh kegiatan belajar, sedangkan belajar pada hakekatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu (a) bahan atau materi yang dipelajari; (b) lingkungan; (c) faktor instrumental; dan (d) kondisi peserta didik
2. Beberapa upaya dapat dilakukan untuk optimalisasi (mengoptimalkan) implementasi kurikulum 2013. Upaya-upaya tersebut adalah: mendongkrak prestasi, penghargaan dan hadiah, membangun tim, program akselerasi, mengimplementasikan kurikulum melalui budaya, melibatkan masyarakat, menghemat biaya pendidikan, teknologi informasi dan membangun jiwa kewirausahaan.
Penghargaan dan hadiah dalam hal ini adalah pemenuhan kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam karier awal adalah kebutuhan akan keselamatan, keamanan, dan pendapatan. Kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam karier pertengahan adalah kebutuhan akan peluasan pekerjaan, persahabatan, peningkatan pendapatan, dan pengembangan disiplin. Sedangkan kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam karier yang sudah matang adalah kebutuhan aktualisasi diri, prestasi, kebebasan, penggunaan kemampuan, kekuasaan dan prestise, serta penghargaan bagi para guru.

DAFTAR PUSTAKA

B. Davis, Gordon. 1998. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Cet. IX; Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo
Degeng, Nyoman Sudana. (2004). Teori Pembelajaran Malang. Jawa Timur: UM Press
Joko Susilo, Muhammad. 2012. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta Pustaka Pelajar.
Koentjaraningrat. 1982. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Makmun, A.S. 1999. Psikologi Kependidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Rochaety, Eti, dkk. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 2005.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

ANALISIS TERHADAP MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM


KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb.
          Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah yang maha kuasa karena  atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah  yang senantiasa dilimpahkan kepada kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan  kemudahan untuk mengumpulkan Reprensi dalam menyusun makalah mengenai Analisis Terhadap Model Pengembangan Kurikulum.
Adapun maksud dan tujuan membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Telaah Kurikulum, Semester Genap.
         Kami juga  sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan yang seharusnya itu menjadi suatu hal yang sangat Subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami sebagai penyusun makalah ini  sangat mengharapkan masukan – masukan agar sekiranya makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga dapat bermamfaat untuk kita semua.
          Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu banyak memberikan dampak positif bagi rekan – rekan mahasiswa lainnya, Semoga Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Wassalamu A’laikum Wr.Wb
Purwakarta, 4 Juli 2019
Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan Penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Pengertian Kurikulum 2
B. Komponen Kurikulum 2
C. Pengertian dan Landasan Pengembangan Kurikulum 4
D. Prinsip Pengembangan Kurikulum 8
E. Model Pengembangan Kurikulum 10
F. Langkah-Langkah Dalam Pengembangan Kurikulum Di Sekolah 12
G. Kesulitan-kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum 13
H. Pendekatan Pengembangan Kurikulum 13
I. Ciri-ciri Hasil Dari Pengembangan 14
J. Pengembangan Kurikulum 2013 15
BAB III PENUTUP 17
KESIMPULAN 17
DAFTAR PUSTAKA 18


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kurikulum adalah suatu sistem yang ditujukan kepada seseorang atau terhadap sesuatu pihak yang terlibat di dalamnya. Kurikulum juga adalah sebuah bahan ajar terhadap murid/siswa dalam proses pembelajaran.
Dari dulu hingga saat ini, kurikulum akan selalu mengalami pengembangan demi pengembangan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kecenderungan adanya pengembangan juga perlu dipahami oleh pendidik, khususnya orang tua dan guru. Dan cara itu disebut dengan model pengembangan kurikulum.
Terdapat berbagai faktor bagaimana kurikulum itu harus berubah. Landasan-landasan yang dikemukakan dapat membantu pembaca yang budiman mengerti mengapa kurikulum itu terus mengalami perbaikan atau perubahan.
Disini kami sebagai penulis ingin membahas tentang persoalan Model Pengembangan dari kurikulum itu sendiri, pengertian kurikulum secara sempit dan secara luas dan lain-lain yang menyangkut mengenai pengembangan kurikulum. Karena dengan mempelajari sistem model pengembangan kurikulum, kita sebagai seorang pendidik dapat mengenali berbagai pengetahuan tersendiri, sehingga dapat meningkatkan pikiran positif terhadap apa yang membuat kurikulum itu berubah.
Tentunya jika harus menunggu sempurna, makalah ini tidak akan pernah selesai. Maka dari itu, kritik serta saran sangat penulis butuhkan dari pembaca yang budiman.
Rumusan Masalah
1.  Apa itu kurikulum secara sempit dan secara luas?
2.  Apa bedanya perubahan dengan perbaikan?
3.  Apa yang dimaksud model pengembangan kurikulum?
Tujuan Penulisan
1.  Mengetahui pengertian kurikulum secara sempit dan secara luas
2.  Mengetahui perbedaan perubahan dan perbaikan kurikulum
3.  Mengetahui arti dari model pengembangan kurikulum


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kurikulum
Kata kurikulum berasal dari bahasa Latin, curere, yang artinya berlari, menjelajah, berkeliling, dan sejenisnya di arena perlombaan. Sejalan deengan perkembangannya, kata kurikulum kini di artikan secara sempit maupun seccara luas.
1. Kurikulum Secara Sempit
Secara sempit, kata kurikulum diartikan sebagai kumpulan pelajaran. AdapunmenurutMichaelis dan kawan-kawan, membatasi kurikulum menjadi spesifik. Bahwa kurikulum tidak lebih dari sekedar tujuan, isi, metode, media, strategi, dan evaluasi pembelajaran di sekolah.
2. Kurikulum Secara Luas
Mengacu pada pandangan-pandangan dalam hal ini, secara luas kata kurikulum dapat diartikan sebagai pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab sekolah. Pengalaman belajar dalam kurikulum secara luas ini mencakup pengalaman belajar di dalam kelas, di lingkungan sekolah, maupun di luar sekolah. Hal kecilnya adalah ketika siswa bermain sambil berlari di halaman sekolah misalnya, termasuk dalam konsep kurikulum.
B. Komponen Kurikulum
Mengacu kepada pandangan Michaelis, Grossmen, dan Scott (1975), sebagai suatu sistem, kurikulum memiliki empat komponen, yaitu: 1. Tujuan/kompetensi, 2. Isi, 3. Strategi atau cara mengajar,4. Evaluasi.
Dalam konteks Indonesia, mengacu pada pengembangan kurikulum, maka kata-kata yang lazim terkaait dengan komponen kurikulum adalah kompetensi, materi, pendekatan, dam evaluasi.

Berikut ulasan mengenai komponen kurikulum menurut pandangan Michaelis dan kawan-kawan, yaitu:
1. Komponen Tujuan/Kompetensi
Dua istilah ini memiliki makna yang sama. Dengan demikian , keduanya mengacu kepada hasil yang akan diperoleh melalui pendidikan. Dengan kata lain, komponen tujuan atau kompetensi berisi pernyataan tentang target yang akan dicapai atau kemampuan yang akan dikembangkan dalam diri siswa sebagai hasil pendidikan.
2. Komponen  isi
Komponen ini adalah komponen yang memuat pesan yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau membentuk kompetensi pada diri siswa. Adapun sejumlah istilah yang mempunyai maksud sama dengan isi kurikulum adalah seperti materi kurikulum, bahan kurikulum, dan pesan kurikulum.
3. Komponen Strategi
Komponen ini adalah komponen yang berisi pernyataan tentang penataan dan pemanfaatan berbagai hal untuk pencapaian tujuan pembelajaran, atau untuk pengembangan kompetensi dalam diri siswa secara efektif dan efisien.
Menurut Bruner, ada dua strategi yang menjadi pokok utamanya, yakni strategi ekspositori dan strategi heuristik.
Dalam strategi ekspositori, guru menjadi sumber belajar utama yang mengekspos pelajaran kepada siswa, sementara siswa diposisikan sebagai objek kosong yang akan diisi oleh guru.
Dalam strategi heuristik, siswa diposisikan sebagai makhluk unik dengan potensi yang memungkinkannya untuk memproses secara mandiri perolehan belajarnya. Dengan kata lain, siswa dijadikan sebagai pusat, bukan guru.



4. Komponen Evaluasi
Komponen ini berisi pernyataan tentang upaya untuk mengetahui tingkat pencapaian pembelajaran, serta efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran.
Ada dua acuan dalam komponen ini, yaitu; Acuan Patokan, yakni keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh pencapaian standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu, dan Acuan Norma, yakni keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh posisi siswa dalam nilai rata-rata kelas.

C. Pengertian dan Landasan Pengembangan Kurikulum
Istilah pengembangan kurikulum menunjukkan kepada suatu kegiatan yang menghasilkan suatu cara yang ‘baru’, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap cara tersebut terus dilakukan. Atau dengan pengertian lain, yakni suatu cara untuk melaksanakan dan merencanakan kurikulum pendidikan pada suatu satuan pendidikan agar menghasilkan sebuah kurikulum yang kolaboratif, akomodatif, sehingga menghasilkan kurikulum yang ideal.
Landasan dari pengembangan kurikulum adalah pertimbangan-pertimbangan mendasar dan menyeluruh, yang dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum.Adapun landasan pengembangan kurikulum, yaitu adalah:
3. Landasan Filosofis
Yakni pendidikan menyangkut hubungan antara sesama manusia. Dan hal yang paling mendasar adalah tentang hakikat manusia. Mak pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk religi.
a. Makhluk Individu
Menurut pandangan filsafat antropologi, di antara miliaran manusia, tidak ada satu pun orang yang sama antara satu dengan yang lain, sekalipun itu kembar identik. Maka, pendidikan haruslah menghargai keunikan itu. Wujud konkret dari penghargaan itu adalah penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan minat positif dalam diri setiap peserta didik.
Hakikat manusia sebagai makhluk individu ini berimplikasi pada penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut:
- Dalam hal guru, adalah di harapkan orang yang benar-benar berbakat dan berminat menjadi guru, serta mengajar pelajaran sesuai bakat dan minatnya.
- Dalam hal tujuan dan isi pendidikan, diharapkan pada kurikulum sekolah terdapat beraneka pilihan tujuan dan isi pendidikan berupa aneka mata pelajaran, sehingga dapat mengakomodir keanekaragaman bakat dan minat siswa.
- Dalam hal strategi pendidikan, diharapkan guru dapat menggunakan beraneka metode dan media pembelajaran.
- Dalam evaluasi pendidikan, guru mengevaluasi kemajuan belajar siswa sesuai kapasitas potensi akademik yang dimilikinya.

b. Makhluk Sosial
Pandangan tentang hakikat manusia sebagai makhluk sosial mempunyai implikasi terhadap semua unsur pendidikan. Yakni sebagai berikut:
- Dalam hal guru, perlunya wadah seperti PGRI, Kelompok Kerja Guru (KKG), dan sejenisnya.
- Dalam hal siswa, perlunya wadah seperti OSIS dan Ekstrakulikuler di sekolah.
- Dalam hal isi dan tujuan pendidikan, terdapatnya isi dan tujuan pendidikan yang memadai untuk mendorong berkembangnya kesadaran dan keterampilan sosial siswa.
- Dalam hal strategi pendidikan, diperlukan strategi memupuk kemampuan kerja sama, seperti kerja kelompok atau diskusi.

c. Makhluk Susila
Menurut ilmu antropologi, manusia dilahirkan dengan potensi membedakan baik dan buruk serta potensi berbuat baik. Lalu di dalam konteks pendidikan, implikasinya sebagai berikut:
- Dalam hal guru, diharapkan seorang guru telah berkembang secara memadai potensi baik dalam dirinya.
- Dalam hal siswa, adanya perkembangan potensi baik hingga tingkat tertentu. Atau adanya sebuah perjanjian dengan orang tuanya bahwa siswa  akan menaati peraturan sekolah.
- Dalam isi dan tujuan pendidikan, tersedianya tujuan dan isi moral dan etika, baik terintegrasi dalam setiap pelajaran ataupun disajikan sebagai pelajaran tersendiri.
- Dalam hal strategi, cara-cara pendidikan moral dan etika diterapkan secara proporsional, sinergis dan konsisten.

d. Makhluk Religi
Setiap manusia diciptakan untuk menyadari adanya kekuatan Maha Besar yang tak terbatas, Pencipta, Penguasa, dan Pengatur segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Adapun dalam hal pendidikan, implikasinya antara lain:
- Dalam hal guru, seorang guru dipersyaratkansebagai orang yang percaya akan adanya Tuhan
- Dapam hal siswa, seorang siswa pundipersyaratkan telah memiliki atau di arahkan untuk memiliki pilihan terhadap wujud kepercayaan tertentu.
- Dalam tujuan dan isi pendidikan, tersedianya isi dan tujuan pendidikan ketuhanan. Dan terdapat pelajaran agama, dan siswa diwajibkan mengikuti pelajaran agam sesuai agama yang dianutnya.
- Dalam hal strategi pendidikan, cara-cara pendidikan ketuhanan atau keagamaan dilakukan secara proporsional, sinergis, dan konsisten.

4. Landasan Sosial
Landasan ini terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Berbagai lajian ilmiah telah melahirkan sejumlah disiplin ilmu sosial.
Ada disiplin ilmu tentang sejarah, maksudnya adalah bahwa manusia saat ini merupakan produk dari manusia yang lalu. Demikian pula apa yang dilakukan manusia saat ini akan memproduk kondisi manusia masa depan. Atau disiplin ilmu tentang ekonomi, dalam hal pendidikan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki dua sisi ekonomis sekaligus, sebagai konsumen maupun produsen. Sebagai konsumen, bahwa sekolah memerlukan berbagai produk ekonomis bagi berjalannya mekanisme sistem persekolahan, sementara produsen, tentu bahwa sekolah akan menghasilkan lulusan.

5. Landasan Psikologis
Menurut Goble  (1987), ada dua aliran besar psikologi yang amat mewarnai dunia pendidikan saat ini. Yaitu psikologi behaviorisme dan humanisme.
Psikologi Behaviorisme
Psikologi ini berpandangan bahwa manusia belajar melalui proses atimulus-reapons-asosiasi. Dengan kata lain bahwa pembiasaan menjadi cara utama membentuk pribadi manusia

Psikologi Humanisme
Psikologi ini dengan berbagai varian teorinya, sejalan dengan teori nativisme, yang memandang hakikat pribadi manusia telah dibawa sejak lahir.

Adapun Sofyan (2006:9) menyebutkan bahwa dasar-dasar pengembangan kurikulum meliputi:
a. Kurikulum di susun untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional
b. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan pendekatan kemampuan
c. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan

6. Landasan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ini sudah membawa beberapa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Seperti perubahan nilai-nilai budaya, spiritual, sosial, intelektual, maupun dalam material.

D. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Ini adalah pertimbangan-pertimbangan mendasar yang bersifat khusus dalam pengembangan kurikulum. Secara umumnya terdapat lima prinsip, yaitu:
7. Prinsip Relevansi
Yakni perkembangan kurikulum harus relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat dan kondisi psikologis siswa. Contohnya adalah ditekankan tentang kebutuhan dalam dunia kerja yang merupakan salah satu sisi dari aspek sosial budaya. Dan mencakup tiga kawasan yang menjadi acuan bagi psikologi siswa, yakni kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

8. Prinsip Kontinuitas
Yaitu pengembangan kurikulum berkaitan dengan kenyataan bahwa pendidikan adalah sebuah proses bertahap dan berkelanjutan, bahkan berlangsung seumur hidup.

9. Prinsip Fleksibilitas
Ada dua kenyataan mendasar terkait hal ini, pertama yaitu setiap siswa adalah makhluk unik, maka diperlukan kurikulum yang lentur. Kedua, bahwa masyarakat akan terus berubah, dan terdapat perubahan yang bisa diprediksi atau pun tidak. Maka kurikulum juga dirancang untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan perubahan sosial.

10. Prinsip Efektivitas
Prinsip ini terkait dengan tingkat pencapaian target. Mencakup tentang sejauh mana rancangan program kurikulum terlaksana, serta sejauh mana tujuan pendidikan tercapai melalaui pelaksanaan kurikulum.

11. Prinsip Efisiensi
Prinsip efisiensi terkait dengan tingkat penghematan yang realistis dalam suatu kegiatan, tanpa mengorbankan pencapaian kuantitas dan kualitas yang maksimal. Guna menghasilkan kurikulum dengan efisiensi teoritis yang tinggi, pengembangan kurikulum hendaknya dimulai dengan mengidentifikasi dan menampilkan sejumlah alternatif berdasarkan kadar efisiensinya.

E. Model Pengembangan Kurikulum
Model pengembangan kurikulum adalah suatu bentuk konseptual berupa deskripsi verbal yang menggambarkan tentang tahap-tahap pengembangan kurikulum, pihak-pihak yang terlibat, serta wujud keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan kurikulum. Adapun perkembangan model untuk evaluasi kurikulum memperlihatkan suatu gejala yang tidak berbeda dengan perkembangan disiplin ilmu pendidikan dan upaya-upaya pendidikn yang pernah dilakukan manusia.
Tahap-tahap pengembangan kurikulum amat tergantung pada pendekatan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Ada pendekatan menggunakan mata pelajaran, di mana tahap awal pengembangan akan berkisar pada identifikasi disiplin ilmu yang di penting bagi peserta belajar. Namun bila menggunakan pendekatan kompetensi, maka tahap awal akan di mulai dengan identifikasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah pihak-pihak yang memiliki kompetensi dan kondisi yang relevan dengan setiap tahap pengembangan kurikulum. Pihak-pihak tersebut bisa berwujud lembaga atau perorangan. Contoh lembaga seperti sekolah, seksi kurikulum, satuan tugas kurikulum, pusat kurikulum, dan komite sekolah. Perorangan seperti siswa, guru, kepala sekolah, pemilik sekolah, pelaku dunia kerja, ahli kurikulum, dan ahli disiplin ilmu. Wujud keterlibatan berbagai pihak itu amat tergantung pada jenis model pengembangan kurikulum.

Dalam rentang sejarah, terdapat paling tidaknya ada 8 model pengembangan kurikulum. Yaitu the administrative model, the grass roots model, beauchamp’s system, the demonstration model, taba’s inverted model, roger’s interpersonal relations model, the systematic action-research model, and emerging technical models.
Dan walaupun terdapat sejumlah model dalam pengembangan kurikulum, namun pada pokoknya terdapat tiga jenis model, yakni model top-down, model bottom-top, dan model campuran, (McNeil, 1990)
1. Model Top-Down
Secara filosofis, model top-down bersumber dari filsafat materialisme, yang sejalan dengan psikologi behaviorisme. Pada model top-down, gagasan pengembangan kurikulum datang dan dimulai dari lapisan birokrasi pendidikan atas, kemudian di distribusikan menuju lapisan birokrasi pendidikan terbawah.
Di Indonesia, lapisan birokrasi pendidikan teratas adalah Kementrian Pendidikan, selanjutnya guru sebagai lapisan birokrasi pendidikan terbawah berperan sebagai pelaksanaan kurikulum yang dikembangkan sepenuhnya dan disalurkan oleh pihak-pihak di luar dirinya.
Kelemahannya adalah, guru tidak memiliki cukup rasa ikut dalam memiliki kurikulum, sehingga tidak maksimal dalam melaksanakannya, maka pengelolaan pendidikan tidak mendapatkan hasil maksilmal.
2. Model.Bottom-Up
Model bottom-up bersumber dari filsafat idealisme, yang sejalan dengan psikologi humanisme. Model ini menggunakan gagasan bahwa awal pengembangan kurikulum datang dari pihak guru sebagai birokrat lapisan paling bawah, sedangkan lapisan atas hanya menerima.
Kelemahannya adalah, dapat mengancam integrasi nasional. Ancamannya akan semakin besar pada masyarakat yang amat plural dan heterogen, seperti Indonesia.
3. Model Campuran
Model ini bersumber dari filsafat realisme, yang memandang filsafat idealisme dan materialisme, maupun psikologi behaviorisme dan humanisme, sebagai pasangan realitas sosial yang nyata.
Sebagai model campuran, pengembangan kurikulum dengan model ini sudah memiliki acuan awal pengembangan, yakni ketentuan perundang-undangan negara tentang pendidikan, termasuk kurikulum. Dengan kata lain, model ini berangkat dari top-down.

F. Langkah-Langkah Dalam Pengembangan Kurikulum Di Sekolah
Perbaikan di sekolah sangat penting untuk kelangsungan terlaksananya kurikulum, adapun langkah-langkahnya adalah:
1. Adakan penilaian umum tentang sekolah, seperti dalam hal apa sekolah itu lebih baik atau lebih rendah mutunya daripada sekolah lain.
2.  Selidiki berbagai kebutuhan, antara lain kebutuhan siswa, kebutuhan guru, dan kebutuhan akan perubahan dan perbaikan.
3.  Mengidentifikasi masalah serta merumuskannya
4.  Mengajukan saran perbaikan
5.  Menyiapkan desain perencanaannya yang mencakup tujuan
6.  Memilih anggota panitia
7.  Mengawasi pekerjaan pantia
8.  Melaksanakan hasil panitia oleh guru dalam kelas
9.  Menerapkan cara-cara evaluasi
10.  Memantapkan perbaikan

G. Kesulitan-kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum
Sejarah menunjukkan bahwa sekolah itu sangat sukar menerima pembaruan. Manusia itu pada umumnya bersifat konservatif dan guru termasuk golongan itu juga. Pembaruan kurikulum juga terkadang terikat pada tokoh yang mencetuskannya. Dan melakukan pembaharuan pun memerlukan pemikiran dan tenaga yang lebih banyak.

H. Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Selain memperhatikan pertimbangan filosofis dan psikologis, para perencana kurikulum juga hendaknya memperhatikan pendekatan yang akan digunakan dalam pengembangan kurikulum, setidaknya ada 4 macam pendekatan yang perlu di perhatikan, yakni:
1.  Pendekatan Akademis
Pada pendekatan ini, lebih  tujuan-tujuan mata pelajaran sesuai dengan konsep dasar dan batasan-batasan disiplin ilmu dari mata pelajaran tersebut. Prioritas pendekatan ini adalah penularan pengetahuan.
2.  Pendekatan Teknis
Di sini sangat memperhatikan bagaimana mata pelajaran itu terperinci dan diatur secara sistematis.
3.  Pendekatan Individu
Di sini lebih memperhatikan bagaimana anak didik dapat diarahkan kepada pengembangan kemampuan berpikir dan keterampilan, dan pengembangan nilai-nilai pribadi.


4.  Pendekatan Sosial
Pendekatan ini menghendaki pengembangan program yang akan menghasilkan anak didik dengan berbagai kemampuan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Dari apa yang terpapar di atas, maka apakah kurikulum itu sedang dalam perubahan atau perbaikan? Berikut sedikit pembahasannya;
Perbaikan kurikulum, biasanya hanya mengenai satu atau beberapa aspek dari kurikulum. Sedangkan perubahan kurikulum yakni mengenai perubahan dasar-dasarnya, baik mengenai tujuan atau alat-alat atau cara untuk mencapai tujuan itu.

I. Ciri-ciri Hasil Dari Pengembangan
Perubahan tidak selamanya membawa hasil dalam suatu pengembangan. Hanyalah peubahan positif yang menghasilkan suatu pengembangan. Maka agar perubahan itu menjadi positif dan berhasil dalam pengembangan, maka ia harus memiliki ciri-ciri khas, yaitu:
1.  Peubahan Harus Bermanfaat
2.  Perubahan Harus Terencana
3.  Perubahan Harus Progresif
4.  Perubahan Harus Berkelanjutan
Dalam pengembangan kurikulum pasti adanya sebuah pengaruh, yakni adanya pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Pengaruh langsung biasanya datang dari lembaga-lembaga dan eksekutif yang mempunyai kepentingan dengan kurikulum sesuai dengan misi dan trend yang sedang popular pada waktu tertentu.
MPR misalnya pada tahun 1983 dalam ketetapan IV/MPR/1983 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara telah menetapkan bahwa pendidikan sejarah perjuangan bangsa perlu diberikan di tingkat sekolah mulai dari pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi. Maka dengan adanya itu, lahirlah Pendidikan Sejarah PPerjuangan Bangsa sebagai unsur baru yang dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
Pengaruh tidak langsung yaitu datang dari pihak masyarakat dan cendikiawan yang merasa mempunyai kepentingan dengan kurikulum. Masyarakat misalnya, mengusulkan agar pelajaranb Agama di sekolah lebih di tingkatkan.

J. Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan Kurikulum 2013, dilandasi oleh Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka MenengahNasional 2010-2014, dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pada Kurikulum 2013, pemerintah menetapkan Standar Nasional Pendidikan, Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, Silabus, dan Pedoman Implementasi Kurikulum.

Faktor-faktor Pengembangan

Berikut faktor-faktor pengembangan Kurikulum 2013

a. Tantangan Internal
Tantangan Internal antara lain terkait dengan tuntuta pendidikan yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan, meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

b. Tantangan Eksternal
Yakni terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industry kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.

c. Penyempurnaan Pola Pikir
Penyempurnaan pola pikir, salah satunya dapat dilakukan dengan cara pembelajaran yang berpusat pada bguru menjadi pembelajaran berpusat pada  peserta didik.

d. Penguatan Tata Kelola Kurikulum
Cara yang bisa dilakukan yaitu:
1. Tata kerja guru yang bersifat individual diubah menjadi bersifat kolaboratif
2. Penguatan manajemen oleh kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan
3. Penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan proses pembelajaran
e. Penguatan Materi
Bisa dilakukan dengan pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik.
Tidak lain dan tidak bukan, pengembangan kurikulum ini haruslah sejalan dengan tujuan sekolah pendidikan dasar 9 tahun yakni untuk memberikan bekal kemampuan sesuai tingkat pendidikan, antara SD, SMP, dan SMA.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Secara sempit, kata kurikulum diartikan sebagai kumpulan pelajaran. AdapunmenurutMichaelis dan kawan-kawan, membatasi kurikulum menjadi spesifik. Mengacu pada pandangan-pandangan dalam hal ini, secara luas kaata kurikulum dapat diartikan sebagai pengalaman belajar siswa di bawah tanggung jawab sekolah.
Dan walaupun terdapat sejumlah model dalam pengembangan kurikulum, namun pada pokoknya terdapat tiga jenis model, yakni model top-down, model bottom-top, dan model campuran.
Istilah pengembangan kurikulum menunjukkan kepada suatu kegiatan yang menghasilkan suatu cara yang ‘baru’, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap cara tersebut terus dilakukan. Atau dengan pengertian lain, yakni suatu cara untuk melaksanakan dan merencanakan kurikulum pendidikan pada suatu satuan pendidikan agar menghasilkan sebuah kurikulum yang kolaboratif, akomodatif, sehingga menghasilkan kurikulum yang ideal.


DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Heri. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. ALFABETA : Bandung
Hasan, Hamid S. 2009. Evaluasi Kurikulum. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dan PT Remaja Rosdakarya : Bandung
Nasution, S. 2008. Asas-Asas Kurikulum. PT Bumi Aksara : Jakarta
Somantrie, Hermana. 1989. Perekyasaan Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah. Penerbit Angkasa : Bandung
Toenlioe, Anselmus JE. 2017. Pengembangan Kurikulum : Teori, Catatan Kritis, dan Panduan. PT Refika Aditama : Bandung
Usman, Moch Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. PT Remaja Rosdakarya : Bandung
Widyastoro, Herry. 2014. Pengembangan Kurikulum Di Era Otonomi Daerah. PT Bumi Aksara : Jakarta

TEORI EVOLUSI DAN REKAYASA PRODUKSI MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT dan AL – QUR’AN ( IAD )

TEORI EVOLUSI DAN REKAYASA PRODUKSI MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT dan AL – QUR’AN Diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata ku...